عَنْ كَعْبِ بْنِ عِيَاضٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ - رواه الترمذيDari Ka’ab bin Iyadh ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah. Dan fitnah umatku adalah fitnah harta.” (HR. Turmudzi, beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahih gharib, kami mengetahuinya dari hadits Mu’awiyah bin Shaleh)
Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa setiap umat akan memiliki ujian dan cobaannya masing-masing. Jika dahulu Bani Isra’il diuji dengan “fitnah wanita” hingga kebanyakan mereka terperdaya, maka umat Nabi Muhammad SAW akan diuji dengan “fitnah harta”, dan ternyata tidak sedikit dari kita yang terperdaya dengan fitnah harta seperti ini. Peringatan Rasulullah SAW seperti ini adalah untuk menjadi pelajaran bagi kita semua, agar tidak terjerumus pada kehancuran dan kehinaan. Dalam sebuah hadits disebutkan :
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ - رواه مسلم
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Ra, bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya dunia itu adalah manis rasanya dan hijau (enak dipandang mata). Dan sesungguhnya Allah SWT menjadikan kalian khalifah di dalamnya, maka Allah SWT akan melihat pada amal kalian. Maka bertakwalah kamu dari fitnah dunia dan bertakwalah kamu dari rayuan wanita, karena sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah dalam fitnah wanita.” (HR. Muslim)
2. Namun pada hakekatnya harta dan wanita (baca ; lawan jenis) adalah ujian dan cobaan bagi kita semua. Bahkan sebagian ulama mengatakan cobaan dan ujian itu tidak hanya terbatas pada harta dan wanita (baca ; lawan jenis), namun mencakup “5 Ta”, yaitu #1. Harta, #2. Tahta, #3. Wanita (lawan jenis), #4. Kata dan #5. Cinta. Kesemuanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban-Nya. #1. Harta, #2. Tahta dan #3. Wanita adalah sesuatu yang sudah jelas dan banyak diketahui oleh kebanyakan kita. Sedangkan “#4. Kata” adalah bermakna eksistensi, pujian, pengakuan dan penghargaan. Karena pada hakekatnya setiap orang ingin eksistensinya diakui, ingin mendapatkan pujian, ingin mendapatkan pengakuan dan penghargaan. Adapun “#5. Cinta” adalah bahwa setiap manusia selalu menginginkan “dicintai”, disayangi dan “dielu-elukan” oleh semua orang. Semua orang ingin dicintai, dan semua orang tidak ingin dibenci. Oleh karenanya, banyak manusia yang mengejar “5 Ta” ini. Namun untuk mencapai itu semua, terkadang manusia meraihnya dengan menghalalkan segala cara; korupsi, menipu, menebar fitnah, memutarbalikkan fakta, membuat makar dan skenario, bahkan mengadu domba. Sebagai orang yang beriman, hendaknya kita semua berusaha menghindarkan diri dari sifat seperti itu. Karena orang yang tamak dan sangat ambisius terhadap dunia, bisa jadi akan sangat berbahaya dan akan merusak agamanya. Dalam sebuah riwayat disebutkan :
عَنْ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ - رواه الترمذي وقَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Dari Ka’ab bin Malik ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah-tengah satu kawanan kambing tidaklah lebih jahat daripada seseorang yang berambisi terhadap harta dan jabatan. Ambisi itu akan merusak agamanya.” (HR. Turmudzi, ia berkata “Hadits ini Hasan Sahih”.)
