Meraih Kebaikan Yang Lebih Mulia Dari Dunia & Segala Isinya
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 18.00
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا رواه مسلم والترمذي والنسائي وأحمد Dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dua rakaat shalat sunnah fajar, lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim, Turmudzi, Nasa'i & Ahmad)
Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa seorang muslim seyogianya adalah seseorang yang memiliki visi jangka panjang, yaitu visi ukhrawi (baca ; visi untuk kehidupan akhiratnya kelak). Sehingga dari visi seperti ini, ia akan memiliki orientasi bahwa kebaikan dalam pandangannya adalah kebaikan yang berdimensi pada kebaikan akhirat, bukan hanya kebaikan yang berdimensi untuk benefit duniawi semata. Karena orang yang memiliki orientasi kehidupan dunia, ia hanya akan mendapatkan dunia saja dan ia tidak akan mendapatkan apapun di akhirat kelak. Sebaliknya, seseorang yang memiliki visi akhirat yang mencari keridhaan Allah SWT, maka ia akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman :
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَكَانَ اللهُ سَمِيْعًا بَصِيْرًا
"Barang siapa yang menghendaki pahala di dunia saja, (maka ia merugi), karena di sisi Allah lah pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Melihat lagi Maha Mendengar.” (QS. An-Nisa' : 134)
2. Kendatipun dunia memiliki keindahan yang mempesona, yang terkadang membuat banyak orang terperdaya, namun ternyata ada hal yang jauh lebih baik di bandingkan dengan keindahan dunia yang mempesona dengan segala isinya. Namun justru seringkali kebaikan yang lebih baik daripada dunia ini diabaikan oleh banyak orang. Karena memang kebaikan ini adalah kebaikan yang tidak tampak oleh kasat mata dan tidak teraba oleh indra manusia di dunia. Ia hanya diyakini oleh mereka-mereka yang memiliki keimanan yang kokoh kepada Allah SWT. Dalam riwayat lainnya Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ مُسْتَوْرِدِ بن شَدَّادٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ - رواه مسلم
Dari Mustaurid bin Syadad, ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah dunia ini dibandingkan dengan akhirat kecuali seperti jari yang dicelupkan salah seorang diantara kalian ke dalam air laut, lalu ditarik kembali jari tersebut. Lihatlah, betapa sedikit air yang menempel di jari itu” (HR Muslim)
3. Bahwa kebaikan yang lebih mulia dibandingkan dengan dunia dengan segala isinya, ternyata adalah sesuatu yang ringan untuk dilakukan, yaitu shalat sunnah dua rakaat sebelum fajar, atau sering disebut dengan sunnatul fajr. Shalat sunnah ini merupakan shalat sunnah ringan dikerjakan, karena bacaan yang digunakan dalam shalat sunnah ini adalah bacaan ringan, jumlah rakaatnya pun juga ringan, hanya dua rakaat yang dilakukan sebelum shalat subuh (qabliyah subuh).
