Rehad (Renungan Hadits) 89
Thuma'ninah Dalam Shalat
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِد،َ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَرَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّلَامَ، قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَل،ِّ فَرَجَعَ الرَّجُلُ فَصَلَّى كَمَا كَانَ صَلَّى، ثُمَّ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ عَلَيْه،ِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْكَ السَّلَام،ُ ثُمَّ قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ، حَتَّى فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّات،ٍ فَقَالَ الرَّجُلُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا، عَلِّمْنِي، قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآن،ِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw memasuki sebuah masjid, lalu seorang laki-laki datang & melaksanakan shalat. Kemudian dia mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw membalas salamnya seraya berkata, 'Kembalilah, ulangilah shalatmu, karena sesungguhnya kamu belum shalat. Lalu ia kembali dan shalat sebagaimana sebelumnya dia shalat. kemudian ia mengucapkan salam kepada beliau. Maka Rasulullah Saw menjawab, 'Semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu' kemudian beliau bersabda lagi, 'Kembalilah dan shalatlah lagi, karena kamu belum shalat', hingga dia melakukan hal tersebut tiga kali. Lalu laki-laki tersebut berkata, 'Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik selain daripada ini, ajarkanlah kepadaku.' Beliau bersabda, 'Apabila kamu mendirikan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah sesuatu yang mudah dari al-Qur'an, kemudian ruku'lah hingga bertuma'ninah dalam keadaan ruku'. Kemudian angkatlah (kepalamu dari ruku') hingga lurus berdiri, kemudian sujudlah hingga bertuma'ninah dalam keadaan sujud, kemudian angkatlah hingga bertuma'ninah dalam duduk, kemudian lakukan hal tersebut dalam shalatmu semuanya'." (HR. Muslim, hadits no. 602)
Hikmah Hadits ;
1. Pentingnya thumaninah (tenang, perlahan dan tidak tergesa-gesa) dalam mengerjakan shalat. Bahkan, menurut pendapat ulama Malikiyah, thuma'ninah meruapakan salah satu rukun dalam shalat, yang apabila ditinggalkan maka mengakitbatkan tidak sahnya shalat yang dikerjakan oleh seseorang.
2. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam riwayat di atas, ketika ada seorang laki-laki yang mengerjakan shalat namun tidak thuma'ninah, ia terburu-buru sehingga tidak sempurna takbirnya, ruku'nya, sujudnya, dan bacaannya. Maka seolah Nabi Saw mengatakan kepadanya bahwa shalatnya tidak sah dan Nabi Saw memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya. Namun ketika mengulangi shalatnya ia pun masih melakukan hal yang sama seperti shalat sebelumnya. Maka Nabi Saw pun kembali menyuruhnya untuk kembali mengulangi shalatnya, hingga 3 kali seperti itu. Maka tidakkah terbayang oleh kita, apabila kita mengerjakan shalat, seperti shalat tarawih misalnya, lalu kita tergesa-gesa mengerjakannya, hanya berharap agar cepat selesai dengan meninggalkan kethuma'ninahan. Tentu kita tidak berharap kalau kita dianggap seperti tidak melaksanakan shalat sama sekali, atau shalat kita menjadi tidak sah oleh karenanya.
3. Maka oleh karenanya, hendaknya kita berusaha untuk mengerjakan shalat secara thuma'ninah, sebagaimana dipesankan Nabi Saw dalam hadits di atas, yaitu dengan menyempurnakan dan thuma'ninah dalam takbir, ruku', i'tidal, sujud, dan juga dalam bacaan shalat kita, agar shalat kita adalah shalat yang diterima dan diridhai Allah Swt. Ya Allah terimalah shalat kami dan seluruh amal ibadah kami, khususnya ibadah yg kami lakukan di bulan Ramadhan ini... Amiiin Ya Rabbal Alamiin.
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
Rehad 088. Bersikap Bijak Ketika Menjadi Imam Dalam Shalat Berjamaah
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 01.57Rehad (Renungan Hadits) 88
Bersikap Bijak Ketika Menjadi Imam Dalam Shalat Berjamaah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمْ النَّاسَ فَلْيُخَفِّف،ْ فَإِنَّ فِيهِمْ الصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَالْمَرِيض،َ فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian mengimami manusia (dalam shalat berjamaah), maka hendaklah ia meringankannya. Karena di antara mereka ada anak kecil, orang tua, orang yang lemah, dan orang yang sedang sakit. Namun apabila ia shalat sendirian, maka silahkan dia shalat sekehendaknya." (HR. Muslim, hadits no. 714)
Hikmah Hadits ;
1. Pentingnya shalat berjamaah, dimana keutamaan shalat berjamah adalah lebih baik 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian. Maka oleh karenanya, kaum muslimin sejak zaman Nabi Saw sangat antusias melaksanakan shalat secara berjamaah, baik laki-laki, perempuan, tua, muda, besar, kecil, bahkan orang sakitpun turut antusias mengerjakan shalat berjamaah di masjid.
