Rehad 189. Dan Ada Kebaikan Dalam Makan dan Minum Menggunakan Tangan Kanan
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 19.28Rehad (Renungan Hadits) 189
Dan Ada Kebaikan Dalam Makan & Minum Menggunakan Tangan Kanan
عَنْ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِه،ِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِه (رواه مسلم)
Dari Ibnu 'Umar ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Jika seseorang diantara kalian makan, maka hendaknya ia makan dengan tangan kanannya. Dan jika minum maka hendaklah ia minum dengan tangan kanannya. Karena syaitan itu makan dengan tangan kirinya dan minum juga dengan tangan kirinya.' (HR. Muslim, hadits no 3764)
Hikmah Hadits ;
1. Luas dan indahnya cakupan ajaran agama Islam, yang mengatur berbagai persoalan dan permasalahan dalam kehidupan, mulai dari urusan aqidah, ibadah, sosial, politik, ekonomi, bahkan hingga urusan yang kecil seperti dalam masalah makan dan minumpun Islam memberikan aturan dan arahannya, dengan tujuan menggapai kemuliaan dan kebaikan bagi setiap insan. Diantaranya adalah sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas, perihal anjuran makan dan minum dengan tangan kanan.
2. Nabi Saw selalu mencontohkan setiap hal yang baik, senantiasa dilakukan dengan tangan kanan, sementara sesuatu yg "tidak baik" dilakukan dengan tangan kirinya. Makan dan minum adalah hal yang baik dan bernilai ibadah, maka beliau lakukan dengan tangan kanannya, dan tidak pernah sekalipun beliau menggunakan tangan kirinya. Sementara dalam istinja' (membersihkan najis setelah buang air kecil atau air besar) Nabi Saw selalu menggunakan tangan kirinya, dan sekalipun tangan kanannya tidak pernah beliau gunakan untuk istinja' bahkan tidak pernah juga beliau gunakan untuk menyentuh kemaluannya sepanjang umur beliau. Allahumma shalli wasallim wabarik ala Nabiyyina Muhammad..
3. Sebab dilarangnya makan dan minum dengan tangan kiri adalah karena makan dan minum dengan tangan kiri merupakan perbuatan tercela dan termasuk perbuatan syaitan. Karena syaitan selalu makan dan minum dengan tangan kirinya, maka oleh karenanya kita dilarang menyerupai perbuatan syaitan yang tercela.
4. Terkadang dalam keseharian, kita sering lupa dalam masalah ini, misalnya betapa seringnya kita makan dengan tangan kanan namum minumnya menggunakan tangan kiri. Atau makan dengan tangan kanan, namun ketila memakan kerupuknya kita menggunakan tangan kiri, atau ketika makan steak, seringkali kita lihat banyak yang memegang garpunya dengan tangan kiri, sementara pisaunya ada di tangan kanan, lalu menyantapnya dengan tangan kirinya. Padahal ulama mengatakan bahwa makan dengan tangan kiri tanpa adanya udzur adalah haram hukumnya dan menimbulkan dosa. Maka, mari kita biasakan kembali untuk selalu makan dan minum dengan tangan kanan kita, karena selain berarti mengamalkan sunnah dan berpahala, insya Allah juga memiliki dampak positif dalam diri pribadi setiap kita..
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
Rehad 188. Dan Anugrah Terindah Itu Bernama Kesabaran
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 18.17Rehad (Renungan Hadits) 188
Dan Anugrah Terindah Itu Bernama Kesabaran
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ الْأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ حَتَّى إِذَا نَفِدَ مَا عِنْدَهُ قَالَ مَا يَكُنْ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَصْبِرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِنْ عَطَاءٍ خَيْرٌ وَأَوْسَعُ مِنْ الصَّبْرِ (رواه مسلم)
Dari Abu Sa'id Al Khudri ra berkata, Beberapa orang dari kaum Anshar datang meminta-minta sedekah kepada Rasulullah Saw dan mereka selalu diberi oleh beliau. Sehingga pada suatu ketika Rasulullah Saw kehabisan apa yang mereka minta. Maka beliau pun bersabda, "Selama sesuatu yang baik masih ada padaku, sekali-kali tidaklah akan kusembunyikan terhadap kalian. Akan tetapi, barang siapa yang bersikap 'iffah (memelihara diri dari meminta-minta) maka Allah akan memeliharanya pula. Dan siapa yang merasa cukup dengan apa yang ada, maka Allah akan mencukupinya pula. Dan siapa yang sabar, maka Allah akan menambahkan kesabarannya. Dan tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang, yang lebih baik dan lebih luas dibandungkan dengan kesabaran." (HR. Muslim, hadits no. 1745)
Hikmah Hadits ;
1. Sikap suka meminta-minta sesungguhnya adalah sebuah sikap yang kurang terpuji, meskipun bukan termasuk perbuatan yang diharamkan. Maka, setiap kali ada yang meminta, Nabi Saw selalu memberikan apapun yg beliau miliki, kecuali jika sudah tiada lagi yg dapat beliau berikan lagi kepada para sahabatnya. Karena Nabi Saw adalah orang yang sangat dermawan, yang bahkan dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa beliau pernah memberikan 100 ekor unta kepada Aqra' bin Habis, yang beliau dapatkan dari ghanimah setelah suatu peperangan tertentu.