3. Bahwa meraih dunia dengan cara yang tidak benar (baca ; bathil) adalah dilarang syariah, dan pelakunya akan mendapatkan “siksa” baik di dunia terlebih-lebih di akhirat. Terdapat kisah menarik yang bisa dipetik dan diambil pelajaran, perihal seorang “pejabat” di sebuah perusahaan ternama yang melakukan korupsi, dan Allah SWT membalasnya di dunia sebelum tentunya ia akan di siksa di akhirat kelak. Dikisahkan oleh seorang Ustadz yang juga sebagai seorang trainer, yaitu Utz. Jamil Azzaini, “Kisah ini berawal dari kehadiran saya memenuhi undangan perusahaan ternama untuk memberikan "pencerahan". Dalam kesempatan itu saya menyampaikan materi berkaitan dengan Hukum Kekekalan Energi. Saya katakan bahwa hukum itu dan semua agama menyatakan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas setimpal kepada kita di dunia. Bila kita mengeluarkan energi positif atau kebaikan, kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita mengeluarkan enegri negatif atau keburukan, yang akan kita dapat adalah keburukan pula. Korupsi adalah perbuatan negatif. Di dunia para pelakunya pasti akan mendapatkan balasan berupakan keburukan pula. Keburukan dapat berupa musibah, penyakit, kehilangan harta benda, ketidakharmonisan rumah tangga, mendekam di penjara, tercoreng nama baiknya, kegelisahan, dan hal-hal negatif lainnya." jelas saya. Ketika sesi tanya jawab, salah seorang pimpinan di perusahaan itu mengkritik pedas pernyataan saya tadi. Walau saya sudah jelaskan dengan argumen-argumen ilmiah dan contoh-contoh dalam kehidupan, dia tetap tak yakin. Sampai kami berpisah, kami masih pada pendapat masing-masing. Tujuh bulan berlalu, sang pimpinan perusahaan itu tiba-tiba menelpon saya. "Pak Jamil, saya ingin bertemu Anda," pintanya. Karena penasaran, undangan dari beliu saya prioritaskan. Singkat kata, pada waktu dan tempat yang telah disepakati, kami bertemu. Rupanya beliau tiba lebih dulu. Dia tiba-tiba saja menyambut saya dengan pelukan erat. Cukup lama beliau memeluk saya. "Maafkan saya Pak Jamil. Maafkan saya," ucapnya sambil terisak dan terus memeluk saya. Karena masih bingung dengan kejadian ini, saya diam saja. Setelah kami duduk, beliau membuka percakapan. "Saya sekarang yakin dengan apa yang Pak Jamil dulu katakan. Kalau kita mengeluarkan energi positif, kita akan mendapat kebaikan. Jika kita mengeluarkan energi negatif, pasti kita akan mendapat keburukan," ujarnya. "Bagaiamana ceritanya, kok Bapak jadi yakin?" tanya saya penasaran. "Selama saya menjadi pimpinan di perusahaan itu, saya menerima uang yang bukan menjadi hak saya. Semuanya saya catat. Jumlahnya lima ratus dua puluh enam juta rupiah," katanya. Sembari menarik nafas panjang beliau melanjutkan bercerita. Kali ini tentang anaknya. "Anak saya bersekolah di Australia. Karena pengaruh pergaulan, dia terkena narkoba. Sudah saya obati dan sembuh. Namun, ketika liburan dia pergi ke Amerika dan Kanada. Tidak disangka, di sana dia bertemu temannya sesama pengguna narkoba ketika mereka berada di Australia. Anak saya sebenarnya menolak menggunakan narkoba lagi. Namun, dia dipaksa dan akhirnya anak saya kambuh lagi, bahkan semakin parah, Pak." Selama bercerita, beliau berkali-kali mengusap pipinya yang basah oleh air mata yang terus mengalir tak henti-henti. "Pak Jamil tahu berapa biaya pengotaban narkoba dan penyakit anak saya?' Tanpa menunggu jawaba saya, lelaki separuh baya itu berkara lirih, "Biayanya lima ratus dua puluh enam juta rupiah. Sama persis dengan uang kotor yang saya terima, Pak!" Beliau tertunduk dan menggeleng-gelengkan kepala disertai isak tangis yang makin keras. "Uang korupsi itu telah merusak anak saya, Pak. Saya menyesal. Saya bukan orang tua baik. Saya telah merusak anak saya, Pak!" Saya peluk erat lelaki itu. Saya biarkan airmatanya tumpah. Sesenggukannya berubah menjadi tangis sungguhan. Dengan terbata dia berkata, "Tak ada kata terlambat untuk bertaubat kan, Pak? Mengapa untuk sadar, saya harus menunggu anak saya menjadi korban? Saya telah merusak anak saya Pak... saya telah merusak anak saya..." (Dikutip dari buku Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia, Jamil Azzaini hal 133 – 136).