4. Meskipun ringan untuk dikerjakan, ternyata bobot kebaikan sunnah fajar melebihi kebaikan dunia dengan segala isinya. Dan demikian tingginya nilai shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh ini, hingga Rasulullah SAW sangat komitmen untuk melaksanakannya dan tidak pernah meninggalkannya sepanjang hidup beliau. Dalam sebuah riwayat disebutkan :
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مُعَاهَدَةً مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ - رواه مسلم
Dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah SAW tidak pernah mengerjakan shalat-shalat sunnah, serajin ketika beliau mengerjakan shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh.” (HR. Muslim)
5. Demikian ringannya shalat sunnah fajar ini, hingga Rasulullah SAW mengerjakannya dengan cepat dan surat yang dibacapun adalah surat-surat yang ringan. Shalat inipun disunnahkan untuk dikerjakan di rumah. Dikatakan oleh Hafsah ra dalam sebuah riwayat, 'Bahwa Rasulullah SAW mengerjakan shalat dua rakaat fajar sebelum subuh di rumahku dan beliau melaksanakannya dengan cepat sekali.' Nafi' berkata, 'Abdullah bin Umar ra juga melakukannya dengan cepat.' (HR. Bukhari, Muslim & Ahmad). Jumlah rakaatnya hanya dua rakaat, dan disunnahkan untuk membaca Surat Al-Kafirun (setelah al-Fathihah) pada rakaat pertama, dan surat Al-Ikhlas (setelah al-Fatihah) pada rakaat kedua :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِيْ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ بِقُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، وَكَانَ يُسِرُّ بِهَا - رواه أحمد
Dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah SAW membaca dalam dua rakaat sunnah fajar surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlas. Beliau membacanya dengan sir (suara dipelankan). (HR. Ahmad)
6. Pada dasarnya setelah melaksanakan shalat sunnah fajar, tidak ada doa khusus yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Namun dalam kitab fiqh sunnah dijelaskan bahwa Ibnus Sunni dari Abul Malih (Amir bin Usamah) dari ayahnya bahwa ia mengerjakan shalat sunnah fajar berdekatan dengan Rasulullah SAW. Ia mendengar Rasulullah SAW membaca bacaan sambli duduk setelah selesai mengerajakan sunnah fajar dengan doa :
اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَمُحَمَّدِ النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعُوْذُبِكَ مِنَ النَّارِ
Ya Allah, Tuhan Jiebril, Israfil, Mikail dan Muhammad SAW, aku mohon perlindungan-Mu dari siksa api neraka” (tiga kali).
7. Shalat sunnah fajar boleh diqadha'nya pelaksanaanya ke waktu ba'da subuh. Sunnah Fajar dapat dilaksanakan setelah shalat subuh, atau bahkan setelah matahari terbit. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Dari Qais bin Umar ra, bahwa ia keliuar untuk melaksanakan shalat subuh dan di Masjid ia mendapatkan Rasulullah SAW sedang melaksanakan shalat subuh, sedang ia sendiri belum mengerjakan dua rakaat suunah fajar. Ia pun langsung mengerjakan shalat subuh bersama Rasulullah SAW. Kemudian setelah selesai, ia berdiri lagi dan mengerjakan shalat sunnah fajar dua rakaat. Rasulullah SAW pun berjalan mendekatinya dan bertanya, 'Shalat apakah yang dilakukannya tadi?' Ia menjawab, 'Mengqadha' shalat sunnah fajar.' Rasulullah SAW diam saja dan tidak memberikan teguran sesuatu pun.” (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban). Namun hendaknya untuk mengqadha'nya perlu memperhatikan kondisi masjid atau masyarakat setempat, agar tidak menimbulkan fitnah. Mengerjakannya di rumah setelah shalat subuh berjamaah di Masjid, merupakan alternatif yang cukup bijak.
8. Hendaknya setiap muslim berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid, yang didahului sebelumnya dengan melaksanakan sunnah fajar. Karena dalam shalat sunnah yang ringan ini ternyata memiliki kebaikan yang jauh lebih bernilai dari dunia dan segala isinya. Ditambah lagi bahwa waktu subuh merupakan waktu yang sangat krusial dalam kehipuan insan. Dan akan sangat merugilah mereka-mereka yang terlalaikan dengan waktu subuh ini :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ - رواه البخاري
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Bergantian kepada kalian malaikat di malam hari dengan malaikat di siang hari. Mereka bertemu pada waktu shalat subuh dan shalat ashar, kemudian mereka naik kepada Allah SWT. Lalu Allah SWT bertanya kepada mereka, sedang Ia lebih mengetahui kondisi hamba-hamba-Nya, 'Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku? Malaikat menjawab, 'Kami tinggalkan mereka dalam kondisi sedang shalat dan kami datangi mereka juga dalam kondisi sedang shalat.”
