Tampilkan postingan dengan label Tadabur Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tadabur Hadits. Tampilkan semua postingan

Malu Adalah Refleksi Keimanan


عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرُو اْلأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ" (متفق عليه)
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amru Al-Anshari Al-Badri ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari ungkapan kenabian yang pertama adalah, ‘Jika kamu tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.’ (HR. Bukhari Muslim)

Takhrij Hadits
1.       Hadits ini merupakan hadtis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya, dalam beberapa tempat, diantaranya adalah dalam :
a.       Kitab Ahaditsul Anbiya’, Bab Hadits Al-Ghar, hadits no 3224 & 3225.
b.      Kitab Al-Adab, Bab Idza Lam Tastahyi Fashna’ Ma Syi’ta, hadits no 5655.
2.       Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya Sunan Ibni Majah, dalam Kitab Az-Zuhud, Bab Al-Haya’, hadits no 4137.
3.       Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Musnad As-Syamiyin, Bab Baqiyati Hadits Abi Mas’ud Al-Badri Al-Anshari ra, dalam tiga tempat, yaitu pada hadits no 16470, 16478 & 16485.

Catatan Takhrij Hadits :
Hadits ini memiliki syahid (hadits dengan matan yang sama namun diriwayatkan melalui jalur periwayatan yang berbeda) yang menguatkan riwayat Abu Mas’ud di atas, yaitu riwayat lain dari  Hudzaifah bin Yaman dengan matan yang sama seperti riwayat Abu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Musnad Al-Anshar, Bab Hadits Hudzaifah bin Yaman, hadits no 22170 & 22344

Makna Hadits Secara Umum
Hadits singkat dan sederhana ini menggambarkan sebuah nilai yang demikian luhur, yang ternyata juga merupakan nilai yang ditanamkan oleh para nabi dan Rasul radhiallahu anhum ajma’in sebelum nabi Muhammad SAW, yang apabila nilai ini menghiasi diri dan hati setiap muslim, maka insya Allah ia akan terjaga dari segala bentuk perbuatan buruk dan tercela atau dengan kata lain, akan terjaga keimanannya. Nilai yang luhur tersebut adalah sebuah sifat yang disebut dengan al-haya’, yaitu sifat malu yang didasari oleh keimanan kepada Allah yang akan melahirkan sebuah sikap untuk senantiasa menjaga diri dari segala perbuatan dosa dan mungkar, bahkan senantiasa memotivasinya untuk senantiasa beramal shaleh dan beretika (berakhlakul karimah), terhadap siapapun dan dimanapun ia berada. Sifat ini merupakan buah dari keimanan yang tertanam di dalam hati sanubari setiap muslim, yang tercermin dalam implementasi untuk senantiasa memiliki rasa malu, bila mengerjakan perbuatan yang tidak sesuai dengan ruh Islam serta mendorongnya untuk melakukan segala amalan yang terkait dengan keimanan kepada Allah SWT.
Sifat al-haya’ ini menjadi pelajaran yang sangat berharga yang diajarkan dari masa kenabian yang pertama (yaitu masa kenabian sebelum nabi Muhammad SAW) yang ‘wajib’ menghiasi bagi setiap muslim. Artinya bahwa para Nabi dan Rasul as sepakat untuk menanamkan nilai ini ke dalam hati sanubari umatnya, bahkan sifat ini seolah menjadi sifat wajib atau sifat utama bagi para Nabi dan Rasul ra sendiri. Oleh karena itulah, kita mendapatkan sabda dari Rasulullah SAW, ‘Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari ungkapan kenabian yang pertama adalah, ‘Jika kamu tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.’ (HR. Bukhari). Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Barinya mengemukakan bahwa makna dari sabda nabi ( كلام النبوة ) ‘ungkapan kenabian’, yang dimaksud adalah ( مما اتفق عليه الأنبياء ) sesuatu yang disepakati oleh para nabi. Artinya para nabi sepakat dengan nilai ini. Kemudian makna dari ( النبوة الأولى ) maksudnya adalah dari para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Makan sejatinya, sifat ini juga menjadi sifat wajib bagi setiap muslim, khususnya bagi para du’at (baca ; aktivis da’wah), khususnya dalam mengemban amanah da’wah di muka bumi ini.

