وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلاَماً ﴿٦٣﴾ وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّداً وَقِيَاماً ﴿٦٤﴾ وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَاماً ﴿٦٥﴾ إِنَّهَا سَاءتْ مُسْتَقَرّاً وَمُقَاماً ﴿٦٦﴾ وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَاماً ﴿٦٧﴾ وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً ﴿٦٨﴾ يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً ﴿٦٩﴾ إِلاَّ مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً ﴿٧٠﴾ وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَاباً ﴿٧١﴾ وَالَّذِينَ لاَ يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً ﴿٧٢﴾ وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمّاً وَعُمْيَاناً ﴿٧٣﴾ وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً ﴿٧٤﴾ أُوْلَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلاَماً ﴿٧٥﴾ خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرّاً وَمُقَاماً ﴿٧٦﴾Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal".Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (QS. Al-Furqan : 63 - 76)
Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa “ibadurrahman” atau hamba-hamba Allah yang Maha Rahman adalah hamba-hamba Allah yang memiliki keimanan dan dihiasai dengan ketakwaan, serta dikasihi dan disayangi oleh Allah SWT yang Maha Rahman. Mereka disebut secara khusus dengan disandarkan kepada salah satu asma Allah yaitu Arrahman menjadi ibadurrahman, menunjukkan betapa kasih sayang Allah yang secara khusus akan Allah berikan kepada mereka. Allah SWT menyayangi mereka, kerena keimanan dan ketakwaan serta sifat dan karakteristik positif yang melekat pada diri mereka. Penyandaran mereka terhadap salah satu asma Allah ini adalah keistimewaan tersendiri bagi mereka. Dan bisa jadi, orang-orang yang usai ditarbiyah (baca ; ditraining) selama bulan Ramadhan, adalah termasuk ke dalam golongan ibadurrahman ini.
2.Bahwa hamba-hamba Allah yang Maha Rahman (ibadurrahman), memiliki sifat dan karakteristik yang unik, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Furqan 63 – 76). Al-Qur’an menyebutkannya agar dijadikan ibrah dan diteladani oleh kita semua, mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan ibadurrahman tersebut. Diantara sifat dan karakteristik mereka adalah sebagai berikut:
#1 : Mereka adalah orang-orang yang rendah hati (baca ; tidak sombong) dan senantiasa mengucapkan kata-kata yang baik. Atau sebagaimana bahasa yang digunakan dalam ayat di atas, “orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik…” (QS. Al-Furqan : 63). Subhanallah, sungguh indah penggambaran akhlak para ibadurrahman. Bahwa mereka bukan hanya orang-orang yang merendahkan hati dan tidak sombong, namum mereka juga selalu berusaha menuturkan kata-kata yang baik dan santun kendatipun dihadapan orang yang jahil sekalipun. Mereka mengindari sifat sombong karena kesombongan merupakan salah satu sifat dan karakter syaitan, dimana mereka merasa lebih mulia dibandingkan dengan manusia dan oleh karenanya Allah SWT mengusir syaitan (baca ; iblis), mengutuknya serta menjadikannya sebagai makhluk yang sangat hina ;
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ ﴿١٢﴾ قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ ﴿١٣
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina" (QS. Al-A’raf : 12 – 13)
Mereka juga senantiasa bertutur kata yang baik, adalah karena tutur kata merupakan cerminan dari jiwa seseorang. Orang yang baik, hanya akan melahirkan kata-kata yang baik, kendatipun ia berhadapan dengan orang yang sangat bejat, jahat dan kasar (baca ; jahil). Sementara berbicara dengan orang-orang seperti itu, bukanlah perkara yang mudah. Seringkali kita terpancing emosi dan membalas perkataan kasar mereka dengan ungkapan yang kasar pula. Namun ibadurrahman justru membalasnya dengan ungkapan yang baik yang digambarkan dalam ayat di atas dengan ungkapan ( قالوا سلاما ) yaitu mengucapkan kata yang mengandung pengertian “salam” seperti santun, baik, benar dan menentramkan. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ... وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ (رواه البخاري
Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “…barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka hendaklah ia bertutur kata yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari)
#2 : Mereka adalah orang-orang yang melalui malam-malamnya dengan banyak beribadah kepada Allah SWT. Atau sebagaimana yang digambarkan dalam ayat di atas “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rab mereka..” (QS. Al-Furqan : 64). Karena beribadah dengan bersujud dan berdiri (baca; shalat) dikeheningan malam, merupakan bukti “kecintaan” seorang hamba terhadap Rab-nya. Waktu-waktu ini merupakan waktu yang sangat sulit namun sekaligus juga sangat istimewa bagi setiap hamba yang mencintai Rab-nya. Karena diwaktu-waktu tengah malam diibaratkan Allah membuka tangan-Nya lebar-lebar untuk menerima taubat dan doa dari para hamba-Nya. Ustadz Sayid Qutub dalam Fi Dzilalil Qur’an bahkan mengistilahkannya “ad-daqa’iq al-ghaliyah” (detik-detik yang sangat berharga). Rasulullah SAW sendiri memberikan contoh dan ketauladanan kepada kita, dimana diriwayatkan oleh Aisyah ra bahwa beliau senantiasa shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak.” (HR. Bukhari). Shalat malam juga memiliki keistimewaan tersendiri, karena orang-orang yang “gemar” shalat malam akan Allah SWT berikan tempat yang istimewa :
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَّحْمُوداً ﴿٧٩
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS. Al-Isra’ : 79)
Namun betapa meruginya kita, karena masih jarang untuk bangun di keheningan malam untuk melaksanakan shalat. Sebaliknya kita justru lebih sering bangun di tengah malam, hanya untuk menyaksikan pertandingan sepak bola, begadang, mengobrol dan lain sebagainya. Maka mulailah untuk senantiasa membiasakan diri melaksanakan shalat di keheningan malam, semoga Allah berkenan mengangkat kita ke derajat yang terpuji.
