Rehad 115. Pesona Dunia Yang Hijau Dan Mempesona
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 23.17Rehad (Renungan Hadits) 115
Pesona Dunia Yang Hijau Dan Mempesona 115
عن مُسْتَوْرِدًا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ، وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَم،ِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِع (رواه مسلم)
Dari Mustaurid ra (beliau adalah salah seorang dari bani Fihr) berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Demi Allah, tidaklah dunia ini dibandingkan dengan akhirat, kecuali hanya sebanding dengan jari telunjuk salah seorang dari kalian yang dimasukkan ke dalam lautan samudra, maka perhatikanlah apa yang terbawa di jari tersebut?." (HR. Muslim, hadits no. 5101)
Hikmah Hadits ;
1. Dunia dan segala pernak pernik dan kemilaunya adalah pesona yang menipu dan memperdaya manusia. Siapapun dia, selagi dia masih merupakan seorang manusia, baik laki2 maupun perempuan, tua maupun muda, besar maupun kecil, mengerti ilmu agama ataupun awam terhadap ilmu agama, semuanya punya daya tarik yang sama, yaitu terpesona dengan kemilaunya dunia. Dunia dalam maknanya yang luas tidak hanya terbatas pada harta bendanya saja, namun mencakup pada 5-Ta, yaitu ; harta, tahta, wanita, kata (pujian dan eksistensi) dan cinta (popularitas, dicinta dan di elu-elukan dimana-mana).
2. Itulah dunia, dengan segala kemilau dan pesonanya yang kerap kali menjadi sumber perpecahan dan sumber malapetaka. Siapa yang tidak terpesona melihat uang yang melimpah ruah? Mobil yang mewah? Rumah yang megah? Wanita cantik yang senyumnya merekah? Pujian dari banyak orang yang membuat perasaan bangga dan membuncah? Atau juga dicintai dan dipuja-puji banyak orang di seluruh tempat dan wilayah? Itulah dunia, yang terkadang dapat membuai manusia hingga membuat suami istri bertengkar karenanya, saudara kandung saling gontok-gontokan olehnya, teman sekantor saling konflik akibatnya, bahkan bisa terjadi organisasi Islam dan lembaga Da'wah, terpecah belah dan "terkubu-kubu-kan" lantarannya.
3. Padahal, jika dibandingkan dengan akhirat, kehidupan dunia dengan segala kemilau dan pesona yang tersimpan di dalamnya; hartanya, tahtanya, wanitanya, katanya dan cintanya, pada hakekatnya hanyalah seumpama jari telunjuk yang dicelupkan ke dalam luasnya lautan samudra yang membentang. Maka air yang tersisa dan melekat di jari telunjuk kita diantara luasnya air samudra adalah ibarat dunia dan segala isinya. Sementara bentangan air laut dan samudra nan membentang dari timur ke barat, utara dan selatan, adalah kebahagiaan dan keaenangan kehidupan akhirat yang abadi dan kekal selamanya.
Masya Allah...jika kita mau jujur, betapa ternyata telah jauh kita terperdaya dengan kehidupan dunia. Pagi, siang, sore dan malam, kita letih lantaran berlari mengejar dunia...Ya Allah.. ampunilah kami.. Tunjukilah jalan kami, agar kami dan keluarga kami terhindar dari tipu daya dan kemunafikan-kemunafikan kehidupan dunia....
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag.
Label: Rehad
Rehad 114. Menghindari Perkara Syubhat Dalam Muamalah
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 20.30Rehad (Renungan Hadits) 114
Menghindari Perkara Syubhat Dalam Muamalah
عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ وَمَنْ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيهِ مِنْ الْإِثْمِ أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ وَالْمَعَاصِي حِمَى اللَّهِ مَنْ يَرْتَعْ حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ (رواه البخاري)
Dari Nu'man bin Basyir ra bahwa Nabi Saw bersabda, Yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas. Dan diantara keduanya ada perkara2 yang syubhat (samar). Maka barangsiapa meninggalkan perkara yang syubhat karena khawatir mendapat dosa, berarti dia telah meninggalkan perkara yang jelas keharamannya. Dan barang siapa yang mendekati perkara yang syubhat, maka dikhawatirkan dia akan terjatuh pada perbuatan yang haram tersebut. Dan perbuatan maksiat adalah larangan-larangan Allah Swt. Maka siapa yang berada di dekat larangan Allah itu dikhawatirkan dia akan jatuh pada larangan tersebut." (HR. Bukhari, hadits no. 1910)
Hikmah Hadits ;
1. Bahwa dalam Islam terdapat perkara yang sudah jelas kehalalannya sehingga boleh untuk dilakukan atau boleh ditransaksikan, ada juga yang jelas keharamannya sehingga tidak boleh untuk dilakukan atau ditransaksikan serta ada juga yang samar antara boleh dan tidaknya, atau antara halal dan haramnya sehingga meninggalkannya adalah lebih mulia dan berarti menyelamatkan agama dan kehormatannya.
2. Seseorang yang berkecimpung pada transaksi atau pada aktivitas yang syubhat, pada hakekatnya ia sedang berada di area yang sangat dekat dengan "area haram" yang terlarang, yang nyaris sekali terperosok ke dalamnya apabila ia tidak berhati-hati.
