Rehad 181. Anjuran Berbuat Ihsan Dan Kaaih Sayang Bahkan Terhadap Hewan
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 19.05Rehad (Renungan Hadits) 181
Anjuran Berbuat Ihasan dan Kasih Sayang, Bahkan Terhadap Hewan
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْء،ٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْح،َ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ (رواه مسلم)
Dari Syaddad bin Aus ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk selalu berbuat ihsan (bersikap baik) dalam segala hal. Maka, jika kamu membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik, dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah seseorang menaajamkan pisaunya (untukbmenyembelih) dan hendaklah ia membuat nyaman hewan sembelihannya." (HR. Muslim, hadits no 3615)
Hikmah Hadits ;
1. Islam memerintahkan kita semua untuk senantiasa berbuat ihsan (berbuat baik) dalam segala hal dan dalam segala urusan. Perintah tersebut bahkan dituangkan dalam sabda Nabi Saw dengan bahasa "kataba", yang memiliki makna mewajibkan. Artinya bahwa berbuat ihsan adalah kewajiban bagi setiap muslim, terhadap siapapun, bahkan terhadap hewan sekalipun. Bukankah dalam riwayat lainnya kita pernah mendengar perihal seorang wanita yang dimasukkan Allah Swt ke dalam neraka lantaran tidak berbuat ihsan terhadap seekor kucing? Ia mengurungnya hingga kucing tersebut mati; tidak ia beri makan dan tidak pula ia biarkan bebas agar kucing tersebut bisa mencari makan sendiri.
2. Ihsan adalah bentuk masdar (infinitif) dari kata ahsana yuhsinu ihsanan yang berarti puncak dari perbuatan kebaikan. Maka Nabi Saw ketika ditanya oleh Malaikat Jibril perihal ihsan, beliau menjawab, "Engaku menyembah Allah hingga seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihatnya (maka paling tidak) engkau merasa bahwa Allah melihatmu." (Al-Hadits). Jadi bisa disimpulkan bahwa berbuat ihsan adalah puncak dari perbuatan kebaikan dengan dasar dan motivasi karena kecintaan dan berharap keridhaan Allah Swt semata.
3. Nabi Saw mencontohkan dalam riwayat di atas perihal cara berbuat ihsan terhadap hewan apabila hendak menyembelihnya, yaitu dengan cara menajamkan pisaunya setajam-tajamnya, dan membuat kondisi yang nyaman, senyaman-nyamannya bagi hewan. Sehingga hewan tersebut tidak tersiksa, baik sebelum penyembelihan maupun pada saat penyembelihannya. Dan perbuatan ihsan terhadap hewan ternyata bisa membuahkan pahala, bahkan dapat mengantarkan pelakunya masuk ke dalam surga. Bukankah kita pernah mendengar hadits perihal seorang laki2 yang dimasukkan surga lantaran ia memberikan minum kepada anjing yang sangat kehausan di tengah padang sahara? Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berbuat ihsan.... Amiin Ya Rabbal Alamiin..
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
Rehad 180. Ketika Para Pecundang Dianggap Sebagai Pahlawan Dan Pengkhinat Diberi Amanat
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 19.04Rehad (Renungan Hadits) 180
Ketika Para Pecundang Dianggap Sebagai Pahlawan Dan Pengkhianat Diberi Amanat
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَة،ٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِق،ُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَة،ُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة؟ُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ (رواه أحمد)
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Sungguh akan datang pada manusia tahun-tahun penuh dengan penipuan. Pada tahun-tahun tersebut orang yang berdusta dipercaya sedangkan orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat diberi amanah sedangkan orang yang amanah dikhianati, dan di dalamnya juga terdapat Ar-Ruwaibidlah." Sahabat bertanya, "Apa itu Ar-Ruwaibidhah wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "(Yaitu) Orang bodoh yang berbicara (berkomentar) pada urusan masyarakat (publik)." (HR. Ahmad, hadits no. 7571)
Hikmah Hadits ;
1. Bahwa Nabi Saw memperingatkan umatnya srjak 14 abad silam, bahwa kelak umat Islam akan melalui suatu zaman, dimana di zaman tersebut, akan penuh terselimuti dengan berbagai tipuan dan fitnah. Sesuatu yang baik dicitrakan menjadi buruk dan sebaliknya sesuatu yang buruk dicitrakan menjadi baik. Kondisinya (dalam riwayat lain diistilahkan) seperti potongan malam yang sangat gelap gulita. Seseorang bisa jadi tidak mengetahui, mana yg baik dan mana yang buruk. Kondisi zaman tersebut akan terwarnai dengan hal-hal berikut ;
#1. Banyaknya para pendusta yang dipercaya dan orang yang jujur dianggap sebagai pendusta. Sumber2 berita dan informasi yang dusta dianggap benar dan valid sebaliknya sumber berita dan informasi yang benar dan sesuai kenyataan dianggap hoax dan dusta.