Pelajaran Hadits
Ada beberapa hikmah atau pelajaran penting yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.       Sebagai agama yang universal, Islam tidak hanya mengedepankan aspek pemenuhan pelaksanaan hukum syariat kepada pemeluknya hanya dari sisi pendekatan penegakan aturan semata; siapa melanggar mendapatkan hukuman dan siapa melaksanakan mendapatkan pahala. Namun Islam sangat mengedepankan sisi al-wa’yu ( الوعي ) atau kesadaran dan penghayatan ketika melaksanakan suatu aturan tersebut. Dalam artian bahwa syariah atau hukum dan perundangan yang terdapat dalam Dinul Islam yang mengatur seluruh dimensi kehidupan, pada hakekatnya tidaklah bertujuan untuk membatasi kaum muslimin, namun hukum tersebut substansinya adalah untuk menjaga nilai-nilai yang sudah mengakar menjadi satu dengan keimanan, agar terjaga dengan baik dan tidak rusak. Oleh karena itulah, Islam juga menumbuhkan sebuah sikap dan mentalitas yang memotivasi umatnya untuk mentaati hukum syariah, tanpa ada rasa keberatan atau ketrepaksanaan untuk mengikuti hukum tersebut. Dan salah satu bentuk penumbuhan sikap tersebut adalah dengan cara memperkaya hati dengan sikap al-haya’, yaitu sikap malu yang didasari karena keimanan kepada Allah SWT. Karena dengan sikap al-haya’ ini, setiap muslim akan malu apabila tidak melaksanakan hukum Allah  SWT, atau akan malu apabila melanggar aturan Allah SWT, bahkan akan malu apabila tidak beretika sebagaimana diajarkan dalam ajaran dinul Islam (baca; berakhlakul karimah). Sehingga apabila diibaratkan dengan sifat al-haya’ ini, tanpa adanya hukum pun, setiap muslim tidak akan melakukan pelanggaran hukum atau tidak akan melakukan tindakan yang tercela. Walaupun apabila ditinjuar dari sisi kehidupan sosial, hukum tetap perlu diadakan untuk menjaga keharmonian kehidupan sosial.
2.       Bahwa ajaran para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah SWT ke muka bumi, pada dasarnya memiliki persamaan prinsip dan intisari yang terkandung dalam nilai-nilai yang diajarkan oleh mereka. Karena pada dasarnya semua yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasul ra tersebut, merupakan wahyu yang bersumber dari Allah SWT. Maka jika kita perhatikan, semua Nabi dan Rasul ra tanpa terkecuali mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mentauhidkan Allah SWT, beriman kepada hari akhir, berbudi pekerti yang luhur, melakukan amal shaleh, dsb. Dan salah satu nilai utama yang terkandung dalam ajaran semua Nabi dan Rasul ra dan disepakati oleh mereka adalah anjuran untuk senantiasa memiliki sifat al-haya’, yaitu rasa malu yang lahir dari adanya keimanan kepada Allah SWT.
3.       Sikap al-haya’ atau malu, didefinisikan oleh Syekh Mustafa Dieb Al-Bugha dengan ‘menjauhkan diri dari perbuatan yang tercela dan menahan diri dari mengerjakan sesuatu atau juga meninggalkan sesuatu karena khawatir mendapatkan celaan dan cacian yang bertentangan dengan keimanan.’ Namun yang perlu digaris bawahi dari sifat al-haya’ atau malu adalah bahwa al-haya’ merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan. Ia lahir dan tumbuh bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya keimanan dalam diri seseorang. Semakin tebal keimanannya kepada Allah SWT, maka akan semakin tinggi pula sifat al-haya’nya. Oleh karena itulah dalam beberapa hadits kita mendapatkan Nabi Muhammad SAW mengaitkan antara iman dengan al-haya’. Diantaranya adalah dalam riwayat berikut :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اْلإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ اْلإِيمَانِ (رواه البخاري)
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Iman itu memiliki enam puluh sekian cabang. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang keimanan.’ (HR.Bukhari)

