Rehad (Renungan Hadits) 207
Ketika Harus Memilih Saat Di Persimpangan Jalan

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْه،ُ وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (رواه مسلم)
Dari 'Aisyah ra istri Nabi Saw berkata, "Bahwa Rasulullah Saw apabila beliau diberi dua pilihan dari suatu urusan atau pekerjaan, maka beliau akan memilih yang termudah diantara keduanya, selama yang termudah tersebut tidak mengandung dosa. Namun jika urusan tsb mengandung dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhkan diri dari padanya. Dan beliau tidak pernah marah, melainkan ketika melihat larangan Allah Swt dilanggar." (HR. Muslim, hadits no 4294)

Hikmah Hadits ;
1. Anjuran untuk mengambil pilihan yang paling mudah, jika kita dihadapkan pada beberapa alternatif pilihan. Dengan syarat, jika pilihan termudah yg kita ambil tersebut bukanlah pilihan yg mengandung dosa atau yang dapat menimbukan kemudharatan. Misalnya memilih antara daging sapi dengan daging kambing, dimana pada saat tertentu daging kambing lebih mudah diperoleh dan lebih murah, sementara daging sapi lebih mahal dan agak sulit mencarinya. Maka pilihannya adalah untuk mengambil yang mudah saja yaitu daging kambing. Kecuali jika ada unsur penyakit tertentu yg dilarang mengkonsumsi daging kambing, yang apabila mengkonsumsinya dapat menimbulkan mudharat bagi kesehatannya.
2.  Namun apabila kita dihadapkan pada dua pilihan, antara yang halal dengan yang haram, maka wajib hukumnya untuk mengambil pilihan yang halal dan meninggalkan pilihan yang haram. Seperti ketika kita dihadapkan pada pilihan antara daging sapi dengan daging babi. Maka haram hukumnya mengambil daging babi, kendatipun misalnya daging babi tersebut harganya lebih murah dan lebih banyak. Karena substansinya hukum memakan daging babi adalah haram. Dan tidak boleh bagi seorang muslim mengambil yang haram. Atau juga misalnya ketika kita berada pada dua pilihan calon pemimpin ; antara calon pemimpin non muslim yg buruk perangainya, dan penista agama Islam, dengan pemimpin muslim yang baik, shaleh dan membela agama Islam. Maka mengambil (baca ; memilih) pemimpin muslim menjadi wajib hukumnya. Karena menjadikan non muslim sebagai pemimpin adalah haram hukumnya,dan tidak boleh bagi setiap muslim mengambil pilihan yang haram.
3. Bahwa Nabi Saw sangat marah sekali terhadap seseorang yang jelas-jelas melanggar larangan Allah Swt. Maka kelak di akhirat, setiap muslim yg melanggar larangan Allah Swt dengan memilih daging babi daripada daging sapi misalnya, atau lebih memilih non muslim menjadi pemimpin dibandingkan dengan yang muslim,  maka kelak ia akan mendapat murka dari Nabi Saw disamping juga tentunya ia akan mendapatkan murka dari Allah Swt. Karena secara sadar dan atas kehendaknya sendiri, ia telah melanggar larangan Allah Swt dalam Al-Qur'an. Mudah2an Allah Swt memberikan setiap muslim cahaya hidayah-Nya untuk senantiasa bisa istiqamah dalam melaksanakan perintah2-Nya dan meninggalkan segala larangan2-Nya.... Amiiin Ya Rabbal Alamiiiin...

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag.

Rehad (Renungan Hadits) 206
Dan Pada Akhlak Nabi Saw Ada Berjuta Pesona Dan Tauladan

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍوِ قَالَ لَمْ يَكُن النبي صلى الله عليه وسلم فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا (رواه مسلم)
Dari Abdullah bin Amru ra berkata, bahwasanya Nabi Saw tidak pernah berbuat keburukan dan tidak menyuruh untuk melakukan keburukan." Lalu Abdullah bin Amru berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya." (HR. Muslim, hadits no 4285)

