Rehad 178. Agar Seorang Muslim Tidak Membiasakan Pulang Ke Rumahnya Terlalu Larut Malam
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 19.01Rehad (Renungan Hadits) 178
Agar Seorang Muslim Tidak Membiasakan Pulang Ke Rumahnya Terlalu Larut Malam
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَطْرُقُ أَهْلَهُ لَيْلًا وَكَانَ يَأْتِيهِمْ غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّة (رواه مسلم)
Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw tidak pernah mendatangi (tiba dari perjalanan) keluarganya di malam hari, namun beliau datang ke keluarganya di pagi hari atau di petang hari." (HR. Muslim, hadits no. 3555)
Hikmah Hadits ;
1. Anjuran untuk segera kembali ke rumah, ketika telah selesai suatu urusan dalam suatu perjalanan tertentu. Karena perjalanan adalah bagian dari azab (sebagaimana dijelaskan dalan rehad 177), yang sarat dengan ketidaknyamanan. Dimana seseorang dalam perjalanan umumnya terhalang dari istirahatnya, dari makan minumnya dan dari pekerjaan yang seharusnya dilakukannya, disamping juga bahwa dalam perjalanan seseorang sangat rentan terhadap godaan-godaan syaitan.
2. Disunnahkan ketika kembali pulang ke rumahnya, untuk tidak mengejutkan anggota keluarga dan atau tidak merepotkan mereka di luar waktu yang seharusya. Maka Nabi Saw tidak pernah pulang atau kembali dari safar di tengah malam. Beliau lebih memilih untuk pulang ke rumah di waktu pagi atau sore hari. Karena umumnya keluarga akan terkejut, terganggu dan atau terrepotkan oleh kehadiran kita yang pulang di tengah malam. Dan juga tentunya kesiapan keluarga menjadi tidak maksimal dalan menyambut kita. Namun kalaupun tidak punya pilihan selain kembali pulang ke rumah di tengah malam, oleh karena jadual kendaraan dan atau angkutan yang memang kita tidak punya pikihan, maka minimal kita harus memberikan kabar atau informasi terlebih dahulu kepada keluarga, agar mereka tidak terkejut dan atau tidak terganggu oleh kehadiran kita tiba di tengah malam.
3. Maka oleh karenanya, hendaknya sebisa mungkin setiap kita mengkondisikan diri agar dalam setiap perjalanan dan atau dalam setiap kegiatan untuk memilih waktu yang tepat, sehingga tidak pulang ke rumahnya terlalu malam. Karena pulang ke rumah terlalu malam berpotensi akan menimbulkan mudharat, baik bagi diri kita sendiri dan juga bagi keluarga kita serta bagi masyarakat kita. Sebaliknya kita dianjurkan untuk bisa segera pulang ke rumah sebelum waktu malam, agar tidak mengganggu ketenangan dan ketentraman keluarga. Subhanallah, demikian indahnya ajaran sunnah Rasulullah Saw...
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag.
Label: Rehad
Rehad 177. Ketika Seorang Muslim Melakukan Safar
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 16.24Rehad (Renungan Hadits) 177
Ketika Seorang Muslim Melakukan Safar
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنْ الْعَذَاب،ِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ نَوْمَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَه،ُ فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ وَجْهِهِ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Safar (perjalanan) itu adalah setengah dari siksaan, sebab dengan safar tersebut seseorang terhalang dari tidurnya, makannya dan minumnya. Oleh karena itu jika urusan kalian telah selesai (dalam musafir), maka hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya." (HR. Muslim, hadits no 3554).
Hikmah Hadits ;
1. Bahwa secara bahasa, musafir adalah isim fa’il (pelaku) dari kata safar atau berpergian. Atau musafir adalah seseorang yang pergi dari satu titik, ke titik lainnya. Sedangkan secara istilah, musafir adalah seseorang yang keluar dari negerinya untuk menuju ke suatu tempat tertentu yang perjalanan itu menempuh jarak tertentu. Dalam beberapa kitab fiqh disebutkan beberapa persyaratan agar seseorang disebut melakukan safar (musafir), yaitu ; (1) Keluar dari negrinya (kota atau wilayahnya). (2).
