Keutamaan Ahli Shadaqah

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ نَاسًامِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِاْلأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ، قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا - رواه مسلم
Dari Abu Dzar ra berkata, bahwa sekelompok sahabat berkata kepada Rasulullah, Ya Rasulullah, orang-orang kaya pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, merekapun dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Rasulullah SAW bersabda, 'Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian sesuatu yang dapat dishadaqahkan? Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, amar ma'ruf nahi munkar adalah shadaqah, bahkan dalam hubungan intim (dengan istri kalian) adalah shadaqah.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah seseorang yang memenuhi syahwatnya mendapatkan pahala?' Beliau menjawab, 'Bukankah jika ia menyalurkannya pada yang haram (bukan istrinya), ia berdosa? Demikian pula jika ia menyalurkannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits ini, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Rimbunnya nuansa “fastibiqul khairat” (baca ; berlomba-lomba dalam kebaikan) di kalangan para sahabat. Dimana para sahabat terlihat saling berlomba-lomba untuk mendapatkan keutamaan dan keridhaan Allah SWT. Seperti yang digambarkan dalam riwayat di atas, bahwa sekelompok sahabat merasa “sedih” karena kehilangan satu kesempatan dalam melakukan kebaikan, yang disebabkan karena “ketidakmampuan” mereka dalam berinfak shadaqah, sebagaimana yang dilakukan para sahabat lainnya yang memiliki kemampuan finansial yang lebih. Dan ternyata hal ini membuat mereka bersedih, lalu mengadu ke Rasulullah SAW.

2. Obesesi para sahabat untuk memiliki harta adalah atas dasar obsesi dan orientasi ukhrawi, bukan obsesi dan orientasi duniawi. Kendatipun mereka memiliki keinginan mendalam untuk memiliki harta, namun keinginan tersebut semata-mata adalah karena mereka ingin berinfak shadaqah, dan bukan untuk bermegah-megah atau bermewah-mewahan. Bahkan terkadang terdapat sahabat yang sangat sedih, ketika mendapatkan rizki yang melimpah, sebagaimana yang pernah terjadi pada seorang sahabat yang bernama Thalhah bin Ubaidillah ra. :
“Suatu hari Thalhah bin Ubaidillah ra pulang ke rumah dengan membawa uang 100.000,- dirham (1 dirham = + Rp 30.000,-) (30.000 X 100.000 = 3.000.000.000,-/ + Rp 3 M). Anehnya, istrinya mendapati raut wajah Thalhah begitu bersedih. Istrinya bertanya, 'Apa yang terjadi padamu wahai suamiku?' Thalhah menjawab, 'Harta yang banyak ini, aku takut jika menghadap Allah kelak, lalu aku ditanya tentang dirham ini satu persatu.' Istrinya berkata, 'Ini masalah yang mudah. Mari kita bagi-bagikan harta ini. Bawalah uang ini dan bagikan kepada fakir miskin kota Madinah.' Thalhah pun bersama istrinya meletakkan harta itu di sebuah wadah, lalu mereka membagi-bagikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan. Setelah itu mereka kembali ke rumah dan berkata, 'Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diriku bertemu dengan-Nya sedangkan aku dalam keadaan bersih dan suci.”

3. Luasnya makna dan kesempatan untuk melakukan shadaqah. Karena shadaqah lebih luas dari pada infak; infak adalah mengeluarkan harta dengan mengharap keridhaan Allah SWT. Dan infak ada yang wajib, sunnah dan mubah. Contoh infak wajib adalah zakat, infak kepada keluarga, dsb. Infak yang sunnah seperti membantu fakir miskin, orang yang kesusahan, kegiatan keislaman, dsb. Infak yang mubah seperti memberikan hadiah, mengajak makan teman, saudara atau sahabat. Sedangkan shadaqah adalah mengeluarkan sesuatu (baik materi maupun non materi) untuk mengharap ridha Allah SWT. Oleh karenanya dalam banyak riwayat disebutkan, senyuman merupakan shadaqah, menyingkirkan duri dari jalanan adalah shadaqah, mendamaikan dua orang yang sedang berselisih adalah shadaqah, dsb. Bahkan dalam hadits di atas, secara spesifik disebutkan bentuk-bentuk shadaqah :