Ibnu Qayim Al-Jauzi dalam Tahdzib Madarijis Salikin mengemukakan, bahwa sifat al-haya’ dilihat dari akar katanya berasal dari ( الحياة ) al-hayah (kehidupan). Ia berarti pula al-haya ( الحيا ) yang berarti hujan. Sementara dilihat dari sisi ‘kehidupan hati’, sifat al-haya’ merupakan kekuatan akhlak; dan orang yang sedikit al-haya’nya (rasa malunya), adalah tanda ‘matinya hati dan ruhnya. Dan semakin hati seseroang itu hidup, maka akan semakin tinggi pula sifat al-haya’ nya. Penulis melihat (terkait dengan apa yang dikemukakan oleh Syekh Ibnu Qayim Al-Jauzzi di atas, bahwa keterkaitan antara al-haya’ (malu) dengan al-hayah (kehidupan) dan al-haya (hujan), adalah bahwa orang yang memiliki rasa malu, maka pada hakekatnya ia adalah orang yang ‘mawas’ ketika menjalani kehidupan. Artinya sifat malu merupakan sifat yang sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan di dunia. Insya Allah rasa malu tersebut akan menyelematkannya dari segala bentuk kemungkaran dan kebathilan. Dan rasa malu itu apabila telah menghiasi pribadi seorang muslim, maka ia akan seperti hujan yang menyirami dan meneduhkan serta menumbuhkan segala kebaikan dalam hatinya dan akan terimplementasi kehidupan, sebagaimana hujan juga akan menumbuhkan berbagai tumbuhan dan meneduhkan bumi atau dengan kata lain, ia akan menjadi energy untuk mendapatkan keridhaan Ilahi.
4.       Berkenaan dengan sifat al-haya’ ini, dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW menggambarkan tentang hakekat dari sifat al-haya’ sekaligus sebagai bentuk penggambaran dari buah yang akan didadapatkan seseorang aapabila menghiasi diri dengan sifat ini. Riwayat tersebut adalah sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ اْلإِسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ اْلآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ (رواه الترمذي)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Malulah kalian kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.’ Sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah malu dan Alhamdulillah.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Bukan seperti itu, akan tetapi malu kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya adalah bahwa engkau menjaga kepala dan apa yang di dalamnya, engkau menjaga perut dan apa yang ada di sekitarnya (kemaluan), engkau senantiasa mengingat kematian dan kefanaan. Dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat, ia akan meninggalkan perhiasan kehidupan dunia. Dan barang siapa yang melakukan itu semua, sungguh ia telah malu kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.’ (HR. Turmudzi)
5.       Terdapat perbedaan pendapat berkenaan dengan hukum bersifat al-haya’, sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas; apakah hukumnya wajib (menjadi suatu keharusan), ataukah tidak? Perbedaan pendapat ini berpangkal dari pemahaman terhadap hadits di atas sebagai berikut :
1)      Pendapat pertama adalah pendapat yang mengatakan bahwa sifat al-haya’ merupakan suatu keharusan (wajib). Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW dalam hadits di atas, “Jika kamu tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.”. Ulama mengatakan bahwa ungkapan tersebut bertujuan sebagai teguran keras dan celaan terhadap orang yang tidak memiliki rasa malu. Karena jika orang sudah tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendaknya; baik atau buruk, bermanfaat atau justru bermadharat, dsb. Dan berbuat sesuai kehendak hati yang diiringi dengan hawa nafsu sudah barang tentu menjadi perbuatan dosa. Karena salah satu fungsi iman adalah mengontrol hawa nafsu.
2)      Pendapat kedua adalah pendapat yang memengatakan bahwa sifat al-haya’ adalah tidak wajib. Hal ini juga didasarkan pada hadits di atas, hanya saja mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi SAW ‘berbuatlah sesukamu’; maksudnya adalah mubah (boleh) untuk berbuat sekehendaknya. Dan selama perbuatan sekehdaknya tersebut tidak melanggar syariah, maka hukumnya masih boleh-boleh saja.
Dari kedua pendapat tersebut, baik Ibnu Qayim al-Jauzi dalam Tahdzib Madarijis Salikin maupun Syekh Musthafa Dieb Al-Bugha dalam Al-Wafi, merajihkan pendapat yang pertama; yaitu bahwa sabda nabi SAW “berbuatlah sekehendakmu” sebagai sebuah teguran keras dan celaan. Oleh karenanya, setiap muslim harus menghiasi dirinya dengan sifat al-haya’ ini.
6.       Sifat Malu ternyata memiliki beragam bentuk dan warnanya. Adalah Ibnu Qayim Al-Jauzi membagi sifat malu ini menjadi sepuluh macam, sebagaimana yang beliau kemukakan dalam Tahdzib Madarijis Salikin, yaitu sebagai berikut :
1)      Malu karena berbuat salah, yaitu seperti malunya Nabi Adam as yang melarirkan diri dari Allah SWT saat di surga. Allah SWT bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau lari dari-Ku wahai Adam?’ Adam as menjawab, ‘Tidak wahai Tuhanku, tetapi karena aku merasa malu terhadap-Mu.’
2)      Malu karena keterbatasan diri, yaitu seperti rasa malunya para Malaikat yang senantiasa bertasbih di waktu siang dan malam dan tidak pernah sesaatpun berhenti bertasbih. Namun begitu hari kiamat tiba, mereka berkata, ‘Maha Suci Engkau, kami belumlah menyembah kepada-Mu dengan penyembahan yang sebenar-benar-Nya.