#3.: Mereka adalah orang-orang yang banyak berdoa kepada Allah SWT agar dihindarkan dari azab nereka jahanam. Atau sebagaimana dalam digambarkan dalam ayat di atas : “Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". (QS. Al-Furqan : 65). Artinya adalah bahwa ibadurrahman merupakan orang-orang yang sangat takut terhadap azab Allah SWT. Para salafuna shaleh merupakan orang-orang yang sangat takut terhadap siksa dan azab Allah SWT. Dikisahkan dalam sebuah riwayat, bahwa Abdullah bin Rawahah ra suatu ketika tampak sedang menangis dengan sedihnya. Melihat itu, istrinya pun turut menangis hingga Abdullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Istrinya menjawab, “Melihatmu menangis, itulah yang menyebabkan aku menangis.” Abdullah bin Rawahah ra lalu bertutur, “Saat aku membayangkan bahwa aku bakal menyeberangi shirath, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau tidak. Itulah yang membuatku menangis.” (al-Kandahlawi). Dikisahkan pula bahwa Umar bin Khatab pernah berkata, “Wahai sekalian manusia, andaikata ada yg menyeru dari langit, ‘wahai sekalian manusia, sesunguhnya kalian semua masuk Surga kecuali satu orang’ Saya takut satu orang itu adalah saya.” Dikisahkan pula bahwa Yazid bin Kholsyan berkata, “Demi Allah! Saya tidak pernah melihat orang yang lebih takut dari Al Hasan Al Bashri dan Umar bin Abdul Aziz seakan Neraka diciptakan untuk mereka berdua saja. Sehingga mereka sentiasa merasa takut darinya.” Rasa takut akan azab Allah SWT menunjukkan kekuatan iman seseorang, yang sekaligus akan menjaganya dari segala perbuatan dana amalan yang tercela. Karena setiap kali akan berbuat maksiat kepada Allah, ia akan selalu teringat dahsyatnya azab dan siksa Allah SWT atas perbuatannya tersebut. Diantara penggambaran Al-Qur’an terhadap dahsyatnya azab Allah SWT adalah sebagaimana firman-Nya : Dan sesungguhnnya telah Kami sediakan neraka bagi orang-orang yang zhalim yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minuman, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek” (QS. Al-Kahfi : 29 ) Na’udzubillah min dzlik.
#4. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa “pertengahan” ketika berinfak (membelanjakan hartanya), dalam artian tidak terlalu boros dan tidak pula terlalu kikir. Atau sebagaimana digambarkan dalam ayat di atas “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. At-Thalaq : 67). Infak sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas dapat bermakna 1. menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT sebagaimana pemahaman yang umum, dan dapat juga bermakna 2. membelanjakan hartanya untuk keperluan kehidupan diri dan keluarganya. Artinya adalah bahwa ibadurrahman adalah mereka-mereka yang senantiasa “membudgetkan” sebagian hartanya untuk berinfak dan shadaqah di jalan Allah dengan jumlah yang wajar tidak terlalu sedikit dan juga tidak berlebihan, serta juga ketika membelanjakan hartanya untuk diri sendiri dan atau untuk keluarganya ia membelanjakannya secara baik tidak boros berlebih-lebihan di sisi lain juga dan tidak terlalu pelit dan kikir. Mereka membelanjakannya pertengahan diantara keduanya. Inilah cara yang tepat dalam managemen keuangan keluarga muslim. Menguatkan makna seperti ini, Allah SWT berfirman :
وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوماً مَّحْسُوراً ﴿٢٩﴾ إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيراً بَصِيراً ﴿٣٠
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kiasan terhadap orang yang terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.(QS. Al-Isra’ : 29 – 30)
#5. Mereka adalah orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah SWT. Bahwa ibadurrahman merupakan orang-orang senantiasa mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Terdapat hal unik yang diungkapkan dalam ayat 68 QS. Al-Furqan di atas, ketika menjelaskan tentang hal ini yaitu diungkapkan dengan bahasa: “tidak menyembah tuhan lain beserta Allah SWT”. Hal ini menyiratkan makna masih banyaknya kaum muslimin secara sadar atau tidak sadar yang masih melakukan hal-hal yang berbau kemusyrikan. Praktik-praktir tersebut adalah seperti meyakini adanya kekuatan-kekuatan lain selain Allah SWT, menggunakan jimat, mendatangi tukang ramal dan para dukun, dsb. Di masyarakat sendiri juga berkembang adanya kepercayaan-kepercayaan tertentu yang cenderung menjerumuskan pada