  • Dzikir (tasbih, takbir, tahmid dan tahlil) merupakan shadaqah, yang memiliki nilai pahala pada tiap tasbihnya, takbirnya, tahmidnya atau juga tahlilnya.
  • Da'wah (amar ma'ruf & nahi mungkar) juga merupakan shadaqah.
  • Bahkan dalam melakukan hubungan intim antara suami istri pun ( وَفِيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ) juga merupakan shadaqah, yang memiliki nilai pahala di sisi Allah SWT (catatan : walaupun jangan dikhususkan untuk menjadikan aspek ini sebagai shadaqah utama, lalu menomer duakan aspek yang lainnya).
  • Dalam hadits lainnya disebutkan juga banyak hal yang masuk dalam kategori sahadaqah, diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ سُلاَمَى مِنْ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ يَعْدِلُ بَيْنَ اْلاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ وَكُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَيُمِيطُ اْلأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ - متفق عليه
"Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Setiap persendian manusia harus dikeluarkan shadaqahnya, setiap hari selama matahari terbit, mendamaikan dua orang yang berselisih adalah shadaqah, menolong seseorang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkatkan barang bawaannya adalah shadaqah, kata-kata yang baik adalah shadaqah, setiap langkah kaki yang kamu ayunkan untuk shalat adalah shadaqah, dan menyingkirkan duri dari jalan adalah shadaqah.” (Muttafaqun Alaih).

4. Keutamaan orang yang berpunya dan menjadi ahli shadaqah. Karena bagaimanapun bershadaqah dengan harta tetap memiliki keutamaan tersendiri. Hadits di atas menggambarkan hal tersebut, yaitu ibaratnya para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW bahwa jika kami shalat, mereka pun (orang-orang kaya) juga shalat, jika kami puasa, mereka pun puasa. Bahkan seolah-olah ditanyakan oleh para sahabat, jika mereka berdzikir, dan melakukan segala kebaikan, merekapun juga melakukan hal yang sama. Namun mereka (ahli shadaqah), selalu bershadaqah dengan kelebihan harta mereka yang tidak dapat kami lakukan?' Sehingga secara tersirat, hadits ini memotivasi para sahabat dan kita semua selaku umat Nabi Muhammad SAW untuk menjadi orang-orang yang memiliki kemampuan finansial yang kuat, sehingga bisa maksimal dalam melakukan infak shadaqah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ - رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Harta tidak akan berkurang karena shadaqah. Allah pasti akan menambah kemuliaan seseorang yang suka memaafkan. Dan, seseorang yang merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah yang Mahamulia lagi Maha Agung akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)

5. Pentingnya meniatkan segala kebaikan dengan ikhlas karena Allah SWT. Karena sesungguhnya apapun yang kita lakukan dan dilandasi dengan niatan mulia mengharapkan ridha-Nya, insya Allah akan dicatat sebagai shadaqah. Maka melayani nasabah yang membutuhkan penjelasan, mempersilakan tamu untuk duduk di kursi dan menanyakan keperluannya, membersihkan ruangan agar suasana kerja menjadi nyaman, memberikan senyuman orang yang membutuhkan bantuan, meminjamkan alat tulis, memberikan informasi kepada siapapun yang memerlukan bantuan informasi dari kita, mengangkat telepon dengan ramah, mengambilkan air minum, menghormati atasan, menyayangi bawahan, mengucapkan terimakasih, menghadiri rapat dan undangan tepat waktu, bertutur kata yang baik dalam pekerjaan, tidak banyak mengeluh, mendoakan orang lain, dsb insya Allah semua itu akan menjadi shaqah, apabila kita meniatkannya untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Jadi, bershadaqah lah...