3)      Malu karena bentuk pengagunggan atau malu karena memiliki ma’rifat kepada Allah SWT, yaitu bentuk malu karena mengagungkan Allah SWT. Dan sejauh ia semakin ma’rifat kepada Allah, maka sejauh itu pula rasa malunya terhadap Allah SWT.
4)      Malu karena kehalusan budi, yaitu seperti rasa malunya Rasulullah SAW saat mengundang orang-orang pada acara walimah Zainab. Karena mereka tidak segera pulang, maka beliau bangkit dari duduknya dan merasa malu untuk mengatakan kepada mereka, ‘Pulanglah kalian.’
5)      Malu karena menjaga kesopnan, seperti malunya Ali bin Abi Thalib ketika hendak memnta baju besi kepada Rasulullah SAW karena dia menjadi suami dari putri beliau; Fatimah.
6)      Malu karena merasa diri terlalu hina di hadapan Allah SWT, yaitu seperti malunya hamba yang memohon berbagai mecam keperluan kepada Allah, dengan menganggap dirinya terlalu hina untuk permohonan tersebut.
7)      Malu karena cinta, yiatu rasa malunya orang yang mencintai di hadapan orang yang dicintainya. Bahkan tatkala terlintas sesuatu di dalam hatinya saat berjauhan dengan orang yang dicintainya, dia tetap marasa malu, tanpa diketahui apa sebabnya, apalagi jika orang yang dicintainya muncul secara tiba-tiba di hadapannya.
8)      Malu karena ubudiyah (penghambaan diri kepada Allah), yaitu rasa malu yang bercampur dengan cinta dan rasa takut. Seorang hamba merasa penghambannya kepada Allah kurang, sementara kekuasaan Dzat yang disembahnya terlalu agung, sehingga penghambaannya dirinya yang penuh kekurangan menjadikannya malu dihadapan Allah SWT.
9)      Malu karena kemuliaan, yaitu rasa malu seorang hamba yang memiliki jiwa yang agung tatkala berbuat kebaikan atau memberikan sesuatu kepada orang lain. Sekalipun dia sudah berkorban dengan mengeluarkan sesuatu, toh di a masih merasa malu karena kemuliaan jiwanya.
10)   Malu terhadap diri sendiri, yaitu rasa malu seseorang yang memiliki jiwa besar dan mulia, sekiranyapun dirinya merasa ridha terhadap kekurangan dirinya dan merasa puas melihat kekurangan orang lain. Dia merasa malu terhadap dirinya sendiri, sehingga seakan-akan dia mempunyai dua jiwa, yaitu yang satu merasa malu terhadap yang lainnya. Ini meupkana rasa malu yang paling sempurna. Sebab jika seorang hamba merasa malu terhadap diri sendiri, maka dia lebih layak untuk merasa malu terhadap orang lain.
7.       Selain sebagai sifat yang harus menghiasi hati setiap muslim, Al-Haya’ juga memiliki fadhilah atau benefit yang mulia. Adapun diantara benefit dari sifat al-haya’ adalah :
1)      Akan mendatangkan segala kebaikan, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat berikut :
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ (متفق عليه)
Dari Imran bin Hushain ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah sifat al-haya’ (malu karena Allah SWT) itu datang, melainkan dengan (membawa) kebaikan.’ (Muttafaqun Alaih)
2)      Al-Haya’ merupakan sunnah para Rasul utusan Allah SWT. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits :
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ الْحَيَاءُ وَالتَّعَطُّرُ وَالسِّوَاكُ وَالنِّكَاحُ (رواه الترمذي)
Dari Abu Ayyub ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Ada 4 hal yang menjadi sunnah para Rasul, yaitu; al-haya’, memakai wewangian, bersiwak dan nikah.’ (HR. Turmudzi)
3)      Al-Haya’ akan menjadi penghias pribadi bagi setiap muslim. Hal ini sebagaimana disabdakan dalam hadits berikut :
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ (رواه الترمذي)
Dari Anas ra berkta, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah perbuatan keji itu dikerjakan dalam sesuatu, melainkan akan mengotorinya. Dan tidaklah sifat al-haya’ (malu karena Allah SWT) dilakukan dalam sesuatu, melainkan ia akan menghiasinya.’ (HR. Turmudzi)
4)      Al-Haya’ akan mengantarkan seseorang ke dalam surga. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ مِنْ اْلإِيمَانِ وَاْلإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ (رواه الترمذي)
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Sifat Al-Haya’ (malu karena Allah SWT) adalah dari iman. Dan iman itu (tempatnya) adalah di surga. Sementara al-badza’ (perkataan yang kotor dan keji) adalah dari kerasnya hati. Dan kerasnya hati (tempatnya) adalah di neraka.’ (HR. Turmudzi).
5)      Al-haya’ merupakan sebuah sifat yang dicintai oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam hadits :
عَنْ عَطَاءٍ عَنْ يَعْلَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يَغْتَسِلُ بِالْبَرَازِ فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ (رواه الترمذي)
Dari Ya’la ra bahwasanya Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki sedang mandi dengan memakai sarung. Setelah itu beliau naik ke mimbar lalu memuji Allah SAW dan bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT Maha Pemurah, Maha Hidup (kekal), Maha Suci, mencintai sifat al-haya dan mencintai orang yang menutup auratnya. Maka apabila salah seorang diantara kalian mandi, hendaklah ia menutupi auratnya.’ (HR. Turmdzi)
6)      Al-Haya’ merupakan intisari akhlak dalam Islam. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam hadtis berikut :
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْحَيَاءُ (رواه ابن ماجه)
Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak dinul Islam adalah al-haya’.’ (HR. Ibnu Majah)


Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ الله ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ، كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ، يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتْ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ (رواه الترمذي)
Dari Abu Abbas Abdullah bin Abbas ra berkata, ‘Saya pernah berada di belakang Rasulullah SAW pada suatu hari, beliau bersabda, ‘Wahai anak, saya hendak mengajrimu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu; jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya bersamamu; jika engkau meminta, mintalah kepada Allah; jika engkau memnta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, jika umat manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’ (HR. Turmudzi)

Takhrij Hadits
  1. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dalam Kitab Shifatil Qiyamah War Raqa’iq Wal Wara’ ‘An Rasulillah, hadits no 2440.
  2. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya, dalam bidayah musnad Ibni Abbas ra, hadits no 2537.

Pelajaran Hadits :
 

1.    Cara Nabi SAW memberikan nasehat yang sangat bijaksana, dimana beliau memberikan nasehat kepada Ibnu Abbas dengan beberapa metode :
  • a.    Beliau memulai sapaan dengan panggilan “Ya Ghulam” (wahai anak muda) kepada Ibnu Abbas. Ghulam umumnya digunakan untuk memanggil seorang anak yang menjelang dewasa, atau untuk memanggil anak yang baru dewasa. Sapaan seperti ini tentunya akan menentramkan siapapun yang disapanya, sehingga ia akan lebih bisa memperhatikan isi dari nasehat tersebut.
  • b.    Bahwa Nabi SAW memberikan nasehat kepada Ibnu Abbas ra ketika ia membonceng di belakang Nabi SAW. Dalam kondisi seperti ini, tentulah kedekatan antara Nabi SAW dengan Ibnu Abbas menjadikan nasehat yang diberikan akan menjadi sangat efektif dan muah diterima dalam hati.
  • c.    Nabi SAW juga memulai memberikan nasehat dengan ungkapan; ‘Inni u’allimuka kalimaat’ (aku hendak mengajarimu beberapa kalimat). Artinya bahwa Nabi SAW menyampaikan kepada Ibnu Abbas, ada beberapa poin nasehat yang akan disampaikan beliau kepadanya. Penyampaian seperti ini tentu akan membuka memori Ibnu Abbas untuk menyimpan beberapa poin tersebut.
2.    Adapun nasehat yang disampaikan Rasulullah SAW kepada Ibnu Abbas adalah beberapa poin penting, yaitu :
  • a.    Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Maksud dari jagalah Allah adalah pesan untuk berpegang teguh terhadap perintah-perintah Allah dan tidak melanggar larangan-larangan Allah SWT. Atau dengan kata lain, pesan untuk senantiasa taat terhadap syariat Allah SWT. Dan apabila kita menjaga syariat dan hukum-hukum Allah SWT, maka niscaya Allah SWT akan menjaga dan memelihara kita, dimanapun kita berada. Karena Allah SWT adalah sebaik-baik pemelihara dan penjaga kita. Dalam Al-Qur’an disebutkan :
قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلاَّ كَمَا أَمِنتُكُمْ عَلَى أَخِيهِ مِن قَبْلُ فَاللّهُ خَيْرٌ حَافِظاً وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ٦٤
 Berkata Ya`qub: "Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?". Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS.Yusuf : 64)
  • b.    Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya bersamamu. Ini adalah benefit kedua apabila kita menjaga hukum dan syariat Allah SWT, yaitu bahwa Allah SWT akan senantiasa bersama dengan kita. Maksudnya adalalah bahwa Allah SWT akan selalu menolong, membela, dan melindunginya. Dalam poin ini terdapat hikmah penting yang tersirat, yaitu bahwa pertolongan Allah SWT sangat erat kaitannya dengan aspek menjaga hukum dan syariat Allah SWT. Maka jika ingin mendapatkan nashrullah, kita harus taat terhadap hukum dan syariat Allah SWT.  
  • c.    Jika meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Dalam poin ini sangat jelas pesan Rasulullah SAW kepada ibnu Abbas dan juga kepada umatnya untuk senantiasa meminta sesuatu dan bersandar hanya kepada Allah SWT. Karena Allah SWT lah yang Maha Mengabulkan segala doa permntaan hamba-Nya. Dan larangan meminta kepada selain Allah. Allah SWT berfirman :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Ghafir : 60)
  • d.    Jika meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Sebagaimana poin sebelumnya bahwa kita hanya boleh meminta kepada Allah, maka kita pun juga hanya boleh meminta pertolongan kepada Allah SWT. Karena jika meminta pertolongan kepada Allah, niscaya Allah SWT akan memberikan pertolongan-Nya dan menganugerahkan kemenangan. Allah SWT berfirman :
إِن يَنصُرْكُمُ اللّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا الَّذِي يَنصُرُكُم مِّن بَعْدِهِ وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكِّلِ الْمُؤْمِنُونَ ١٦٠
Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu'min bertawakkal. (QS. Ali Imran : 160)
  • e.    Yang dapat memberikan manfaat atau madharat, hanyalah Allah SWT. Poin ini adalah “buah” dari meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT. Karena hanya Allah lah yang bisa memberikan pertolongan dan kemenangan. Oleh karenanya, jika suatu kaum atau satu organisasi atau satu pasukan atau satu negara sekalipun berniat untuk memberikan mudharat kepada kita, niscaya itu tidak akan pernah terjadi tanpa adanya “izin” dari Allah SWT. Sebaliknya jika suatu kaum, kelompok, organisasi atau negara sekalipun berniat untuk memberikan kebaikan kepada kita, maka segala upaya mereka tidak akan pernah terjadi sama sekali, tanpa adanya “izin” dari Allah SWT. Kuasa Allah SWT meliputi segala sesuatu. Allah SWT berfirman :
وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدُيرٌ ١٧
Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS. Al-An’am : 17)
  • f.    Pena telah diangkat dan kertas telah kering. Artinya segala sesuatu yang terjadi, pasti sudah tertulis di Lauhil Mahfudz sesuai dengan kehendak Allah. Maka oleh karenanya, dalam menjalani kehidupan dan perjuangan, yang terpenting dilakukan adalah ikhtiar dan usaha yang maksimal. Kita hanya diperintahkan untuk berusaha, adapaun hasil adalah diserahkan kepada Allah SWT. Jika dalam perjalanan terjadi sesuatu, maka pastilah hal tersebut terdapat hikmah yang besar karena hal tersebut terjadi adalah karena izin dan kehendak Allah SWT.  