4. Bahwa hakekat kehidupan dunia adalah ibarat tanaman atau ladang yang menghijau dan mengagumkan para petani, namun akhirnya semua akan menguning dan menjadi sirna. Perumpamaan ini Allah SWT firmankan dalam Al-Qur’an :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid : 29)
5. Nah, oleh karenanya hendaknya kita semua tidak silau dengan kehidupan dunia yang terkadang menggoda dan mempesona. Apabila kita hendak meraih kehidupan dunia, maka raihlah karnuia Allah di dunia ini, baik itu harta, tahta, wanita (lawan jenis), kata dan juga cinta dengan cara dan jalan yang baik dan halal, agar benar-benar kita semua kelak akan mendapatkan jannah dan ridha-Nya. Dan jangan sampai, hanya karena mengejar fatamorgana dunia yang fana dan sementara ini, kita menempuh cara yang kotor dan tidak benar yang bahkan dapat mengakibatkan kita semua bisa terjerembab pada murka dan azab-Nya. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai obsesi terbesar dalam hidup kami dan tujuan utama dalam langkah kami…
Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag
Label: Tadabur Hadits
عَنْ عَمْرَو بْنِ عَوْفٍ اْلأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ - رواه البخاريDari Amru bin Auf Al-Anshari ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan terjadi pada kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah dibukakannya pintu-pintu dunia kepada kalian sebagaimana dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba terhadapnya sebagaimana mereka berlomba-lomba terhadap dunia, kemudia kalian akan dihancurkan, sebagaimana dahulu mereka dihancurkan.” (HR. Bukhari)
Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa seharusnya setiap muslim berjuang fi sabilillah hanya mengharap keridhaan Allah SWT. Dan tidak seyogianya seorang muslim hanya untuk mencari kehidupan dunia semata. Rasulullah SAW memberikan contoh keteguhan memegang prinsip dalam da’wah, tidak luntur idealismenya dengan harta, tahta, wanita, kata dan cinta. Ketika para pembesar Quraisy datang ke paman beliau Abu Thalib, meminta agar keponakannya yaitu Nabi Muhammad SAW meninggalkan da’wahnya dengan konpensasi harta yang banyak, yang akan menjadikannya orang terkaya di Mekah. Atau istri yang cantik, yang akan menjadikannya orang yang paling cantik istrinya di Mekah. Atau bahkan akan di angkat menjadi “Raja”, sehingga menjadikannya penguasa di Mekah. Namun dengan tegas, Rasulullah SAW mengatakan "Wahai Paman, Demi Allah, kalau pun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah), sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa, pastilah tidak akan aku meninggalkannya.”
2. Bahwa riwayat yang mengatakan bahwa “hampir-hampir kefakiran itu akan membawa pada kekufuran” adalah dha’if menurut para ulama. Riwayat tersebut nashnya adalah sebagai berikut:
كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا
Hampir-hampir kafakiran itu akan mengantarkan pada kekufuran
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, juga oleh Imam Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, juga oleh Imam At-Thabari dalam Al-Mu’jam Al-Ausathnya. Namun riwayat tersebut didha’ifkan oleh banyak ulama, diantaranya oleh Syekh Al-Bani dalam Silsilah Al-Ahadits Ad-Dha’ifah dan juga oleh para Imam-Imam hadits lainnya. Karena merupakan hadits dha’if, bahkan termasuk dalam kategori dha’if yang berat, maka riwayat di atas tidak dapat dijadikan sandaran amal. Wallahu A’lam.
3. Kendatipun demikian, bukan berarti bahwa kita harus pasrah dan membiarkan umat Islam hidup dalam kefakiran. Umat Islam harus berusaha dengan giat untuk menjadi orang-orang yang berdaya dan memiliki kekuatan ekonomi yang baik. Bukankah Al-Qur’an dan Sunnah memerintahkan kita untuk menjadi orang-orang yang berdaya dan menjadi muzakki (orang yang mengeluarkan zakat)? Rasulullah SAW bahkan mengajarkan sebuah doa, agar kita semua terhindar dari kekufuran dan juga kefakiran. Berikut adalah doa yang dianjurkan
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, sesungguhnya tiada tuhan selain Engkau.