Wallahu A'lam Bis Shawab
By. Rikza Maulan Lc., M.Ag

Hakekat Kebangkrutan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ - رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, 'Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu? Para sahabat menjawab, 'Orang yang muflis (bangkrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.' Rasulullah SAW bersabda, 'Orang yang muflis (bankrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan shalat, menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim, Turmudzi & Ahmad)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits ini :
1. Pentingnya beramal shaleh berupa ibadah kepada Allah SWT seperti shalat, puasa, zakat maupun amaliyah ubudiyah lainnya. Karena hal tersebut merupakan amaliyah yang mendapatkan prioritas untuk dihisab pada yaumul akhir. Hadits di atas menggambarkan penyebutan shalat, puasa dan zakat lebih awal, daripada bentuk amaliyah dengan sesama manusia. Dalam sebuah hadits diriwayatkan :
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ بِصَلاَتِهِ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ - رواه النسائي
Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika baik shalatnya, maka sungguh ia beruntung dan sukses. Namun jika shalatnya fasad, maka ia akan menyesal dan merugi. (HR. Nasa'I, Ibnu Majah & Ahmad)

2. Gambaran dan pembelarajaran Rasulullah SAW yang 'visioner' mengenai definisi ( المفلس ) atau bangkrut terhadap para sahabatnya. Secara visi jangka pendek, kebangkrutan adalah orang yang tidak memiliki dinar, dirham maupun harta benda dalam kehidupannya. Dan hal inilah yang disampaikan para sahabat kepada Rasulullah SAW ketika beliau bertanya kepada mereka mengenai kebangkrutan. Namun Rasulullah SAW memberikan pandangan yang jauh ke depan mengenai hakekat dari kebangkrutan, yaitu pandangan kebangkrutan yang hakiki di akhirat kelak. Hal ini sekaligus menunjukkan, bahwa seorang mu'min harus memiliki visi ukhrawi dalam melihat dan menjalankan kehidupan di dunia, seperti visi dalam bekerja, berumah tangga, berinvestasi, dsb, yang selalu mendatangkan manfaat bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat.
وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ اْلآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِي اْلأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashas : 77)

3. Hakekat ( المفلس ) kebangkrutan yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. Bahwa secara bahasa, muflis berasal dari kata ( إفلاس ) yang artinya bangkrut, ketidak mampuan membayar dan kegagalan. Dalam hadits ini, kebangkrutan itu bukan karena seseorang tidak memiliki sesuatupun di dunia ini, namun orang yang bangkrut adalah orang kelak pada hari kiamat datang menghadap Allah SWT dengan pahala shalatnya, puasanya, zakatnya maupun pahala amal ibadahnya yang lain, namun di sisi lain ia juga membawa dosa karena suka mencela orang lain, menuduh, memakan harta manusia, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Dan karena perbuatan dosanya kepada orang lain itulah, ia dimintai pertanggung jawaban dengan cara seluruh khazanah kebaikannya diambil untuk menutupi perbuatannya terhadap orang-orang yang pernah dizaliminya. Bahkan seluruh khazanah kebaikannya telah ludes habis, namun belum dapat memenuhi seluruh kedzalimannya yang dilakukan terhadap orang lain, maka Allah SWT mengambil dosa-dosa orang yang didzaliminya tersebut lalu dicampakkan pada dirinya. Sehingga jadilah ia orang yang muflis (bangkrut), karena kebaikannya tidak dapat menutupi keburukannya, sehingga ia dilemparkan ke dalam api neraka, na'udzubillah min dzalik. Padahal ia adalah ahli shalat, ahli puasa, ahli zakat maupun ahli ibadah lainnya.

4.Pentingnya berbuat ihsan terhadap sesama insan dalam bermualah sehari-hari, bahkan terhadap hewan sekalipun. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ - رواه مسلم
Sesungguhnya Allah SWT menwajibkan untuk berbuat baik dalam segala hal. Maka apabila kamu membunuh, bunuhlah dengan baik. Dan jika kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan baik. Dan hendaklah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan mengistirahatkan hewan sembelihannya. (HR. Muslim)

Jika terhadap hewan saja, kita diperintahkan untuk berbuat ihsan semaksimal mungkin, apatah lagi ihsan terhadap sesama manusia. Al-Qur'an dan sunnah banyak sekali menggambarkan tentang pentingnya berbuat ihsan dalam muamalah sesama manusia, oleh karenanya kita lihat diantaranya diharamkan menggunjing (baca; ghibah), bahkan disamakan dengan seseorang memakan bangkai saudaranya yang telah meninggal dunia, dsb. Tidak baiknya seseorang dalam bermuamalah terhadap sesama manusia akan mengakibatkan kehancuran dirinya dan menjerumuskannya ke dalam api neraka, kendatipun ia seorang ahli ibadah.