kemusyrikan. Bagi sebagian pedangang ada yang menggunakan semacam “panglaris” bagi dagangannya. Bagi sebagian kelompok masyarakat lainnya ada yang meyakini tidak boleh foto bertiga, karena nanti satunya akan ada yang meninggal dunia dalam waktu dekat, dsb. Keyakinan dan kepercayaan seperti ini mengandung unsur kemusyrikan yang harus dihindarkan dari kehidupan. Adapun ibadurrahman mereka adalah orang-orang yang benar-benar mentauhidkan Allah dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mengandung unsur kemusyrikan sebagaimana di atas. Karena menyekutukan Allah SWT memiliki konsekwensi yang berat; dosa-dosa mereka tidak akan pernah diampuni oleh Allah SWT :
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً ﴿١١٦
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’ : 116)
#6. Mereka adalah orang-orang yang tidak “menghilangkan nyawa” orang lain kecuali dengan alasan yang benar. Atau sebagaimana digambarkan dalam ayat di atas bahwa mereka “tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar,” (QS. Al-Furqan : 68). Menghilangkan nyawa orang lain memiliki konsekwensi yang besar dalam Islam dan termasuk dalam jajaran dosa-dosa besar. Bila pelakunya melakukannya dengan sengaja, maka hukumannya adalah qishas atau dihukum setimpal dengan tindak kejahatannya. Bagi yang menghilangkan nyawa orang lain, maka hukumannya nyawanya juga akan dihilangkan sebagaimana perbuatannya. Namun apabila dilakukan dengan tidak sengaja, seperti seseorang yang terbunuh karena kecelakaan lalu lintas, maka hukuman bagi pelakunya adalah dengan membayar diyat (baca ; denda) berupa 100 ekor unta per satu nyawa manusia. Islam mengajarkan hal seperti ini pada hakekatnya adalah untuk “memuliakan” nyawa manusia itu sendiri, sehingga seseorang tidak akan pernah berfikir untuk membunuh atau menyakiti orang lain, sebab hukumannya sangat jelas dan berat; yaitu qishas. Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأُنثَى بِالأُنثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاء إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿١٧٨﴾
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. (QS. Al-Baqarah : 178)
#7. Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan perbuatan zina. Atau sebagaimana digambarkan dalam ayat di atas, “dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya). (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Thalaq 68 – 70). Zina merupakan perbuatan yang sangat keji dan mungkar, serta masuk dalam deretan dosa-dosa besar. Karena dampak dari perbuatan zina tidak hanya akan merusak diri para pelakunya saja, namun akan berdampak luas dalam merusak kehidupan sosial masyarakat dalam skala yang sangat luas. Oleh karena itulah, Allah SWT memberikan peringatan yang sangat keras dalam masalah perzinaan dan perbuatan ini harus dihindarkan sejauh-jauhnya. Allah SWT berfirman :
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً ﴿٣٢
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra’ : 32)
Bukan hanya itu saja, bahkan para pelaku zina juga mendapatkan “hukuman” yang sangat berat; dirajam hingga meninggal dunia (bagi yang telah menikah) dan dicambuk seratus kali cambukan bagi yang belum menikah. Allah SWT berfirman :
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلاَ تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ ﴿٢
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (QS. An-Nur : 2)
Bahwa menyekutukan Allah, membunuh dan berbuat zina disebutkan secara satu rangkaian pada ayat yang ke 68 QS. Al-Furqan, menggambarkan bahwa ketiga perbuatan tersebut merupakan perbuatan dosa besar. Atau sebagaimana di sebutkan dalam poin ke #5, #6 dan #7 dalam penjelasan di atas. Allah SWT bahkan hingga menutup ayat ke 68-69 QS. Al-Fuqran ini dengan ungkapan “barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya) (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”. Sebagai gambaran betapa besarnya dosa ketiga perilaku ini, bahwa mereka akan “kekal” mendapatkan azab dan murka Allah SWT di hari akhir kelak. Oleh karenanya ketiga perbuatan ini harus dihindarkan sejauh-jauhnya dalam kehidupan setiap orang yang mendambakan keridhaan Allah SWT. Adapun ketiga hal ini “sengaja” disebutkan, faedahnya adalah agar manusia selalu ingat. Karena bagaimanapun manusia harus tetap dan selalu diingatkan, karena manusia “tempatnya” khilafan dan kealpaan.