Wallahu A’lam Bis Shawab
By. Rikza Maulan Lc., M.Ag
Sekretaris Dewan Pengawas Syariah
Takaful Indonesia
Label: Tadabur Hadits
عَنْ أَبِيْ يَحْيىَ صُهَيْبٍ بْنِ سِنَانٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنهما قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ - متفق عليهDari Abi Yahya, Shuhaib bin Sinan ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh mempesona urusan orang yang beriman. Karena semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kebaikan, dia akan bersyukur, (karena) hal itu adalah yang terbaik baginya. Jika ia mendapatkan kesulitan, maka dia bersabar, (karena) dia tahu bahwa hal itu adalah yang terbaik baginya.” (HR. Muslim)
Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa orang yang beriman memiiliki cara pandang yang “positif thinking”. Karena apapun kondisi yang menimpanya, ia akan selalu menanggapinya dengan postif (baca ; khair). Ketika mendapatkan kebahagiaan, ia akan bersyukur (baca ; mengembalikan kebahagiaannya tersebut kepada Allah). Karena ia tahu, hal itu merupakan hal terbaik yang Allah berikan kepadanya. Sementara apabila ia mendapatkan musibah, atau suatu kondisi yang tidak menyenang, maka ia pun bersabar. Karena ia tahu, pasti ada hikmah mendalam yang ingin Allah berikan kepadanya, di balik musibah yang menimpa dirinya. Dan sifat seperti inilah, yang menjadikan manusia mendapatkan kemuliaan, atau dalam bahasa hadis diatas diistilahkan dengan “ajaban” (sungguh mempesona).
1. Bahwa orang yang beriman memiiliki cara pandang yang “positif thinking”. Karena apapun kondisi yang menimpanya, ia akan selalu menanggapinya dengan postif (baca ; khair). Ketika mendapatkan kebahagiaan, ia akan bersyukur (baca ; mengembalikan kebahagiaannya tersebut kepada Allah). Karena ia tahu, hal itu merupakan hal terbaik yang Allah berikan kepadanya. Sementara apabila ia mendapatkan musibah, atau suatu kondisi yang tidak menyenang, maka ia pun bersabar. Karena ia tahu, pasti ada hikmah mendalam yang ingin Allah berikan kepadanya, di balik musibah yang menimpa dirinya. Dan sifat seperti inilah, yang menjadikan manusia mendapatkan kemuliaan, atau dalam bahasa hadis diatas diistilahkan dengan “ajaban” (sungguh mempesona).
2. Syukur merupakan cerminan dari sebuah sikap berterimakasih atas segala kenikmatan yang telah dianugerahkan oleh Sang Khaliq. Rasa terimakasih tersebut diimplementasikan dalam bentuk beribadah kepada Allah SWT. Dalam sebuah riwayat disebutkan :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا ... - متفق عليه
Dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah SAW melakukan qiyamul lail hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Aisyah ra berkata kepada belaiu, 'Mengapa engkau melakukannya hingga seperti ini? Padahal, Allah telah mengampuni dosa engkau yang telah lalu dan yang akan datang?” Rasulullah SAW menjawab, 'Apakah aku tidak pantas menjadi hamba yang bersyukur?” (Muttafaqun Alaih)
Karena, dilihat dari segi bahasa, syukur berarti ( الزيادة ) bertambah. Sedangkan dari segi istilah, syukur adalah ( القيام بطاعة المنعم ) “sebuah upaya untuk mentaati Sang Pemberi ni'mat (Allah SWT).” Sehingga implementasi syukur dalam kehidupan adalah dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Dan dengan syukur akan menambah ni'mat.