5. Pentingnya mengikhlaskan atau mengembalikan segala sesuatu kepada Allah SWT dalam apapun juga. Karena hal yang demikian ini, akan dapat menambah khazanah kebaikan kita di akhirat kelak. Contoh dari hal tersebut adalah 'sabar' menghadapi celaan dan cercaan maupun tingkah negatif orang lain. Jika kita bersabar dan mengembalikannya kepada Allah, insya Allah akan menambah khazanah amal kebaikan kita di akhirat.

6. Memungkinkannya ditambahkan atau dikuranginya pahala dan dosa seseorang di hari akhir kelak, dari hasil perbuatan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Hadits di atas dengan jelas menggambarkan hal tersebut (فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته ) 'maka diberikanlah kebaikan-kebaikannya pada orang (yang didzaliminya tersebut).' Oleh karena itulah, dalam kondisi apapun, kita tetap harus dapat melakukan perbuatan baik (baca ; sunnah hasanah). Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ - رواه مسلم
Barang siapa yang dalam Islam melakukan suatu sunnah (perbuatan) yang baik kemudian diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka ia mendapatkan kebaikannya dan kebaikan (pahala) dari orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa yang dalam Islam melakukan satu sunnah (perbuatan) yang buruk, kemudian diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurani dosa mereka sedikitpun. (HR. Muslim)

7. Indahnya metode Rasulullah SAW dalam mentaujih (baca ; memberikan nasehat) para sahabatnya, yaitu dengan metode interaktif. Beliau memancing konsentrasi para sahabatnya dengan tanya jawab, lalu beliau memberikan penjelasan yang tuntas dari permasalahan yang dilemparkan ke para sahabatnya.

Wallahu A'lam Bis Shawab
By. Rikza Maulan Lc., M.Ag

Siapa Memudahkan Akan Dimudahkan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ - رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mu'min di dunia, maka Allah akan melepaskan keslutannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. Dan barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama, kecuali ketentraman akan turun kepada mereka, rahmat akan memenuhi mereka, malaikat menaungi mereka, dan Allah memuji mereka di hadapan makhkluk yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang terlambat amalnya, maka nasabnya tidak akan mempercepat (nasibnya)” (HR. Muslim)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits ini, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Bahwa Allah SWT telah menetapkan sunnatullah dalam hubungan sosial (baca ; hablumminannas) yaitu bahwasanya siapa yang berbuat baik, maka kebaikannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Sebaliknya siapa berbuat jahat (tidak baik), maka kejahatannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri pula. Oleh karenanya hendaknya setiap kita senantiasa berusaha untuk berbuat baik terhadap siapapun. Dan diantara bentuknya adalah memudahkan uruasan dan kesulitan orang lain, khususnya yang sedang mendapatkan kesulitan. Allah SWT berfirman :
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا...
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri...” (QS. Al-Isra'/ 17 : 7)

2. Bahwa benefit memudahkan orang lain yang sedang kesuiltan adalah bahwa ia akan dimudahkan oleh Allah SWT, atas segala kesulitannya baik terkait urusan dunia maupun urusan akhirat. Teks hadits di atas sangat jelas menggambarkan hal tersebut ( ومن يسر على معسر يسره الله عليه في الدينا والآخرة ) “...dan barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat” Dan alangkah beruntungnya seseorang yang kesehariannya senantiasa berusaha untuk memudahkan urusan orang-orang yang sedang kesulitan. Karena benefit yang akan diperolehnya adalah ia akan mendapatkan kemudahan dari Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat. Dan jika kita renungkan, pekerjaan kita sehari-hari adalah dalam rangka memudahkan urusan orang yang terkena risiko (baca ; tertimpa musibah). Jika kita meniatkan dengan ikhlas insya Allah kita akan dimudahkan Allah SWT dalam segala kesulitan kita.