Namun bagaimanapun juga, betapa Allah SWT adalah Maha Rahman. Allah SWT tetap akan mengampuni siapapun yang melakukan kesalahan dan kekhilafan apabila pelakunya benar-benar mau memperbaiki diri dan bertaubat kepada Allah SWT dengan taubat yang sebenar-benarnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam lanjutan ayat di atas, yaitu QS. Al-Furqan 69 – 71: “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” Jika mereka bertaubat selama hayat masih di kandung badan dan bukan dalam kondisi sakaratul maut, serta melakukan perbuatan amal shaleh maka Allah SWT akan mengampuni segala dosa dan kekhilafan mereka. Namun apabila mereka tiada bertaubat, atau bertaubat ketika sakaratul maut, maka tiada ampunan bagi mereka dan bagi mereka adalah azab yang pedih :
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً ﴿١٨
Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (QS. An-Nisa : 18)
#8. Mereka adalah orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu. Atau sebagaimana dibahasakan dalam ayat di atas, “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu” (QS. Al-Furqan : 72). Karena persaksian palsu masuk dalam kategori dosa-dosa besar yang harus ditinggalkan oleh setiap muslim. Persaksian palsu akan menimbulkan kedzaliman dan menghilangkan esensi mendasar dalam agama Islam, yaitu keadilan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras terhadap persaksian palsu sebagaimana digambarkan dalam riwayat berikut :
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ (متفق عليه
Dari Abu Bakrah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kalian aku beritahu dengan sebesar-besarnya dosa besar? (Beliau bertanya seperti itu tiga kali). Sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “(yaitu) menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua” Pada saat itu beliau sedang bersandar, kemudian duduk lalu bersabda, “Ingatlah, juga perkataan palsu dan persaksian palsu. Ingatlah, juga perkataan palsu dan persaksian palsu” Beliau terus mengulang-ulangnya hingga kami berkata, sekiranya beliau diam.” (Muttafaqun Alaih)
Bahkan dalam riwayat lainnya, Rasulullah SAW menggambarkan bahwa seseorang yang bersumpah palsu akan dimasukkan ke dalam neraka dan diharamkan baginya surga:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ فَقَدْ أَوْجَبَ اللَّهُ لَهُ النَّارَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ (رواه مسلم
Dari Abu Umamah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mengambil hak seorang muslim dengan sumpah palsu maka Allah SWT pasti akan memasukkannya ke dalam neraka dan mengharamkan baginya surga. Seorang laki-laki bertanya, ‘Sekalipun barang yang tidak berarti wahai Rasulullah?” Belaiu menjawab, ‘Sekalipun hanya satu tangkai dari batang pohon arak (untuk bersiwak).” (HR. Muslim)
#9. Mereka adalah orang-orang yang menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat (laghwu). Perbuatan yang tidak memiliki faedah dan manfaat disebut dengan laghwu, yaitu segala perbuatan yang sama sekali tidak memiliki manfaat dan cenderung melalikan dari mengingat Allah SWT. Al-Zamachsyari mengemukakan, laghwu adalah segala sesuatu yang tidak memberikan manfaat, baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Sedangkan Syekh Abu Bakar Al-Jaza’iri juga mengemukakan, bahwa laghwu adalah segala hal tidak bermanfaat yang tidak diridhai Allah SWT, baik berupa perkataan, perbuatan dan sesuatu yang dipikirkan. Diantara bentuk perbuatan yang mengandung unsur laghwu adalah duduk-duduk di jalanan, melihat dan mendengarkan (menonton) tayangan sesuatu yang tidak bermanfaat, berlebihan dalam candaan, guyonan, main kartu, dsb. Ibadurrahman tidak terjebak pada perbuatan-perbuatan seperti itu, bahkan jika mereka bertemu atau melalui orang-orang yang melakukan laghwu, mereka melewatinya dengan tetap menjaga kehormatan dirinya artinya tidak turut melakukan perbuatan seperti yang mereka lakukan. Sifat meninggalkan laghwu juga merupakan sifat ahli surga Firdaus :
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ﴿٣
Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. (QS. Al-Mu’minun – 3)
#10. Mereka adalah orang-orang yang mendengarkan firman Allah SWT dan sangat memperhatikan peringatan Rab-Nya. Atau sebagaimana digambarkan dalam bahasa ayat di atas, “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan : 73). Artinya mereka adalah orang-orang yang sangat takut terhdap peringatan Rab-nya sehingga apabila dibacakan firman-firman-Nya, mereka akan benar-benar mendengarkan, memperhatikan dan juga melaksanakan firman-firman Allah SWT. Dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal : 2)
#11. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa membina dan mendoakan keluarganya agar menjadi orang yang bertakwa. Atau sebagaimana digambarkan dalam ayat di atas “. Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan : 74). Membina dan mendidik keluarga agar menjadi keluarga yang selamat dunia akhirat merupakan perintah Allah SWT. Dalam salah satu ayat-Nya, Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلاَئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴿٦
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6)
Karena pada hakekatnya, setiap orang juga mendambakan memiliki keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Dan diantara indikator terpenting dari keluarga yang demikian adalah keluarga yang orientasi dasarnya adalah keridhaan Allah SWT.