3. Syubhat dalam muamalah dapat terjadi pada beberapa aspek berikut ;
#1. Syubhat pada objek akad, yaitu seperti barang yg ditransaksikan mengandung unsur yg tidak jelas. Seperti mentransaksikan makanan atau minuman yg tidak jelas halal haramnya, atau mentransaksikan barang yang umumnya digunakan utk maksiat, dsb.
#2. Syubat pada mekanisme transaksi suatu akad, yaitu seperti transaksi di area teras masjid, transaksi dimana pihak lain menggunakan fasilitas kartu atau pembiayaan konvensional, dsb.
#3. Syubhat terkait pihak yg berakad, yairu bertransaksi dgn anak kecil tanpa sepengetahuan walinya, atau pihak yg bertransaksi dgn kita tidak jelas (umumnya dlm jual beli online), atau penjual terduga sebagai seorang pencuri, dsb.
#4. Syubhat pada status suatu barang, seperti pemberian dari satu pihak kepada kita, krn kedudukan dan jabatan kita di kantor tsb, dsb.
Nah, sebaiknya kita berusaha untuk keluar dan menjauh dari area syubhat, karena dikhawarirkan bila terlena dengan syubhat maka akan menjerumuskan kita pada yang haram. Dan semoga Allah Swt hindarkan kita dari perkara2 yg syubhat dan kita semua diberikan rizki yang halal, banyak dan berkah, Amiiin Ya Rabbal Alamiin.
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
Rehad 113. Ketika Pemimpin Menipu Rakyatnya Dengan Pencitraannya
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 17.19Rehad (Renungan Hadits) 113
Ketika Pemimpin Menipu Rakyatnya Dengan Pencitraannya
عن مَعْقِل بْنَ يَسَارٍ قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِه،ِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّة (رواه مسلم)
Dari Ma'qil bin Yasar ra berkata, Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: "Tidaklah seseorang yang Allah anugerahi kepemimpinan untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia meninggal dunia, dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah Swt akan mengharamkan surga baginya." (HR. Muslim, hadits no. 3409)
Hikmah Hadits ;
1. Islam merupakan agama yang universal (baca ; kaffah), yang mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia, termasuk di dalamnya mengatur aspek politik dan kepemimpinan, dimana apabila seseorang diberi amanah kepemimpinan berupa jabatan politik untuk mengurusi dan melayani rakyatnya, lalu dia tidak menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan berbuat (ghasy) yaitu menipu dan curang, lalu kemudian ia meninggal dalam keadaan yang demikian, maka ia tidak akan pernah masuk surga, atau dengan kata lain ia akan mendapatkan siksa di dalam kobaran api neraka.
2. Makna ghasy (غش) sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, secara bahasa adalah menampilkan dan memperlihatkan yang baik dan menyembunyikan yang jelek atau yang buruk, dengan maksud menipu atau memperdayai orang lain. Dalam kontek bisnis, pernah suatu ketika Nabi Saw melihat pedagang makanan, lalu Nabi Saw memasukkan tangan beliau ke tumpukan makanan tsb. Dan ternyata beliau mendapati tangan beliau basah (padahal makanan tsb terlihat baik dan kering di luarnya). Maka Nabi bersabda dengan keras kepada pedagang tsb, barang siapa yang ghisy (berbuat curang) diantara kita, maka ia bukan termasuk golongan kita. (HR. Muslim). Jadi, pedagang yg ghasy adalah pedagang yang menyembunyikan cacat, kekurangan dan keburukan barang dagangannya dan menampilkan yang baik dengan maksud menipu pembeli demi keuntungan pribadinya.
3. Sedangkan dalam konteks politik dan kepemimpinan; pemimpin yang ghasy adalah pemimpin yang menyembunyikan wanprestasi dan kegagalan dalam kepemimpinannya, namun ia memutarbalikkan fakta dengan menyembunyikan segala kekurangannya dan menampilkan dan mencitrakan keberhasilan pada rakyatnya dengan segala media yg dimilikinya. Misalnya ia mengklaim bahwa ekonomi membaik, padahal kenyataannya ekonomi sangat terpuruk, pengangguran dimana2, inflasi meningkat, dan hutang negara menjadi melonjak sangat signifikan, dsb. Atau mencitrakan bahwa kemiskinan menurun dan kesejahteraan meningkat, padahal kenyataannya kemiskinan melonjak tajam dan kesejahteraan jauh api dari panggangnya. Atau mencitrakan nasionalisme ; cinta pada rakyat dan tanah airnya, namun kenyataannya justru membuka pintu lebar2 bagi tenaga kerja asing yang tdk bisa berbahasa tanah air kita, sementara tenaga kerja dari bangsa dan rakyatnya sendiri yang masih menganggur justru diabaikan dan dibiarkan saja. Maka bisa jadi pemimpin seperti ini adalah pemimpin yg ghisy yang diharamkan masuk surga sebagaimana sabda Nabi Saw. Mudah2an bangsa kita dihindarkan sejauh2nya dari pemimpin2 seperti itu dan kita diberikan Allah Swt pemimpin yang shaleh, amanah, profesional, jujur dan memiliki integritas yang baik dan mulia yang membawa pada keridhaan Allah Swt.
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
