Rehad 180. Ketika Para Pecundang Dianggap Sebagai Pahlawan Dan Pengkhinat Diberi Amanat
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 19.04Rehad (Renungan Hadits) 180
Ketika Para Pecundang Dianggap Sebagai Pahlawan Dan Pengkhianat Diberi Amanat
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَة،ٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِق،ُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَة،ُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة؟ُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ (رواه أحمد)
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Sungguh akan datang pada manusia tahun-tahun penuh dengan penipuan. Pada tahun-tahun tersebut orang yang berdusta dipercaya sedangkan orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat diberi amanah sedangkan orang yang amanah dikhianati, dan di dalamnya juga terdapat Ar-Ruwaibidlah." Sahabat bertanya, "Apa itu Ar-Ruwaibidhah wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "(Yaitu) Orang bodoh yang berbicara (berkomentar) pada urusan masyarakat (publik)." (HR. Ahmad, hadits no. 7571)
Hikmah Hadits ;
1. Bahwa Nabi Saw memperingatkan umatnya srjak 14 abad silam, bahwa kelak umat Islam akan melalui suatu zaman, dimana di zaman tersebut, akan penuh terselimuti dengan berbagai tipuan dan fitnah. Sesuatu yang baik dicitrakan menjadi buruk dan sebaliknya sesuatu yang buruk dicitrakan menjadi baik. Kondisinya (dalam riwayat lain diistilahkan) seperti potongan malam yang sangat gelap gulita. Seseorang bisa jadi tidak mengetahui, mana yg baik dan mana yang buruk. Kondisi zaman tersebut akan terwarnai dengan hal-hal berikut ;
#1. Banyaknya para pendusta yang dipercaya dan orang yang jujur dianggap sebagai pendusta. Sumber2 berita dan informasi yang dusta dianggap benar dan valid sebaliknya sumber berita dan informasi yang benar dan sesuai kenyataan dianggap hoax dan dusta.
#2. Para pengkhianat diberi amanat (jabatan dan kedudukan) sementara orang yang sesungguhnya amanah justru dianggap sebagai pengkhianat dan penjahat. Sehingga yang terjadi adalah umat Islam dipimpin oleh para pengkhianat yang dicitrakan seolah mereka adalah para pahlawan dan pembela kebenaran. Sebaliknya orang2 yang amanah justru dianggap sebagai penjahat dan diperlakukan seolah2 sebagai pengkhianat dan pelaku tindak kejahatan.
#3. Maraknya fenomena ruwaibidhah, yaitu orang2 bodoh yang senang berkomentar dalam berbagai masalah sosial. Dikatakan bodoh karena komentarnya tidak didasari ilmu melainkan hanya pencitraan, fanatisme membela diri dan kelompoknya atau memojokkan dan mendiskreditkan serta memfitnah kelompok lainnya. Orientasi dan obsesinya hanya dunia semata. Tidak peduli pada kebenaran, melainkan pada obseai dan ambisi dirinya sendiri.
2. Mudah2an Allah Swt selamatkan umat ini dari berbagai bentuk fitnah dan Allah hindarkan kita semua dari para pengkhianat yang dan penjahat yang mencitrakan diri seolah mereka adalah pahlawan dan pembela kebenaran...
Wallahu A'lam bis shawab
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
Rehad 179. Ada Sunnah Dalam Menyambut Seseorang Yang Akan Pulang Ke Rumah
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 19.02Rehad (Renungan Hadits) 179
Ada Sunnah Dalam Menyambut Seseorang Yang Akan Pulang Ke Rumah
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاة،ٍ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَهَبْنَا لِنَدْخُل،َ فَقَالَ أَمْهِلُوا حَتَّى نَدْخُلَ لَيْلًا أَيْ عِشَاءً، كَيْ تَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ وَتَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ (رواه مسلم)
Dari Jabir bin Abdullah ra berkata, "Kami pernah berperang bersama Nabi Saw. Ketika kami tiba di Madinah dan kami bermaksud hendak segera pulang ke rumah kami masing-masing, beliau bersabda: "Tunggulah dahulu hingga hari agak senja, sisirlah dahulu rambut kalian yang kusut, berilah kesempatan kepada keluarga kalian untuk bersiap-siap dan berhias (untuk menyambut kedatangan kalian)." (HR. Muslim, hadits no. 3556)
Hikmah ;
1. Anjuran untuk pulang kembali ke rumah pada sore atau senja hari ketika telah selesai dari suatu urusan, baik urusan dalam safar (perjalanan), pekerjaan maupun urusan dan kegiatan lainnya, bahkan termasuk juga dalam perjalanan peperangan sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas. Sebaliknya dalam riwayat lainnya Nabi Saw melarang seseorang untuk pulang kembali ke rumahnya di waktu tengah malam, karena khawatir mengejutkan dan menyusahkan orang rumah (lihat rehad 178).