3. Bahwa ibadurrahman dengan 11 sifat dan karakteristiknya sebagaimana di atas, akan mendapatkan derajat yang mulia di dalam surga di sisi Allah SWT. Ini merupakan “balasan” kebaikan dari Allah SWT kepada orang-orang yang beramal shaleh, atas segala jerih payah mereka ketika menjalani kehidupan di dunia. Mereka mendapatkan derajat yang tinggi, diberi penghormatan yang mulia, disambut dengan ucapan selamat dan kekal selamanya di dalam surga. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah SWT “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqan : 76). Semoga kita semua bisa seperti Ibadurrahman, yang mendapatkan janji berupa surga dan kemuliaan, serta keridhaan-Nya, Amiiin ya Rabbal Alamin...
Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag
Label: Tadabur Ayat
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-baqarah : 183 – 184)
Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa puasa merupakan kewajiban bagi setiap orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, kaya maupun miskin yang telah masuk dalam kategori mukallaf, yaitu pria yang telah baligh ataupun wanita yang telah haid, sehat, berakal dan muqim (tidak musafir). Kewajiban berpuasa kepada orang yang beriman ini sangat jelas tersurat dalam QS. Al-Baqarah : 183 di atas, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa…”. Bahkan puasa Ramadhan bukan hanya sebuah kewajiban, melainkan merupakan rukun Islam yang ke empat, dimana siapapun yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, bisa dihukumi sebagai orang yang kafir atau ingkar dari agama Islam. Dalam sebuah hadits disebutkan :
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ - متفق عليه
Dari Abdullah bin Umar ra, dari ayahnya (Umar bin Khattab ra) bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Islam itu ditegakkan di atas lima perkara; mempersaksikan bahwasanya tiada ilah selain Allah SWT dan bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.” (Muttafaqun Alaih)
2. Bahwa puasa Ramadhan diwajibkan oleh Allah SWT pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriah. Ini berarti bahwa Rasulullah SAW berkesempatan untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sebanyak 9 kali. Dan sebelum adanya perintah untuk melaksankan ibadah puasa Ramadhan, Rasulullah SAW memerintahkan untuk berpuasa Asyura’. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan, “ketika sampai di Madinah, Rasulullah SAW mendapati orang Yahudi berpuasa pada Hari ‘Asyura, karena Allah telah menyelamatkan Nabi Musa pada hari itu. Nabi lalu bersabda, “Aku lebih berhak terhadap Nabi Musa.” Kemudian beliau berpuasa pada hari tersebut dan mengajak kaum muslimin untuk berpuasa juga”. Ketika diwajibkan puasa pada bulan Ramadhan, puasa ‘Asyura menjadi sunnah. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah, beliau mengatakan, “Bahwa Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa pada Hari ‘Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan. Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, maka bagi yang mau berpuasa asyura boleh berpuasa dan yang tidak mau boleh tidak berpuasa.” Dari Aisyah ra , beliau juga mengatakan, “Hari ‘Asyura adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy di masa Jahiliyah. Ketika Islam datang, Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa mau berpuasa, silahkan berpuasa; dan barang siapa tidak mau, silakan meninggalkannya.” (Hadits riwayat Muslim).