2. Maka Nabi Saw menganjurkan agar Imam memahami situasi dan kondisi shalat berjamaahnya. Dari aspek kondisi waktu yang tersedia, lingkungan yang ada, termasuk siapa saja yang hadir menunaikan shalat berjamaah. Karena bisa jadi, banyak orang tua, anak-anak, atau bahkan orang sakit yang turut menjadi ma'mumnya. Dan hendaknya Imam bersikap bijak, yaitu tidak terlalu memanjangkan bacaan shalatnya, jika kondisinya demikian adanya. Atau juga jika ada kondisi lainnya, seperti shalat berjamaah di pusat keramaian manusia, seperti di area rumah makan, rest area, terminal, airport, stasiun, rumah sakit, dsb. Karena umumnya mereka adalah orang-orang yang waktunya terbatas, dan antrian untuk melaksanakan shalat juga terkadang cukup panjang, karena keterbatasan kapasitas mushallanya. Maka sebaiknya Imam juga tidak memanjangkan bacaannya, jika kondisinya demikian adanya.
3. Apabila ingin memanjangkan bacaan dalam shalatnya, maka silakan saja ia memanjangkan bacaannya sesuai dengan keinginan hatinya, jika ia sedang shalat sendirian, seperti ketika shalat tahajud sendiri, atau ketika melaksanakan shalat-shalat lainnya. Atau terkecuali juga di tempat-tempat atau acara-acara yang memang sudah dikondisikan sejak awal, atau sudah diberitahu sejak awal, bahwa di masjid tersebut akan melaksanakan shalat malam secara berjamaah dengan bacaan yang cukup panjang.
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
Rehad 088. Bersikap Bijak Ketika Menjadi Imam Dalam Shalat Berjamaah
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 01.57Rehad (Renungan Hadits) 88
Bersikap Bijak Ketika Menjadi Imam Dalam Shalat Berjamaah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمْ النَّاسَ فَلْيُخَفِّف،ْ فَإِنَّ فِيهِمْ الصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَالْمَرِيض،َ فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian mengimami manusia (dalam shalat berjamaah), maka hendaklah ia meringankannya. Karena di antara mereka ada anak kecil, orang tua, orang yang lemah, dan orang yang sedang sakit. Namun apabila ia shalat sendirian, maka silahkan dia shalat sekehendaknya." (HR. Muslim, hadits no. 714)
Hikmah Hadits ;
1. Pentingnya shalat berjamaah, dimana keutamaan shalat berjamah adalah lebih baik 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian. Maka oleh karenanya, kaum muslimin sejak zaman Nabi Saw sangat antusias melaksanakan shalat secara berjamaah, baik laki-laki, perempuan, tua, muda, besar, kecil, bahkan orang sakitpun turut antusias mengerjakan shalat berjamaah di masjid.
2. Maka Nabi Saw menganjurkan agar Imam memahami situasi dan kondisi shalat berjamaahnya. Dari aspek kondisi waktu yang tersedia, lingkungan yang ada, termasuk siapa saja yang hadir menunaikan shalat berjamaah. Karena bisa jadi, banyak orang tua, anak-anak, atau bahkan orang sakit yang turut menjadi ma'mumnya. Dan hendaknya Imam bersikap bijak, yaitu tidak terlalu memanjangkan bacaan shalatnya, jika kondisinya demikian adanya. Atau juga jika ada kondisi lainnya, seperti shalat berjamaah di pusat keramaian manusia, seperti di area rumah makan, rest area, terminal, airport, stasiun, rumah sakit, dsb. Karena umumnya mereka adalah orang-orang yang waktunya terbatas, dan antrian untuk melaksanakan shalat juga terkadang cukup panjang, karena keterbatasan kapasitas mushallanya. Maka sebaiknya Imam juga tidak memanjangkan bacaannya, jika kondisinya demikian adanya.
3. Apabila ingin memanjangkan bacaan dalam shalatnya, maka silakan saja ia memanjangkan bacaannya sesuai dengan keinginan hatinya, jika ia sedang shalat sendirian, seperti ketika shalat tahajud sendiri, atau ketika melaksanakan shalat-shalat lainnya. Atau terkecuali juga di tempat-tempat atau acara-acara yang memang sudah dikondisikan sejak awal, atau sudah diberitahu sejak awal, bahwa di masjid tersebut akan melaksanakan shalat malam secara berjamaah dengan bacaan yang cukup panjang.
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