4. Bahwa “dunia” merupakan godaan yang dapat saja membutakan setiap orang. Maka hendaknya setiap kita berusaha untuk tidak terbutakan dan tidak tergoda oleh kemilaunya dunia. Allah SWT mengingatkan kita semua :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ ﴿٥﴾ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴿٦﴾
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir : 5 - 6)
5. Sejarah mencatat, betapa banyaknya orang tergoda dengan dunia yang kemudian relah menggadaikan “idealismenya”. Diantara contohnya adalah bagaimana silaunya orang Yahudi terhadap dunia, namun ternyata dunia justru menghinakan mereka. Dalam sebuah riwayat dari Wahab bin Munabbih dikisahkan, “Suatu ketika Nabi Isa as bermaksud musafir ke suatu tempat. Pada saat tersebut, terdapat seorang Yahudi yang juga ingin musafir ke tempat tujuan yang sama dengan Nabi Isa as, lalu ia memohon kepada nabi Isa, agar dirinya dapat pergi musafir bersama nabi Isa. Pada waktu tersebut Nabi Isa membawa bekal satu potong roti, dan Yahudi tadi membawa bekal dua potong roti. Nabi Isa mengatakan, “Engkau boleh musafir bersama dengan saya jika bekalmu dan bekalku digabung menjadi satu lalu dibagi dua.” Yahudi menimpali, “setuju”. Namun ketika ia mengetahui bahwa Nabi Isa hanya membawa bekal satu potong roti, ia menyesal. Di tengah perjalanan ketika Nabi Isa sedang shalat, diam-diam si Yahudi memakan satu dari dua potong roti yang dimilikinya. Dan seusai melaksanakan shalat Nabi Isa membuka perbekalannya bersama Yahudi, lalu Nabi Isa bertanya, “Mana roti yang satu potong lagi?” Yahudi mengatakan, “Saya tidak punya bekal selain satu potong roti ini.” Kemudian Nabi Isa memakan satu potong roti dan Yahudi memakan satu potong roti, lalu mereka melanjutkan perjalanan. Tibalah mereka di sebuah tempat, dimana terdapat sebuah pohon yang cukup rindang. Nabi Isa mengajak untuk beristirahat hingga esok hari. Keesokan harinya, mereka menemukan seorang laki-laki tua yang buta. Nabi Isa berkata pada laki-laki tua ini, “Kalau Allah menyembuhkan penyakitmu melalui perantaraanku apakah engkau akan bersyukur kepada Allah?” Ia menjawab, “tentu”. Lalu Nabi Isa menyentuh kedua matanya dan berdoa kepada Allah, dan dengan izin Allah lelaki tua tersebut dapat melihat kembali. Pada saat itu Nabi Isa berkata kepada Yahudi, “Dengan apa yang engkau lihat tadi, orang yang buta dapat melihat kembali dengan izin Allah melalui perantaraanku, dimanakah roti yang ketiga? Yahudi mengatakan, “Demi Allah, aku tadi hanya punya satu potong roti.” Merekapun melanjutkan perjalanan. Kemudian nabi Isa melihat seekor rusa sedang makan rumput. Dipanggillah rusa tersebut oleh Nabi Isa, lalu disembelih, dan mereka memakannya. Seusai makan Nabi Isa berkata, “Dengan izin Allah, bangkitlah engkau wahai Rusa”. Rusa itupun bangkit seperti sedia kala seolah tidak pernah disembelih sebelumnya. Lalu Nabi Isa berkata pada Yahudi ini, “Dengan apa yang telah engkau lihat, rusa yang disembelih dan dimakan dagingnya dapat hidup kembali, dimanakah roti yang ketiga?” Yahudi berkata, “Demi Allah, aku hanya memakan satu potong roti.” Mereka kembali berjalan, hingga tiba di sebuah sungai yang cukup besar. Nabi Isa memerintahkan Yahudi ini untuk memegang tangannya, lalu mereka berdua berjalan di atas air hingga melewati sungai tersebut. Yahudi berucap, “Subhanallah”. Nabi Isa berkata, “Dengan apa yang telah engkau lihat bahwa kita bisa berjalan di atas air, jujurlah padaku dimanakah roti yang ketiga?”