3. Demikian pentingnya puasa Ramadhan bagi setiap muslim, Allah SWT memberikan benefit dan pahala khusus bagi mereka yang berpuasa. Diantara bentuknya adalah bahwa Allah menyediakan satu pintu khusus di surga yang disebut dengan pintu Ar-Rayan, yang disediakan khusus bagi orang-orang yang berpuasa. Dalam sebuah riwayat disebutkan :
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لَا يَدْخُلُهُ إِلَّا الصَّائِمُونَ - رواه البخاري
Dari Sahal bin Saad ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Di surga ada delapan pintu. Salah satunya pintu surga disebut dengan Ar-Rayyan, yang tidak akan dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa" (HR Bukhari)
4. Bersih diri, bersih hati, bersih rizki dan bersih investasi, merupakan kunci meraih kemuliaan bulan Ramadhan. Karena ternyata tidak sedikit orang yang melewati bulan Ramadhan, namun tidak ada perubahan berarti dalam kehidupannya. Sebab, bagaimana mungkin seseorang akan meraih kemuliaan di bulan Ramadhan, apabila dirinya masih “kotor”, hatinya masih mendengki, rizkinya masih syubhat bahkan haram dan investasinya masih ribawi. Allah SWT tidak akan menerima amalan seorang hamba kecuali yang baik-baik saja. Dalam sebuah riwayat disebutkan :
)عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ - رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kepada kaum mu’minin sebagaimana yang Allah perintahkan kepada para Rasul utusan-Nya. Allah berfirman, ‘Wahai para Rasul, makanlah dari yang baik-baik dan berbuatlah amal shaleh, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” Allah SWT juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman makanlah dari yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepada kalian..” Kemudian Rasulullah SAW menceritakan tentang seorang laki-laki yang panjang perjalanannya, rambutnya masai dan pakaiannya lusuh kemudian ia menengadahkan tangannya ke atas seraya berdoa, ‘Ya Allah (terimalah ibadahku), Ya Allah (kabulkan permintaanku)’, sementara makanannya haram, pakaiannya haram, minumannya haram dan ia hidup dengan rizki yang haram. Maka bagiamakah orang yang seperti ini akan dikabulkan? (HR. Muslim)
5. Maka hendaknya kita mulai puasa Ramadhan kita di tahun 1432 H ini dengan kebersihan diri, kebersihan hati, kebersihan rizki dan kebersihan investasi.
- a. Kebersihan diri relatif mudah dan telah banyak dilakukan oleh kaum muslimin, seperti menyambut Ramadhan dengan melakukan mandi besar, membersihkan kotoran-kotoran yang melekat di badan, menggunting kuku, mencukur bulu kemaluan (istihdad), mencabut bulu pada ketiak, dsb. Dalam sebuah riwayat, Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Fitrah (kebersihan) itu ada lima; khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, menggunting kuku dan mencabut bulu di ketiak’ (HR. Bukhari)
- b. Kebersihan hati dapat dilakukan dengan memperbanyak taubat kepada Allah SWT atas segala dosa dan khilaf, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. Tidak ada salahnya pula dengan saling meminta maaf kepada orang tua, saudara, handai tolan, tetangga, rekan kerja dsb, agar ketika memasuki bulan suci, hati kita pun telah suci pula.
- c. Sedangkan kebersihan rizki artinya bahwa kita harus memastikan bahwa seluruh rizki yang dapatkan adalah rizki yang halal dan bersumber dari sumber-sumber yang halal pula. Kita harus memastikan bahwa setiap lembar uang yang kita terima, telah benar-benar kita yakini kehalalannya. Karena apabila rizki tidak halal, tentunya Allah SWT akan enggan menerima amal ibadah kita, sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas ‘Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan Allah tidak akan menerima kecuali dari yang baik-baik…’ (HR. Muslim)
- d. Adapun kebersihan investasi, artinya bahwa di bulan Ramadhan yang suci ini, tidak seharusnya kaum muslimin masih berinteraksi dengan investasi, asuransi ataupun melakukan transaksi yang tidak sesuai dengan syar’i. Misalnya di bulan Ramadhan yang penuh ampunan, namun justru bermuamalah dengan riba di perbankan konvensional, berasuransi dengan asuransi konvensional, menggunakan kartu kredit konvensional, dsb. Penggunaan hal-hal haram seperti ini akan berdampak pada “tidak diterimanya” amalan dan doa kita, sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas; “…sementara makanannya haram, pakaiannya haram, minumannya haram dan ia hidup dengan rizki yang haram. Maka bagiamakah orang yang seperti ini akan dikabulkan? (HR. Muslim)
6. Oleh karenanya, patut bagi kita untuk berusaha semampu kita agar meraih kemuliaan di Ramadhan tahun ini. Karena bisa jadi, Ramadhan tahun 1432 H ini merupakan Ramadhan terakhir bagi kita. Tiada seorang pun di dunia ini yang mengetahui, apa yang akan terjadi esok hari? Dan bahkan tiada seorang pun yang tahu, di negeri mana ia nanti akan kembali (menghadap Allah SWT)? Allah SWT berfirman :
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman 34)
Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag
Label: Tadabur Ayat
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raf : 96)
Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa “keimanan” dan “ketakwaan” merupakan modal utama untuk mendatangkan keberkahan, baik keberkahan dalam skala individu (personal), maupun keberkahan dalam skala kolektif. Pengertian dan makna iman lebih menitikberatkan pada sisi “sesuatu yang tertanam di dalam diri setiap insan; berupa keyakinan kepada Allah, yakin akan karunia-Nya, yakin akan surga dan neraka-Nya, dsb, lalu kemudian diikrarkan dengan lisan, serta diamalkan oleh seluruh anggota badan”. Sedangkan takwa berasal dari kata “waqa” yang berarti menjaga dan memelihara. Para ulama mendifinisikan takwa dengan “menjauhkan diri dari kemurkaan, azab, teguran dan ancaman Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya serta menjauhi hal-hal yang dapat mengarahkannya pada larangan-larangan Allah SWT.”