Wallahu A’lam bis shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag



عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ، "اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ"  - رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح
Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah ra dan Abu Abdurrahman Mu’adz bin Jabal ra menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada. Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan , niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulihah manusia dengan akhak terpuji.’ (HR. Turmudzi dan ia berkata, ‘Ini adalah hadits hasan’ dan di sebagian kitab disebutkan sebagai hadits hasan shahih).

Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan melalui dua jalur sanad :
Pertama : Jalur Sanad Abu Dzar Al-Ghiffari sebagai berikut :
  1. Hadits diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dalam Sunannya, Kitab Al-Birr was Shillah an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a fi Mu’asyaratinnas, hadits no 1910 dengan sanad dari Habib bin Abi Tsabit dari Maimun bin Abi Syabib, dari Abu Dzar ra.
  2. Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya; Musnad Al-Nashar, hadits Abi Dzar al-Ghiffari, hadits no 20392, dan no 20435, 20556 dengan sanad dari Habib bin Abi Tsabit dari Maimun bin Abi Syabib, dari Abu Dzar ra.

Kedua : Jalur Sanad Mu’adz bin Jabal
  1. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Musnad Al-Anshar, Hadtis Mu’adz bin Jabal, hadits no 21047 dengan sanad dari Habib bin Abi Tsabit, dari Maimun bin Abi Syabib dari Mu’adz bin Jabal ra.
  2. Diriwayatkan juga oleh Imam At-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir, hadits no 16717 dan 16718. dengan sanad dari Habib bin Abi Tsabit, dari Maimun bin Abi Syabib dari Mu’adz bin Jabal ra.