3. Syukur merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh setiap muslim. Dan demikian pentingnya syukur, hingga Allah SWT menyebutkan kata syukur sebanyak 75 kali dalam Al-Qur'an. Syukur juga merupakan jalan yang akan ditempuh oleh orang-orang yang beriman. Dalam salah satu ayat-Nya, Allah SWT berfirman :
إِنَّا هَدَيْنَا السَّبِيْلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُوْرًا
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. Al-Insan/ 76 : 3)
4. Syukur dilakukan dengan tiga hal, pertama syukur dengan hati, yaitu dengan 'meyakini' bahwa segala kenikmatan merupakan anugerah dari Allah SWT. Kedua syukur dengan lisan, yaitu mengungkapkannya dengan maksud memuji Allah SWT, minimal dengan mengucapkan alhamdulillah, dan ketiga syukur dengan anggota badan, yaitu dengan menfungsikan seluruh anggota badan untuk mentaati Sang Pemberi Kenikmatan, yaitu Allah SWT (dengan beribadah kepada-Nya).
5. Syukur memiliki banyak sekali keutamaan, diantara keutamaan bersyukur adalah sebagai berikut:
a.Bersyukur berarti melaksanakan perintah Allah SWT. Allah berfirman :فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْنَ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.” (QS. Al-Baqarah/ 2 : 152)
b. Bahwa suatu kaum yang bersyukur, akan selamat dari azab Allah SWT. Allah berfirman:مَا يَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا
"Allah tidak akan akan mengazab kalian, jika kalian bersyukur dan beriman. Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa' : 4/ 147)
c. Allah akan menambah kenikmatan-Nya terhadap orang-orang yang bersyukur:وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
"Dan ingatlah juga tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingakari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahmi/ 14 : 7)
d.Syukur merupakan salah satu bentuk ujian dari Allah SWT. فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS An-Naml/ 27 : 40)
e.Bahwa dampak positif dari bersyukur akan kembali kepada dirinya sendiri, yaitu berupa kebaikan yang banyak :
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ ِللهِ، وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَر فَإِنَّ اللهَ غني حَمِيْدٌ
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan hikmat kepada Luqman (yaitu), 'Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendriri. Dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman/ 31 : 12)
6. Diantara bentuk bersyukur adalah dengan berzakat dan bersedakah, apabila sesuatu yang disyukuri adalah rizki yang bertambah. Maka, jangan pernah lupa untuk mengeluarkan zakat 2.5%, atau juga infak shadaqah lainnya. Karena indikator syukur pada rizki adalah pada zakat, infak dan shadaqah :
وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (QS. An-Nahl/ 16 : 14)
Wallahu A’lam Bis Shawab
By. Rikza Maulan Lc., M.Ag
Sekretaris Dewan Pengawas Syariah
Takaful Indonesia
Label: Tadabur Hadits
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ - متفق عليهDari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia bertakat-kata yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari & Muslim)
Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Islam merupakan agama fitrah yang menjunjung tinggi nilai dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Dan demikian pentingnya etika dalam Islam, hingga Rasulullah SAW mengkategorikan etika (baca ; akhlak) sebagai “faktor” yang paling banyak untuk dapat mengantarkan orang ke dalam surga :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ - رواه الترمذي
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang yang paling banyak masuk surga, beliau menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.’ Kemudian beliau ditanya tentang yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab, ‘Lisan dan kemaluan.’ (HR. Turmudzi)
2. Diantara etika atau akhlak yang baik adalah etika dalam bertutur kata atau berbicara. Allah SWT bahkan menjadikannya sebagai “perintah” yang wajib untuk dilakukan oleh setiap hamba-Nya, dimanapun dan kapanpun, bahkan terhadap siapapun. Apakah di rumah terhadap keluarganya, di kantor terhadap rekan kerja, atasan atau bawahannya, di masyarakat terhadap tetangganya, dsb. Artinya bahwa bertutur kata yang baik, seharusnya menjadi jati diri bagi setiap muslim. Apabila diibaratkan dengan sebuah pohon, maka bertutur kata yang baik adalah seperti buahnya, yang memberikan manfaat kepada siapapun. Allah SWT berfirman (QS. Al-Ahzab : 70 – 71):
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
3. Bertutur kata yang baik bukan hanya sebagai satu kewajiban, namun lebih dari itu, ia memiilki dampak positif bagi setiap muslim, (sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Ahzab : 70 – 71) di atas. Diantaranya adalah sebagai berikut :
- a. Allah SWT akan menjadikan orang yang berutur kata dengan baik, bahwa amalnya akan diperbaiki oleh Allah SWT. Menurut Ibnu Katsir firman Allah ( يصلح لكم أعمالكم ) maknanya adalah ( يوفقهم للأعمال الصالحة ) Allah akan menunjukkan mereka pada amal-amal shaleh. Atau memudahkan mereka untuk melakukan amal shaleh.