2. Iman dan takwa merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Syekh Dr. Abdullah Nasih Ulwan (1996 : 6 – 7) mengemukakan : “taqwa lahir sebagai konsekwensi logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah; merasa takut terhadap murka dan adzab-Nya dan selalu berharap atas limpahan karunia dan maghfirah-Nya.” Dari sini dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa tidak mungkin ketaqwaan muncul tanpa adanya keimanan kepada Allah SWT. Pernah suatu ketika Umar bin Khattab ra bertanya kepada Ubai bin Ka’ab ra tentang taqwa. Ubai menjawab, ‘Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh duri?’ Umar menjawab, ‘ya!’. Ubai bertanya lagi, ‘Apa yang anda lakukan saat itu?’ Umar menjawab, ‘ Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati.’ Ubai berkata lagi, ‘Itulah taqwa.” Berpijak dari jawaban Ubai di atas, Sayid Qutub mengemukakan, ‘Itulah taqwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan… Jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, haparan semu atas segala sesuatu yang tidak bisa diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti… dan masih banyak duri-duri yang lainnya….”
3. Apabila iman dan takwa terangkai menjadi satu kesatuan dalam diri seorang muslim, atau dalam jiwa suatu institusi atau suatu bangsa, maka Allah SWT akan membukakan pintu-pintu keberkahan-Nya terhadap mereka. Bentuk keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT diantaranya adalah seperti memiliki orientasi dan motivasi hanya untuk mencari ridha Allah SWT, taat dan patuh terhadap syariah dalam arti menjalani kehidupannya benar-benar sesuai dengan aturan dan hukum-hukum Allah SWT, atau dalam menjalankan bisnis (bila perusahaan) sesuai dengan ketetapan syariat dan fatwa para ulama, atau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara membuat undang-undang dan peraturan yang mengarahkan manusia untuk semakin dekat dan taat kepada Allah SWT. Apabila telah berjalan seperti itu, maka Allah SWT akan membukakan pintu-pintu keberkahan-Nya dari segala penjuru; dari langit yaitu segala sesuatu yang ada di langit dan Allah turunkan dari langit maupun bumi, yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam perut bumi.
4. Keberkahan memiliki makna yang sangat luas. Namun apabila disimpulkan, makna keberkahan akan bermuara pada dua makna besar, yaitu yang pertama tumbuh dan bertambah, kedua ; kebaikan yang berkesinambungan. Seseorang yang berkah hidupnya, insya Allah akan senantiasa tumbuh dan bertambah segala nikmat dari Allah SWT, baik nikmat lahir maupun nikmat bathin. Di samping itu, ia juga akan mendapatkan kebaikan yang berkesinambungan, seperti kesehatan, keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah, dicintai dan disayangi masyarakatnya, dihargai dan dihormati, didengarkan ucapan dan nasehatnya, dsb. Walaupun yang perlu digarisbawahi juga adalah bahwa kebaikan dan perkembangan tersebut tidak boleh hanya dipahami dalam wujud yang riil, yaitu jumlah harta yang senantiasa bertambah dan berlipat ganda. Kebaikan dan perkembangan harta, dapat saja terwujud dengan berlipat gandannya kegunaan harta tersebut, walaupun jumlahnya tidak bertambah banyak atau tidak berlipat ganda. Misalnya, mungkin saja seseorang yang hanya memiliki sedikit dari harta benda, akan tetapi karena harta itu penuh dengan keberkahan, maka ia terhindar dari berbagai mara bahaya, penyakit, dan tenteram hati dan kehidupannya.
5. Sebaliknya jika seseorang, suatu komunitas, sebuah organisasi, satu perusahaan atau suatu bangsa “mendustakan” ayat-ayat Allah SWT, maka Allah SWT akan menimpakan “siksa” yang diakibatkan oleh perbuatan mereka sendiri. Siksa, azab atau peringatan dari Allah SWT tersebut dapat berupa dicabutnya keberkahan. Seorang trainer dan konsultan management pernah mengungkapkan perihal adanya sebuah perusahaan besar yang memiliki karyawan besar, aset besar dan keuntungan besar. Namun anehnya apabila “ditotal” antara keuntungan dengan “pengeluaran”, ternyata tidak seimbang. Perusahaan tersebut memang memiliki keuntungan besar, namun mungkin karena “ketidakberkahannya” sehingga akhirnya justru merugi. Gedungnya mendapatkan musibah; terbakar, kendaraan-kendaraan beratnya banyak yang rusak, alat-alatnya ada yang dicuri, karyawannya banyak yang sakit sehingga perlu biaya pengobatan yang besar dsb. Sehingga jika diakumulasikan, ternyata keuntungan yang besar itu tidak seimbang dengan total kerugian yang dideritanya. Inilah buah dari ketidakberkahan, semoga Allah SWT menghindarkan kita semua dari hal tersebut.