Memiliki tujuan tertentu. (3) Memiliki jarak tertentu. Jumhur ulama mengatakan bahwa jarak tertentu yang dikatakan sebagai musafir adalah 4 burud. Dan 4 (sekitar 89 km menurut Maliki atau 81 km menurut Syafii). (4). Tidak dalam rangka maksiat kepada Allah SWT.
2. Bahwa safar (perjalanan) sebagaimana ketentuan di atas, adalah rangkaian perjalanan yang dilakukan oleh seseorang yang dapat menyebabkan tidak terpenuhinya secara baik hak-hak seseorang, seperti hak istirahat, hak makan, dan hak minum seseorang. Bahkan aktivitas lainnya pun dapat terganggu, seperti pekerjaan dan kewajiban-kewajiban lainnya. Itulah sebabnya Nabi Saw bersabda dalam hadits di atas bahwa safar diibaratkan seperti bagian dari siksaan, karena ketidaknyamanan yg akan dirasakan oleh para musafir. Dan oleh karenanya, apabila hajat (tujuan) dalam safar tersebut telah terpenuhi, maka Nabi Saw menganjurkan para musafir untuk segera kembali kepada keluarganya.
3. Maka oleh karenanya, Islam memberikan banyak keringanan kepada para musafir, diantaranya adalah diperbolehkannya hal-hal sebagai berikut ;
#1. Menjama' dan mengqashar shalat.
#2. Tidak wajib shalat jumat, melainkan cukup dgn melaksanakan shalat dzuhur.
#3. Diperbolehkan tidak berpuasa Ramadhan, dan menggantinya di hari yang lain.
#4. Dianjurkan untuk tidak berpuasa sunnah dalam safar.
#5. Mengusap khuf atau sepatu semala tiga hari tiga malam.
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
Rehad 176. Dan Mereka Yang Selalu Istiqamahpun Akan Selalu Hadir Diantara Ummat
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 16.22Rehad (Renungan Hadits) 176
Dan Mereka Yang Selalu Istiqamahpun Akan Selalu Hadir Diantara Umat
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ (رواه مسلم)
Dari Tsauban ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Senantiasa akan ada segolongan dari ummatku yang selalu istiqamah tegak membela kebenaran. Orang-orang yang merendahkan mereka tidak akan pernah membahayakan mereka, hingga hari Kiamat terjadi dan mereka tetap akan seperti itu." (HR. Muslim, hadits no 3544)
Hikmah Hadits ;
1. Bahwa di tengah zaman yang diwarnai dengan hedonisme dan pragmatisme serta dihantam gelombang egoisme dan materialisme, ternyata di sana akan selalu ada sekelompok umat yang senantiasa istiqamah berdiri tegak membela kebenaran. Bagi mereka, haq adalah haq dan bathil adalah bathil, tanpa bias dan tanpa retorika serta tanpa pemutarbalikkan logika. Merekapun tiada gentar dan tiada pudar menghadapi fitnah, cacian, cercaan, hantaman serta celaan dari para pencela. Bagi mereka keridhaan Allah Swt adalah segalanya, puncak orientasinya dan obsesi terbesar dalam hidupnya.
2. Demikianlah kehendak Allah Swt yang akan selalu mengiringi dan mengawal perjalanan ummat Islam, hingga mengantarkan ummat ini kelak pada titik puncaknya, yaitu menjadi ummat yang mewarnai dunia dengan nilai-nilai keluhuran dan kemuliaan serta mengantarkan manusia pada tingkat kebaikan dan kebahagiaan hakiki dalam menapaki kehidupannya. Itulah esensi dari sabda Nabi Saw di atas, sekaligus menjadi penguat firman Allah Swt, "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur : 55)
3. Maka alangkah mulianya, suatu pribadi atau suatu kelompok yang kemudian turut andil dalam memperjuangkan kehormatan ummat, serta isitqmah berada di atas kebenaran, kendatipun cacian, cercaan, fitnah, hantaman, dan segala bentuk kesewenangan menerpa dan menghantamnya. Ia tetap berdiri lantang membawa panji dan bendera Al-Qur'an, hingga ummat ini mendapatkan kemuliaan. Ya Rab... jadikanlah kami semua termasuk ke dalam golongan yang demikian, hingga kelak kami bertemu dengan-Mu sedangkan kami senantiasa istiqamah berada di jalan-Mu...
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan Lc, M.Ag
Label: Rehad