3. Anjuran untuk menutupi aib (baca ; keburukan) antara sesama saudara seiman. Karena pada hakekatnya setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dan sesama saudara, hendaknya saling menutupi aib dan tidak mengumbar dan menyebarluaskan aib sesama muslim kepada orang-orang yang tidak memiliki kepentingan. Kecuali dengan maksud memperbaiki dan atau agar keburukannya tidak menyebar luas. Dalam sebuah hadits digambarkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ - رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Setiap muslim adalah haram bagi muslim lainnya. (yaitu) darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

4. Bahwa ternyata salah satu “penyebab” datangnya pertolongan dari Allah SWT adalah karena kita menolong orang lain yang sedang kesulitan. Hadits di atas dengan jelas menggambarkan hal tersebut ( والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه ) “Dan Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” Oleh karenanya kita dianjurkan untuk senantiasa memberikan pertolongan kepada orang-orang yang memang sedang kesulitan dan memerlukan bantuan dan pertolongan dari kita. Dalam koteks kekitaan diantaranya adalah para nasabah kita. Karena dengan demikian, Allah akan selalu memberikan pertolongan-Nya kepada kita (baca ; nashrullah).

5. Bahwa orang yang belajar menuntut ilmu, pada hakekatnya ia sedang menapaki jalan menuju surga Allah SWT. Dan alangkah indahnya apabila hari-hari kita dilalui dengan motivasi dasar untuk menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu tidak harus berada di sebuah tempat pendidikan formal. Menuntut ilmu bisa dimana saja, termasuk di dalamnya dalam majlis ta'lim. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun merupakan tempat yang baik untuk menuntut ilmu. Ia bernama Universitas Kehidupan. Dimana kita sebagai mahasiswanya, sementara orang diluar kita adalah para dosennya. Banyak hikmah yang dapat kita petik dari orang lain, bahkan dari seorang tukang becak, pedagang asongan, atau penjaja makanan. Oleh karenanya penting bagi kita semua untuk senantiasa tiada henti mencari ilmu, dimanapun dan kapanpun. Dan ilmu yang terbaik adalah ilmu yang dapat mengantarkan kita kepada keridhaan Allah SWT.

6. Majlis-majlis ilmu adalah majlis yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Allah SWT, dipahami makna-maknanya, serta saling memberikan nasehat untuk menambah keimanan dan ketakwaan sebagaimana yang senantiasa kita lakukan secara rutin ini. Dan majlis seperti ini memiliki benefit yang mulia, yaitu :
  • Mendapatkan ketenangan dan ketentraman (sakinah). Insya Allah orang-orang yang senantiasa mendatangi majelis-majelis seperti ini akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman dalam hatinya.
  • Mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Rahmat Allah dapat berupa rizki yang bertambah, keluarga yang sakinah, atau mendapatkan cinta dan penghormatan dari orang-orang di sekelilingnya.
  • Dikelilingi para Malaikat, yang selalu mendoakan kepada Allah SWT untuk kebaikannya, selama majelis tersebut berlangsung.
  • Dipuji Allah dihadapan makhluk yang berada di sisi Allah SWT, yaitu para malaikat yang mulia, yang berada di sekitar Allah SWT.
7. Kebahagiaan hakiki tidak dicapai dengan kedudukan dan keturunan, tetapi dengan amal yang baik. Sehingga kendatipun seseorang merupakan keturunan para ulama, atau memiliki link ke para penguasa, namun itu semua tidak akan pernah mengantarkannya pada kebahagiaan hakiki, jika ia tidak berusaha untuk beramal shaleh. Sebaliknya, bahwa siapa saja yang berusaha mengerjakan amal shaleh dengan sebaik-baiknya, insya Allah akan mengantarkannya pada kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman :
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl/ 16 : 97)

Wallahu A'lam Bis Shawab
By. Rikza Maulan Lc., M.Ag

;;