6. Dalam kehidupan, terdapat hikmah yang patut kita petik agar menjadi pelajaran bagi kita semua. Utz Jamil Az-Zaini dalam bukunya Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia (2008 : 40 – 43) menceritakan sebuah kisah yang perlu kita petik hikmahnya, “Pak Deden adalah direktur perusahaan ternama, hidupnya nyaman dan serba kecukupan. Berputra 3 orang dari seorang istri yang jelita. Namun di hari tuanya, Pak Deden merasa galau dengan masa depan putra-putrinya. Ia juga galau karena kehdupannya terasa hambar. Begitu banyak formalitas yang dihadapinya penuh intrik, basa-basi dan minim ketulusan. Selama lebih satu jam ngobrol dengan beliau, saya cenderung menjadi pendengar saja. Sampai pada satu titik obrolan, Pak Deden bertanya pada saya, “Mas, pernahkan Mas Jamil kenal atau bertemu dengan seseorang yang peduli dengan orang lain, yang hidupnya dipenuhi keberuntungan dan berkah?” Mendengar pertanyaan itu, terlintas di kepala satu sosok yang amat saya kenal. “Ada Pak, namanya Pak Didin,” jawab saya. Maka berceritalah saya tentang sosok Pak Didin kepada Pak Deden. “Pak Didin adalah seorang Ustadz. Dari segi usia, hampir sama dengan Pak Deden. Meski sudah lama mengenalnya tapi kesempatan 26 hari bersamanya saat naik haji, semakin menegaskan sosoknya. Pak Didin adalah figur yang sangat peduli dengan orang lain. Ia amat peduli dengan upaya mengentaskan kemiskinan dengan menggunakan dana zakat, infak dan shadaqah (ZIS). Keingingan terbesar beliau adalah mengangkat orang miskin (mustahik) menjadi pembayar zakat (muzaki). Dan untuk mewujudkan keingingannya tersebut, ia menghabiskan banyak waktu untuk menulis buku, melakukan studi, berkeliling Indonesia dan dunia menyadarkan umat tentang pentingnya pengentasan kemiskinan dengan menggunakan dana ZIS. Semua dilakukan tanpa pamrih. Saya yakin itu, karena ia dulu pernah saya tanya soal “tarif” ketika ia memberi ceramah. Ketika itu ia menjawab, “Untuk urusan menyebarkan kebaikan, menebar maslahat dan membagi ilmu, saya takkan pernah pasang tarif sampai kapanpun.” Hidup Pak Didin dipenuhi berkah. Istrinya pastilah istri yang shalehah. Anak-anak mereka berwajah bagus dan cerdas. Anak pertama mendapat beasiswa S3 di Malaysia. Anak kedua menerima beasiswa memperdalam ekonomi syariah di Inggris. Anak ketiga juga mendapat beasiswa besekolah di Pakistan. Sementara anak keempat tak kalah hebatnya, mendapat panggilan beasiswa dari Singapura. Saya dan orang yang pernah bersama belaiu iri melihat kehidupannya. Ilmu agamanya luas. Bacaan Al-Qur’annya fasih. Urusan dunianya lancar. Setiap tahun menunaikan ibadah hai karena menjadi pembimbing. Kerap mendapat undangan berbicara ke mancanegara untuk berbagi ilmu. Yang lebih menakjubkan walaupun menjadi tokoh nasional, kehidupannya tetap bersahaja, tenang, dan ramah bersahabat kepada siapapun. Belum selesai saya bercerita, Pak Deden sudah memotong, “Andai saya dulu bisa memilih. Saya lebih senang menjadi Pak Didin bukan Deden. Kehidupan dunia, bisa dia taklukkan dan insya Allah kebahagiaan akhirat pun sudah menunggunya.” Sambil berjabat tangan meninggalkan tempat, kami sepakat bahwa untuk menggapai keberuntungan dan berkah hidup kita barus banyak berbagi. Banyak menebar energi positif (epos) dan banyak berempati.”
7. Maka, untuk menghindarkan diri dari ketidakberkahan, kita perlu memupuk keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Kita perlu membenahi kembali motivasi dan orientasi serta obsesi dalam hidup; jangan semata-mata mengejar materi dan “profit” duniawi semata, yang terkadang untuk mengejarnya hingga “rela” dan “tega” mengabaikan dan melanggar syariah Allah, “mengabaikan” para ulama, menghalalkan segala cara, dsb. Sebab, apabila keberkahan telah hilang, maka tiada kebahagiaan yang akan didapatkan, kendatipun mungkin banyak memiliki harta dan uang. Sebaliknya tanpa keberkahan kehidupan akan menjadi tidak nyaman dan tidak tentram, dibenci dan dihindari semua orang, serta diliputi rasa ketakutan dan kekhawatiran. Na’udzubillah min dzalik..
Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag
Label: Tadabur Ayat
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)