. Yahudi berkata, “Demi Allah tidak ada roti padaku, kecuali satu potong roti yang kemarin kita makan bersama.” Nabi Isa terdiam, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Tibalah mereka di sebuah desa besar yang telah hancur berantakan yang tidak berpenghuni. Di tengah-tengah desa tersebut mereka menemukan tiga bongkah emas yang sangat besar. Kemudian Nabi Isa berkata, “Satu bongkah emas ini untukku, satunya lagi untukmu, dan satu bongkah lagi untuk pemilik roti yang ketiga”. Lalu dengan malu-malu, Yahudi berkata, “Nabi Isa, sebenarnya akulah pemilik roti yang ketiga. Aku memakannya ketika anda sedang shalat.” Nabi Isa berkata, “Emas ini menjadi milikmu semuanya, namun kita berpisah di sini. Tinggallah Yahudi di desa tersebut bersama tiga bongkah besar emasnya, sementara ia tidak memiliki apapun untuk mengangkut emasnya tersebut. Tiba-tibalah lewatlah ke dusun tersebut tiga orang Yahudi lainnya. Dan melihat ada tiga bongkah emas, merekapun membunuh Yahudi ini, dan mengambil alih emasnya dengan perjanjian dibagi rata. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan pergi ke desa terdekat untuk membeli makanan dan mengambil gerobak untuk membawa emas ini.” Sementara yang menunggu emas ini berkata kepada temannya, “Kalau nanti dia sudah datang membawa makanan dan gerobak, kita bunuh saja dia, lalu emasnya kita bagi dua.” Temannya menjawab, “Setuju”. Yahudi yang mengambil gerobak dan membeli makanan ternyata meracuni makanan tersebut, dengan tujuan agar dapat memiliki emasnya keseluruhan seorang diri. Ketika tiba, ia pun dibunuh oleh kedua temannya. Dan ketika mereka berdua memakan makananannya, mereka berdua pun tewas akibat makanan tersebut telah diberi racun. Mereka bertiga mati bergelimpangan di antara tiga bongkah emas yang masih utuh seperti sedia kala. Tidak lama kemudian, Nabi Isa kembali melewati tempat tersebut bersama para Hawariyin dan melihat empat mayat Yahudi mati bergelimpangan dengan kondisi menyedihkan di antara tiga bongkah emasnya. Nabi Isa berkata, “Seperti inilah dunia memperlakukan para “pengerjarnya”, maka hati-hatilah kalian terhadap dunia.” (Dari Kitab Mi’atu Qishah waqishah, Muhammad Amin Al-Jundi, hal. 15 – 16)
Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag
Label: Tadabur Hadits
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا (رواه مسلم)Dari Abu Dzar ra berkata, Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menjadikan aku sebagai pengawal? Kemudian belaiu menepuk pundakkau dan bersabda, “Hai Abu Dzar, sungguh kamu ini lemah dan jabatan itu amanah. Dan pada hari Kiamat nanti, jabatan itu menjadi kehinaan serta penyesalan, kecuali bagi orang yang melaksanakannya secara benar dan menunaikan semua kewajibannya.” (HR. Muslim)
Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa kelak segala amanah akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Dan bahwasanya kelak, banyak orang yang memegang amanah akan menyesal akan amanah yang diembankan kepada mereka. Karena amanah itu justru kelak akan merendahkannya, disebabkan karena ia tidak bisa menunaikan dan tidak melaksanakannya dengan baik. Sementera dahulu ketika di dunia, mereka sangat mendamba-dambakan amanah tersebut. Oleh karena itulah, sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang meminta jabatan, maka ia tidak boleh diberi. Dan justru orang yang berhak mendapatkannya adalah orang yang menolak dan tidak menginginkannya (Nuzhatul Muttaqin, Juz I hal. 744).