2. Namun, jikalah seseorang mampu menahan diri dari meminta-minta karena menjaga diri dan kehormatannya, maka hal itu lebih baik dan lebih mulia baginya. Sikap tersebut dalam khazanah keislaman kita disebut dengan "iffah", dimana salah satu keutamaannya adalah bahwa barang siapa yg bersikap iffah menjaga kehormatan dirinya, maka Allah Swt akan memuliakan kehormatannya dan akan mencukupkan segala kebutuhannya. Karena sesungguhnya segala sesuatu adalah tergantung dari hati kita. Jika hati merasa cukup, maka akan Allah cukupkan dan jika hati berusaha sabar, maka Allah akan menjadikannya termasuk orang yg sabar.
3. Bahwa sesungguhnya anugrah terindah yang Allah berikan terhadap seorang hamba di dunia ini adalah "kesabaran". Tiada anugrah seindah kesabaran. Karena kesabaran ibarat cahaya yg terang benderang yang akan menerangi jalan seseorang menuju kebenaran. Kesabaran juga ibarat jendela hati yang dengannya seseorang dapat melihat segala peristiwa dalam perspektif yang poaitif dan indah. Memang, secara kasat mata kesabaran terkadang terlihat pahit dan sangat tidak mengenakkan. Seperti sabar dalam musibah, sabar karena tertundanya kemenangan dan kesuksesan, sabar karena suatu kondisi yang tidak sesuai dengan harapan dan cita kita, hingga terkadang mata menjadi basah berderai air mata, dan hati tersayat oleh goresan luka. Tetapi sesungguhnya setiap gores duka dan luka, bila dibingkai dengan hiasan kesabaran, maka akan menjadi indah dan menetramkan. Bukankah janji Allah, bahwa kesabaran adalah keindahan. Maka tampilkanlah keindahan dari dalam diri dan pribadi kita, agar semua menjadi indah dan berkah serta menjadi hamparan sajadah untuk senantiasa bersujud pada-Nya...
Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag.
Label: Rehad
Rwhad 187. Sebuah Bangsa Adalah Ibarat Sekelompok Orang Di Atas Bahtera
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 18.16Rehad (Renungan Hadits) 187
Sebuah Bangsa Adalah Ibarat Sekelompok Orang Di Atas Bahtera
عن النُّعْمَان بْن بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَة،ٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا (رواه مسلم)
Dari Nu'man bin Basyir ra, bahwa Nabi Saw bersabda, "Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang diam terhadapnya adalah seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah bahtera. Lalu sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bagian bawah bahtera. Lalu orang yang berada di bawah, bila mencari air untuk minum mereka harus melewati orang-orang yang berada di bagian atas seraya berkata, 'Seandainya boleh kami lubangi saja perahu ini untuk mendapatkan bagian kami sehingga kami tidak mengganggu orang yang berada di atas kami". Bila orang yang berada di atas membiarkan saja apa yang diinginkan orang-orang yang di bawah itu maka mereka akan binasa semuanya. Namun bila mereka mencegah dengan tangan mereka maka mereka akan selamat semuanya". (HR. Muslim, hadits no 2313)
Hikmah Hadits ;
1. Sebuah bangsa adalah ibarat sekelompok orang yang menaiki sebuah bahtera untuk menuju suatu tujuan bersama. Ada kalanya sebagian penumpangnya berfikir sempit dan pendek (baca ; pragmatis), seenaknya sendiri, dan tidak peduli dengan orang lain, lalu ia bertindak "bodoh" melubangi bahtera, dengan anggapan supaya tdk bersusah payah melewati penumpang lainnya untuk mengambil air minum. Jika semua penumpang lainnya "diam" atas perbuatan tersebut, maka bahtera akan berlubang, kemasukan air dan tenggelam beserta seluruh penumpang lainya beserta segala apa yg dibawanya. Namun jika ada yg bertindak untuk mencegahnya, melarangnya dan meluruskannya, maka ia akan selamat demikian juga seluruh penumpang akan selamat.
2. Sebuah negeri besar dengan mayoritas penduduknya muslim, bahkan menjadi negeri terbesar dengan penduduk muslim terbesar di dunia yaitu Indonesia, adalah ibarat perumpamaan dalam hadits di atas. Dimana ada seseorang yang seolah pragmatis, ingin menang sendiri, ingin semaunya sendiri, merasa paling benar, tidak mau dipersalahkan, berbuat dzalim, sewnang-wenang, bermulut kasar dan kotor, berbuat aniaya, menjadi biang keonaran dan kekacauan yang melanda seluruh negri. Penegak hukum seolah dibuat tak berdaya, penafsiran dalam hukum pun mengada-ada, sehingga ia bebas berkelana meskipun berstatus sebagai terdakwa. Orang seperti ini dan seluruh "backing" di belakangnya, adalah orang yg sesungguhnya sedang berupaya melubangi bahtera seperti perumpamaan hadits di atas, atau sedang merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. Jika seluruh komponen bangsa dan negara membiarkannya membuat lubang pada bahtera ini, atau dengan kata lain jika seluruh elemen negeri yang besar ini sama-sama membiarkannya merusak moral dan etika bangsa ini, memporak-porandakan hukum dan keadilan di negri ini, mengobrak-abrik tatanan kehidupan beragama di tanah air ini, merusak nurani, mencedrai hati, dan memecah belah hayati, maka bisa dipastikan negeri ini kan hancur dan tenggelam bak bahtera yang karam di tengah lautan samudra. Namun jika ada orang2 yang dengan keikhlasan dan kebesaran hatinya bertindak berani menyelamatkan NKRI, maka insya Allah semua kan selamat dan bahterapun kan dapat tetap dapat berlayar melaju menuju tujuannya yg mulia, yaitu menggapai keridhaan Allah Swt...
Wallahu Alam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag
Label: Rehad