#2. Para pengkhianat diberi amanat (jabatan dan kedudukan) sementara orang yang sesungguhnya amanah justru dianggap sebagai pengkhianat dan penjahat. Sehingga yang terjadi adalah umat Islam dipimpin oleh para pengkhianat yang dicitrakan seolah mereka adalah para pahlawan dan pembela kebenaran. Sebaliknya orang2 yang amanah justru dianggap sebagai penjahat dan diperlakukan seolah2 sebagai pengkhianat dan pelaku tindak kejahatan.
#3. Maraknya fenomena ruwaibidhah, yaitu orang2 bodoh yang senang berkomentar dalam berbagai masalah sosial. Dikatakan bodoh karena komentarnya tidak didasari ilmu melainkan hanya pencitraan, fanatisme membela diri dan kelompoknya atau memojokkan dan mendiskreditkan serta memfitnah kelompok lainnya. Orientasi dan obsesinya hanya dunia semata. Tidak peduli pada kebenaran, melainkan pada obseai dan ambisi dirinya sendiri.
2. Mudah2an Allah Swt selamatkan umat ini dari berbagai bentuk fitnah dan Allah hindarkan kita semua dari para pengkhianat yang dan penjahat yang mencitrakan diri seolah mereka adalah pahlawan dan pembela kebenaran...
Wallahu A'lam bis shawab
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
Rehad 179. Ada Sunnah Dalam Menyambut Seseorang Yang Akan Pulang Ke Rumah
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 19.02Rehad (Renungan Hadits) 179
Ada Sunnah Dalam Menyambut Seseorang Yang Akan Pulang Ke Rumah
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاة،ٍ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَهَبْنَا لِنَدْخُل،َ فَقَالَ أَمْهِلُوا حَتَّى نَدْخُلَ لَيْلًا أَيْ عِشَاءً، كَيْ تَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ وَتَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ (رواه مسلم)
Dari Jabir bin Abdullah ra berkata, "Kami pernah berperang bersama Nabi Saw. Ketika kami tiba di Madinah dan kami bermaksud hendak segera pulang ke rumah kami masing-masing, beliau bersabda: "Tunggulah dahulu hingga hari agak senja, sisirlah dahulu rambut kalian yang kusut, berilah kesempatan kepada keluarga kalian untuk bersiap-siap dan berhias (untuk menyambut kedatangan kalian)." (HR. Muslim, hadits no. 3556)
Hikmah ;
1. Anjuran untuk pulang kembali ke rumah pada sore atau senja hari ketika telah selesai dari suatu urusan, baik urusan dalam safar (perjalanan), pekerjaan maupun urusan dan kegiatan lainnya, bahkan termasuk juga dalam perjalanan peperangan sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas. Sebaliknya dalam riwayat lainnya Nabi Saw melarang seseorang untuk pulang kembali ke rumahnya di waktu tengah malam, karena khawatir mengejutkan dan menyusahkan orang rumah (lihat rehad 178).
2. Selain terdapat sunnah dan atau anjuran bagi orang yang hendak pulang ke rumah, dalam sunnah juga terdapat anjuran bagi orang yang ada di rumah, dalam rangka menyambut mereka yang akan tiba dirumah. Anjuran bagi yamg ada di rumah (istri dan anak-anak maupun anggota keluarga lainnya) adalah dengan bersiap-siap yaitu mempersiapkan segala sesuatu yang dapat menyenangkan orang yang akan tiba di rumah, dan juga berhias, yaitu agar sedap dipandang mata dan semakin menumbuhkan rasa cinta bagi suami istri maupun juga terhadap anak2nya. Anjuran seperti ini adalah bagian dari sunnah Rasulullah Saw yang hendaknya dilaksankan oleh kita.
3. Bahwa sunnah memberikan anjuran yang seimbang dalam segala hal, khususnya antara kedua pihak yang terkait. Sehingga dengN mengamalkan sunnah akan terjadi keharmonian dan keselarasan. Karena sunnah itu indah dan mudah serta karena sunnah akan mengarahkan pada kebaikan dan ketentraman jiwa.
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