Hikmah Hadits
1.    Perintah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Dari segi bahasa, taqwa berasala dari kata “waqo”, yang berarti ‘menjaga, melindungi, sikap waspada dan penjauhan diri dari hal-hal yang membahayakan atau dapat mencelakakan. Adapun secara istilah, taqwa adalah “menjauhkan diri dari kemurkaan, azab, teguran dan ancaman Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya serta menjauhi hal-hal yang dapat mengarahkannya pada larangan-larangan Allah SWT.Hakekattakwadigambarkandalamkisahberikut : Pernah suatu ketika Umar bin Khattab bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang taqwa. Ubai menjawab, ‘Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh duri?’ Umar menjawab, ‘ya!’. Ubai bertanya lagi, ‘Apa yang anda lakukan saat itu?’ Umar menjawab, ‘ Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati.’ Ubai berkata lagi, ‘Itulah taqwa.”
Berpijak dari jawaban Ubai di atas, Utz Sayid Qutub mengemukakan, ‘Itulah taqwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan… Jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, haparan semu atas segala sesuatu yang tidak bisa diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti… dan masih banyak duri-duri yang lainnya….”

2.    Bahwa takwa itu hendaknya dilakukan dimanapun kita berada.
Artinyabahwatakwabukanlahsesuautu yang hanyamenghiasimanusiaketika di masjid saja, atau di halaqahsaja, atau di majelis-majelisdzikirsaja.Namunhendaknyatakwasenantiasamenghiasimanusiadimana pun iaberada; dimasjid, di kantor, di jalan, di pasar, di rumah, di jalan, di masyarakat, di pemerintahan, dsb. Karena Allah SWT mengetahuisegalagerakgerikmanusiadimanapuniaberada. Baikketikaseorangdiri, berdua, bertiga, dsb. Allah SWT berfirman :
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ هُوَ رَابِعُهُمْ وَلاَ خَمْسَةٍ إِلاَّ هُوَ سَادِسُهُمْ وَلاَ أَدْنَى مِن ذَلِكَ وَلاَ أَكْثَرَ إِلاَّهُوَ مَعَهُمْ أَيْنَمَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Tidakkahkamuperhatikan, bahwasesungguhnya Allah mengetahuiapa yang ada di langitdanapa yang ada di bumi? Tiadapembicaraanrahasiaantaratiga orang, melainkanDia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraanantara) lima orang, melainkanDia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraanantara (jumlah) yang kurangdariituataulebihbanyak, melainkanDiaadabersamamereka di manapunmerekaberada.KemudianDiaakanmemberitakankepadamerekapadaharikiamatapa yang telahmerekakerjakan. Sesungguhnya Allah MahaMengetahuisegalasesuatu. (QS. Al-Mujadilah : 7)

3.    Bahwa perbuatan baik bisa menghapuskan ‘dosa’ perbuatan buruk.
Bahwa perbuatan baik bisa menghapuskan dosa-dosa perbuatan buruk. Oleh karenanya, apabila karena kekhilafan kemudian kita melakukan perbuatan yang buruk, maka hendaknya ditutupi dengan perbuatan yang baik, baik berupa ibadah maupun amal shaleh pada umumnya. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam hadtis :
Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian sekiranya ada sungai di dekat pintu rumah salah seorang diantara kalian lalu ia mandi setiap hari lima kali, apakah akan tersisi kotoran di tubuhnya? Mereka menjawab, ‘Tidak akan tersisa kotoran di tubuhnya sedikitpun.’ Beliau bersabda, seperti itulah perumpamaan shalat lima waktu, dimana dengan shalat tersebut menghapuskan dosa-dosanya.’ (Muttafaqun Alaih)

4.    Anjuran untuk berakhlak karimah
Bahwa akhlak merupakan ciri mendasar orang yang bertakwa. Dan akhlak karimah merupakan amalan yang paling banyak dapat mengantarkan seseorang masuk ke dalam surga. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ - رواه الترمذي

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang hal apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga? Beliau menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.’ Lalu beliau ditanya tentang hal apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka? Beliau menjawab, ‘Lisan dan kemaluan.’ (HR. Turmudzi)

Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag


عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّاد ابْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ (رواه مسلم)
Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus ra, dari Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segalasesuatu .  Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalianmenyembelih  berlakulah baik dalam hal itu; hendaklah kalian mengasah pisaunya danmenyenangkan hewan sembelihannya. (HR. Muslim)