2. Hadits di atas juga menggambarkan bahwa orang-orang yang dapat memagan amanah dengan baik, maka dia akan beruntung dan mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT. , Hadits di atas membahasakannya dengan, “…kecuali orang-orang yang mengambil amant itu dengan haq (benar) sebagaimana mestinya dan menunaikan apa yang diembankan pada dirinya dari amanah tersebut.” Dalam riwayat lainnya disebutkan, bahwa pemimpin yang amanah akan mendapatkan naungan Allah di hari tiada naungan kecuali naungan dari-Nya :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَى ذَلِكَ وَتَفَرَّقَا وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ ذَاتُ حَسَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ (متفق عليه)
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Ada tujuh golongan yang kelak akan mendapatkan naungan Allah, di hari tiada naungan kecuali naungan dari-Nya. (Yaitu) seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan ibadah kepada Allah SWT, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah mereka bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, seseorang yang mengingat Allah di waktu sepi lalu meneteskan airmata, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kecantikan dan kedudukan lalu ia mengatakan sesungguhnya aku takut kepada Allah, dan seseorang yang bersedekah dengan tangan kanannya yang tidak diketahui oleh tangan kirinya.” (Muttafaqun Alaih)
3. Pemimpin yang adil (dalam konteks hadits pada poin 2), adalah pemimpin yang senantiasa menjaga amanah dengan baik, melaksanakan tugas sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah, mentaati fatwa para ulama dan orang-orang shaleh, serta memimpin untuk menegakkan kalimatullah di muka bumi. Pemimpin yang demikian ini, akan mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat :
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرُو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا (رواه مسلم)
Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil kelak di sisi Allah berada di mimbar-mimbar bercahaya di sebelah kanan Allah yang Maha Rahman sedangkan kedua tangan Allah adalah kenan; (yaitu) mereka yang berbuat adil dalam keputusan, terhadap keluarga dan dalam kepemimpinannya.” (HR. Muslim)
4. Sebaliknya, apabila seseorang diberikan amanah dan ia tidak menunaikannya dengan baik, maka Alah SWT pun kelak akan menyulitkannya. Demikianlah sebuah hakekat yang digambarkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana beliau sabdakan dalam sebuah riwayat berikut :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي بَيْتِي هَذَا اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (رواه مسلم)
Dari Aisyah ra berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda di rumahku ini, “Ya Allah barangsiapa memegang urusan umatku (mendapat amanah memimpin) dan bersikap keras (menyusahkan) kepada mereka, maka susahkanlah ia. Dan barang siapa memegang urusan umatku dan bersikap sayang kepada mereka, maka sayangilah mereka.” (HR. Muslim)
5. Bahwa terdapat sebuah kisah Al-Qadhi Abu Bakar yang penuh hikmah, pada keteguhan memegang amanah, semoga kita bisa mengambil hikmahnya :
Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzar Al-Anshari berkata: “Dulu, aku pernah berada di Makkah, semoga Allah SWT selalu menjaganya. Suatu hari aku merasakan lapar yang sangat. Aku tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menghilangkan laparku. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kantong dari sutera yang diikat dengan selempang yang terbuat dari sutera pula. Aku memungutnya dan membawanya pulang ke rumah. Ketika aku buka, aku dapatkan didalamnya sebuah kalung permata yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Aku lalu keluar dari rumah, dan saat itu ada seorang bapak tua yang berteriak mencari kantongnya yang hilang sambil memegang kantong kain yang berisi uang lima ratus dinar. Dia mengatakan, ‘Ini adalah bagi orang yang mau mengembalikan kantong sutera yang berisi permata’. Aku berkata pada diriku, ‘Aku sedang membutuhkan, aku ini sedang lapar. Aku bisa mengambil uang dinar emas itu untuk aku manfaatkan dan mengembalikan kantong sutera ini padanya’. Maka aku berkata pada bapak tua itu, ‘Wahai Bapak, kemarilah’. Lalu aku membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, dia menceritakan padaku ciri kantong sutera itu, ciri-ciri selempang pengikatnya, ciri-ciri permata dan jumlahnya berikut benang yang mengikatnya. Maka aku mengeluarkan dan memberikan kantong itu kepadanya dan dia pun memberikan untukku lima ratus dinar, tetapi aku tidak mau mengambilnya. Aku katakan padanya, ‘Memang seharusnya aku mengembalikannya kepadamu tanpa mengambil upah untuk itu’. Ternyata dia bersikeras, ‘Kau harus mau menerimanya’, sambil memaksaku terus-menerus. Aku tetap pada pendirianku, tak mau menerima. Akhirnya bapak tua itu pun pergi meninggalkanku.