2. Selain terdapat sunnah dan atau anjuran bagi orang yang hendak pulang ke rumah, dalam sunnah juga terdapat anjuran bagi orang yang ada di rumah, dalam rangka menyambut mereka yang akan tiba dirumah. Anjuran bagi yamg ada di rumah (istri dan anak-anak maupun anggota keluarga lainnya) adalah dengan bersiap-siap yaitu mempersiapkan segala sesuatu yang dapat menyenangkan orang yang akan tiba di rumah, dan juga berhias, yaitu agar sedap dipandang mata dan semakin menumbuhkan rasa cinta bagi suami istri maupun juga terhadap anak2nya. Anjuran seperti ini adalah bagian dari sunnah Rasulullah Saw yang hendaknya dilaksankan oleh kita.
3. Bahwa sunnah memberikan anjuran yang seimbang dalam segala hal, khususnya antara kedua pihak yang terkait. Sehingga dengN mengamalkan sunnah akan terjadi keharmonian dan keselarasan. Karena sunnah itu indah dan mudah serta karena sunnah akan mengarahkan pada kebaikan dan ketentraman jiwa.
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
Rehad 178. Agar Seorang Muslim Tidak Membiasakan Pulang Ke Rumahnya Terlalu Larut Malam
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 19.01Rehad (Renungan Hadits) 178
Agar Seorang Muslim Tidak Membiasakan Pulang Ke Rumahnya Terlalu Larut Malam
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَطْرُقُ أَهْلَهُ لَيْلًا وَكَانَ يَأْتِيهِمْ غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّة (رواه مسلم)
Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw tidak pernah mendatangi (tiba dari perjalanan) keluarganya di malam hari, namun beliau datang ke keluarganya di pagi hari atau di petang hari." (HR. Muslim, hadits no. 3555)
Hikmah Hadits ;
1. Anjuran untuk segera kembali ke rumah, ketika telah selesai suatu urusan dalam suatu perjalanan tertentu. Karena perjalanan adalah bagian dari azab (sebagaimana dijelaskan dalan rehad 177), yang sarat dengan ketidaknyamanan. Dimana seseorang dalam perjalanan umumnya terhalang dari istirahatnya, dari makan minumnya dan dari pekerjaan yang seharusnya dilakukannya, disamping juga bahwa dalam perjalanan seseorang sangat rentan terhadap godaan-godaan syaitan.
2. Disunnahkan ketika kembali pulang ke rumahnya, untuk tidak mengejutkan anggota keluarga dan atau tidak merepotkan mereka di luar waktu yang seharusya. Maka Nabi Saw tidak pernah pulang atau kembali dari safar di tengah malam. Beliau lebih memilih untuk pulang ke rumah di waktu pagi atau sore hari. Karena umumnya keluarga akan terkejut, terganggu dan atau terrepotkan oleh kehadiran kita yang pulang di tengah malam. Dan juga tentunya kesiapan keluarga menjadi tidak maksimal dalan menyambut kita. Namun kalaupun tidak punya pilihan selain kembali pulang ke rumah di tengah malam, oleh karena jadual kendaraan dan atau angkutan yang memang kita tidak punya pikihan, maka minimal kita harus memberikan kabar atau informasi terlebih dahulu kepada keluarga, agar mereka tidak terkejut dan atau tidak terganggu oleh kehadiran kita tiba di tengah malam.
3. Maka oleh karenanya, hendaknya sebisa mungkin setiap kita mengkondisikan diri agar dalam setiap perjalanan dan atau dalam setiap kegiatan untuk memilih waktu yang tepat, sehingga tidak pulang ke rumahnya terlalu malam. Karena pulang ke rumah terlalu malam berpotensi akan menimbulkan mudharat, baik bagi diri kita sendiri dan juga bagi keluarga kita serta bagi masyarakat kita. Sebaliknya kita dianjurkan untuk bisa segera pulang ke rumah sebelum waktu malam, agar tidak mengganggu ketenangan dan ketentraman keluarga. Subhanallah, demikian indahnya ajaran sunnah Rasulullah Saw...
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag.
Label: Rehad