Takhrij Hadits
1.       Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya ; Kitab As-Shaid wa Ad-Dzaba’ih wama Yu’kalu Minal Hayawan, Bab Al-Amr bi ihsanidz Dzabhi Wal Qatli wa Tahdidis Syafrah, hadits no 3615.
2.      Diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud dalam Sunannya; Kitab Ad-Dhahaya, Bab Fin Nahyi An Tasbiral Baha’im War Rifqa Bid Dzabihah, hadits no 2432.
3.       Diriwayatkan juga oleh Imam Turmudzi dalam Sunannya; Kitab Ad-Diyat an Rasulillah Shallallahu Alaihi Wasallam, Bab Ma Ja’a Fin Nahyi Anil Mutslah, Hadits No 1329.
4.      Diriwayatkan juga oleh Imam Nasa’i dalam beberapa tempat dalam Sunannya; yaitu dalam :
a.       Kitab Ad-Dhahaya, Bab Al-Amr bi Ihdadis Syafrah, hadits no 4329.
b.      Kitab Ad-Dhahaya, Bab Dzikr Al-Munfalitatil la Yuqdaru AlaAkhdziha, hadits no 4335.
c.       Kitab ad-Dhahaya, Bab Husnidz Dzabhi, hadits no 4336, 4337 dan 4338
5.       Diriwayatkan juga oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunannya; Kitab Ad-Dzaba’ih, Bab Idza Dzabahtum Fa’ahsinud Dzabha, hadits no 3161.
6.      Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya; Musnad As-Syamiyin, hadits Syadad bin Aus ra, hadits no 16490, 16494, 16506 dan 16516.

Makna Hadits
Terdapat beberapa hikmah yang bisa dipetik dari hadtis di atas :
1.       Perintah untuk senantiasaberbuat ihsan.
Bahwa Allah SWT mewajibkan kepada kaum muslimin untuk senantiasaberbuat ihsan. Berbuatihsan yang dimaksuddalamhadits di atasadalahberbuatkebaikan.Kewajban berbuat ihsan ini juga dikuatkan dengan firman Allah SWTdalam Al-Qur’an, diantaranyaadalahsebagaiberikut :
وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴿١٩٥﴾
Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah :195)

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman :
وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِي اْلأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٧٧﴾
dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashsas : 77)


2.      Luasnya cakupan makna ihsan
Bahwa berbuat ihsan, cakupannya sangat luas. Secara bahasa ihsan artinya (puncak) kebaikan, atau ikhlas dan berbuat sebaik mungkin (itqan).  Sedangkan secara istilah, ihsan adalah mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah SWT dengan menyempurnakan pelaksanaannya seakan-akan kita “melihat” Allah SWT saat beribadah, atau (jika tidak mampu hingga ke derajat tersebut) kita merasakan bahwa Allah SWT menyaksikan apapun yang kita kerjakan hingga kepada hal yang sekecil-kecilnya.  Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits Jibril :
فَأَخْبِرْنِي عَنْ الإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Kemudian ia berkata lagi: “Beritahukanlah padaku tentang Ihsan.“ Rasulullah s.a.w. menjawab: "hendaklah engkau menyembah kepada Allah seolah-olah engkau dapat melihatNya, tetapi jikalau tidak dapat seolah-olah melihatNya, maka sesungguhnya Allah itu dapat melihatmu.“ (HR. Muslim)

Cakupan makna ihsan, meliputi antara lain :
a.       Ihsan kepada sesama manusia, khususnya kepada orang tua, kerabat dan manusia pada umumnya. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah SWT :
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِالْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً﴿٣٦﴾
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (QS. An-Nisa’ : 36)
b.      Ihsan kepada hewan dan tumbuhan
Selain diperintahkan untuk berbuat ihsan terhadap manusia, kita juga diperintahkan untuk berbuat ihsan kepada hewan dan juga kepada tumbuhan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas:
فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ (رواهمسلم)
Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih  berlakulah baik dalam hal itu; hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya. (HR. Muslim)
Dalam hadits di atas secara khsus diperintahkan dua hal, yaitu :
1)    Berbuat ihsan dalam membunuh, baik membunuh manusia karena alasan yang dibenarkan Allah SWT, seperti membunuh pelaku kejahatan yang sudah difonis untuk dihukum mati. Maka hukuman tersebut perlu dilaknsakan dengan cara yang baik dan tidak menyakitinya. Atau membunuh hewan-hewan yang dianggap berbahaya atau buas dan mengancam nyawa, juga harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Misalnya tidak boleh membunuhnya dengan membakar atau menyiksanya.
2)    Berbuat ihsan dalam menyembelih, yaitu dengan cara menajamkan pisau yang digunakan untuk menyembelih dan kedua menyenangkan hewan sembelihannya. Atau dengan kata lain memperlakukan hewan yang akan disembelih dengan baik, sepeti memberi makan dan minum dengan baik, kandang yang baik dsb. Dan ketika disembelih juga dilakukan dengan baik, seperti dihadapkan ke kiblat, membaca basmalah, pisau yang digunakan harus tajam, dsb.

Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

;;