Adapun aku, beberapa waktu setelah kejadian itu aku keluar dari kota Makkah dan berlayar dengan perahu. Di tengah laut, perahu tumpangan itu pecah, orang-orang semua tenggelam dengan harta benda mereka. Tetapi aku selamat, dengan menumpang potongan papan dari pecahan perahu itu. Untuk beberapa waktu aku tetap berada di laut, tak tahu ke mana hendak pergi! Akhirnya aku tiba di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku duduk di salah satu masjid mereka sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Ketika mereka tahu bagaimana aku membacanya, tak seorang pun dari penduduk pulau tersebut kecuali dia datang kepadaku dan mengatakan, ‘Ajarkanlah Al-Qur’an kepadaku’. Aku penuhi permintaan mereka. Dari mereka aku mendapat harta yang banyak.
Di dalam masjid, aku menemukan beberapa lembar dari mushaf, aku mengambil dan mulai membacanya. Lalu mereka bertanya, ‘Kau bisa menulis?’, aku jawab, ‘Ya’. Mereka berkata, ‘Kalau begitu, ajarilah kami menulis’. Mereka pun datang dengan anak-anak juga dan para remaja mereka. Aku ajari mereka tulis-menulis. Dari itu juga aku mendapat banyak uang. Setelah itu mereka berkata, ‘Kami mempunyai seorang puteri yatim, dia mempunyai harta yang cukup. Maukah kau menikahinya?’ Aku menolak. Tetapi mereka terus mendesak, ‘Tidak bisa, kau harus mau’. Akhirnya aku menuruti keinginan mereka juga. Ketika mereka membawa anak perempuan itu kehadapanku, aku pandangi dia. Tiba-tiba aku melihat kalung permata yang dulu pernah aku temukan di Makkah melingkar di lehernya. Tak ada yang aku lakukan saat itu kecuali hanya terus memperhatikan kalung permata itu. Mereka berkata, ‘Sungguh, kau telah menghancurkan hati perempuan yatim ini. Kau hanya memperhatikan kalung itu dan tidak memperhatikan orangnya’. Maka saya ceritakan kepada mereka kisah saya dengan kalung tersebut. Setelah mereka tahu, mereka meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh penduduk setempat. ‘Ada apa dengan kalian?’, kataku bertanya. Mereka menjawab, ‘Tahukah engkau, bahwa orang tua yang mengambil kalung itu darimu saat itu adalah ayah anak perempuan ini’. Dia pernah mengatakan, ‘Aku tidak pernah mendapatkan seorang muslim di dunia ini (sebaik) orang yang telah mengembalikan kalung ini kepadaku’. Dia juga berdoa, ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang itu hingga aku dapat menikahkannya dengan puteriku’, dan sekarang sudah menjadi kenyataan’. Aku mulai mengarungi kehidupan bersamanya dan kami dikaruniai dua orang anak. Kemudian isteriku meninggal dan kalung permata menjadi harta pusaka untukku dan untuk kedua anakku. Tetapi kedua anakku itu meninggal juga, hingga kalung permata itu jatuh ke tanganku. Lalu aku menjualnya seharga seratus ribu dinar. Dan harta yang kalian lihat ada padaku sekarang ini adalah sisa dari uang 100 ribu dinar itu.” (Dari Kitab Al-Rijal wa Al-Mawaqif). Dari : http://gesah.net/mag/show.php?id=1345
Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag
Label: Tadabur Hadits
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)