Hikmah Hadits ;
1. Akhlak adalah sifat yang tertanam di dalam jiwa dan melahirkan berbagai perbuatan dengan mudah dan gamblang, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu. Itulah definisi akhlak sebagaimana yang dikemukakan oleh para ulama, diantaranya oleh Imam Ghazali dan Ibnu Miskaweh, yang substansinya segala hal yg spontan dilakukan oleh seseorang, maka itu adalah akhlaknya. Maka oleh karenanya, akhlak perlu dilatih, dibina dan dibiasakan agar benar2 menjadi karakter yg kokoh dalam diri pribadi setiap muslim.
2. Bahwa Nabi Saw adalah sosok pribadi yang sangat baik, luhur dan mulia akhlaknya. Beliaulah teladan yang terdepan dalam penerapan akhlak yang paripurna, yang mengamalkan segala isi dan kandungan Al-Qur'an, bahkan hingga dikatakan bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur'an. Karena semua nilai kebaikan yang terdapat di dalam Al-Qur'an terjewantahkan dalam setiap langkah, perbuatan, gerak gerik dan amaliyah beliau sehari2. Ummu Ma'bad Al-Khuza'iyah mengatakkan, "Tutur kata beliau lembut bagaikan mutiara yang tertata rapi, mata yang memandangnya tidak akan mencibir karena posturnya yang pendek dan tidak pula mecela karenanya posturnya yang tinggi. Beliau bagaikan dahan di antara dua dahan, paling tampak diantara tiga orang, dan paling tinggi kedudukannya. Beliau memiliki teman-teman yang selalu mengelilinginya, apabila beliau berbicara mereka mendengarkan perkataannya, apabila memerintahkan sesuatu mereke bergegas untuk melaksanakannya. Beliau adalah sosok yang ditaati dan disegani, tidak pernah bermuka masam dan tidak pernah mencela seseorang. (Al-Mubarakfury : Arrahiq Al-Makhtum hal 658 – 659)
3. Maka sebagai umatnya, wajib bagi kita untuk senantiasa berusaha meneladani dan mencintai beliau beserta segala sifat-sifat yang menjadi karakter pribadi beliau; santun dalam ucapan, sopan dalam pergaulan, lemah lembut dalan perbuatan, bijak dalam kepemimpinan, harmonis dengan pasangan, jujur dan amanah dalam perdagangan, tawadhu di setiap kebiasaan, sabar dalam ujian, sayang terhadap hewan dan tumbuhan, perhatian terhadap segala urusan, peduli terhadap orang miskin dan awam, pemaaf terhadap teman dan lawan, dsb. Allahumma shalli wasallim wabarik alaih....

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag.

Rehad 205. Ketika Dunia Mrnjadi Panglima

Rehad (Renugan Hadits) 205
Ketika Dunia Menjadi Panglima

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَِ ... إِنِّي لَسْتُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِي، وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوا فِيهَا وَتَقْتَتِلُوا فَتَهْلِكُوا كَمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم،ْ قَالَ عُقْبَةُ فَكَانَتْ آخِرَ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ (رواه مسلم)
Dari 'Uqbah bin 'Amir ra berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, '...Aku tidaklah khawatir bahwa kelak kalian akan kembali menyekutukan Allah Swt sepeninggalku. Akan tetapi yang aku khawatirkan adalah kalian tergoda oleh dunia, lalu kalian berlomba-lomba untuk mendapatkannya, kemudian kalian saling menumpahkan darah, hingga akhirnya kalian akan musnah seperti kemusnahan umat-umat sebelum kalian." 'Uqbah berkata; "Itulah yang terakhir kali aku melihat Rasulullah Saw berkhutbah di mimbar." (HR. Muslim, hadits no 4249).

Hikmah Hadits ;
1. Sebuah pesan dan wasiat Nabi Saw kepada umatnya yang sangat penting dan sangat serius serta seharusnya menjadi perhatian besar bagi setiap muslim, khususnya bagi para penggiat dakwah jalan Allah Swt. Karena sebagaimana kata Uqbah bin Amir di akhir hadits di atas, 'Itulah yang terakhir kali aku melihat Rasulullah Saw berkhutbah di atas Mimbar.' Artinya seolah wasiat terakhir Nabi Saw kepada umatnya dan yang sangat beliau khawatirkan adalah jangan sampai umatnya terlena, tergoda atau terorientasi terhadap dunia, atau bahkan berlomba-lomba  terhadap dunia.
2. Tergoda dengan dunia, yang oleh karenanya merubah orientasi, obsesi dan tujuan dalam suatu amalan, dari yg semula bertujuan karena Allah Swt menjadi tujuan karena dunia, adalah seburuk2 amal perbuatan ;
#1. Karena dengan demikian bisa merusakkan pahala amal shalehnya dan bahkan memporak-porandakan seluruh urusannya. Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda ;
مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
"Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, dan Allah akan menjadikannya miskin. Tidaklah ia akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah di tetapkan baginya. Dan barangsiapa menjadikan akhirat sebagai niatannya, maka Allah akan menyatakan urusannya dan membuatnya kaya hati, serta ia akan di beri dunia sekalipun dunia memaksanya. (HR. Ibnu Majah hadits no 4095)
#2. Tergoda dan berorientasi dunia adalah penyebab utama kering dan gersangnya ukhuwah, hilangnya ketsiqahan, hambarnya persaudaraan, bahkan memunculkan permusahan yang saling serang menjatuhkan, yang oleh karenanya menjadi hilang dan sirnanya kekuatan serta mengakibatkan pada kehancuran. Itulah substansi hadits Nabi Saw di atas, sehingga beliau memberikan wasiat terakhir di atas mimbar. Jangan sampai hal tersebut terjadi pada umatnya.
3. Maka mari arahkan kembali bahtera yg telah berlayar jauh mengarungi samudra, membelah lautan dan menembus badai untuk kembali pada tujuan hakiki yaitu semata2 hanya berharap keridhaan Allah Swt. Dengan harap, agar seluruh amal shaleh kita tiada sia-sia dan dakwah tetap melaju dalam ridha-Nya serta kalimatullah hiyal ulya...

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

;;