- b. Akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT.
- c. Mendapatkan kemenangan yang besar (surga). Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah diselamatkan dari Azab Allah SWT serta dihantarkan ke dalam keni'matan yang langgeng (surga).
4. Bahwa dasar untuk bertutur kata yang baik adalah bukan untuk mendapatkan pujian, atau agar dikatakan sebagai orang yang shaleh, dsb. Namun hendaknya dalam bertutur kata yang baik, semata-mata didasari untuk mengharapkan keridhaan Allah SWT. Sehingga kendatipun ada seseorang yang mengatakan sesuatu yang tidak baik terhadap kita, maka kita tetap harus bertutur kata yang baik terhadapnya. Karena tujuan kita dalam bertutur kata yang baik adalah mengharapkan keridhaan Allah, bukan supaya orang lain juga berkata-kata yang baik kepada kita. Karena sesungguhnya untuk mengetahui “rahasia” seseorang, dapat kita lihat dari tutur katanya. Aa' Gym pernah mengatakan, bahwa “Manusia ibarat teko; apa yang keluar (dari lisannya) mencerminkan apa yang ada di dalamnya”. Ada juga ungkapan yang mengatakan, “You are what yo say”. Jadi, mulailah untuk senantiasa bertutur kata yang baik, yang menentramkan hati setiap orang yang mendengarkannya.
5. Kebalikan dari berturur kata yang baik adalah berkata-kata yang kasar dan atau kotor. Indikasi dari suatu perkataan itu baik atau tidak adalah bahwa perkataan kita tidak menjadikan orang lain sakit hati, tersinggung, marah dan kecewa. Maka jika diperhatikan dalam hadits di atas : ‘Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia bertakat-kata yang baik atau hendaklah ia diam.” Artinya bahwa diamnya seseorang yang “khawatir” salah ucap yang mengakibatkan “ketersinggungan” orang lain, adalah jauh lebih baik di bandingkan dengan orang yang “memaksakan diri” untuk berbicara, sementara isi pembicaraannya menyinggung, atau menyakiti hati orang lain.
6. Diantara bentuk tutur kata yang kurang baik adalah “bercanda” atau guyonan yang malampaui batas. Baik melampaui batas secara syar'i (misalnya guyonan dalam masalah nikah, “aku terima nikahnya”, dsb), maupun melewati batas kewajaran (misalnya ungkapan yang bersifat “ngerjain” orang lain, untuk bahan tertawaan), dsb. Sebaiknya hal-hal seperti ini perlu dikurangi, atau jangan berlebihan.
7. Hadits di atas juga menggambarkan keterkaitan antara bertutur kata yang baik dengan iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini menggambarkan bahwa ternyata apapun yang kita ucapkan kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah SWT. Oleh karenanya, hendaknya setiap kita harus berusaha untuk memilih dan memilah ketika bertutur kata. Allah SWT. berfirman : “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaaf : 18)
8. Perkataan yang tidak baik akan mengakibatkan “hilangnya” pahala amal shaleh seorang. Dalam sebuah riwayat dikisahkan sebagai berikut :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ - رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, 'Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu? Para sahabat menjawab, 'Orang yang muflis (bangkrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.' Rasulullah SAW bersabda, 'Orang yang muflis (bankrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si fulan, menuduh si fulan, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim)
Wallahu A’lam Bis Shawab
By. Rikza Maulan Lc., M.Ag
Sekretaris Dewan Pengawas Syariah
Takaful Indonesia
Label: Tadabur Hadits
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)
