Hijrah Menggapai Hidup Yang Lebih berkah


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ - متفق عليه
Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, 'Seorang muslim adalah seseroang yang menjadikan muslim lainnya selamat dari lisan dan tangan (perbuatannya). Sedangkan muhajir (orang yang hijrah) adalah seseorang yang meniggalkan sesuatu yang diharamkan Allah SWT. (Muttafaqun Alaih).

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits ini. Diantara hikmah-hikmah tersebut adalah sebagai berikut :
1 Hijrah merupakan sebuah proses yang sangat penting dalam perjalanan da’wah Islam. Karena da’wah adalah sebuah proses untuk mentransfer manusia dari satu kondisi ke kondisi lainnya yang lebih baik; baik dalam bentuk fisik (makani), maupun dalam bentuk non fisik (ma’nawi). Hakekat perpindahan dari satu kondisi ke kondisi yang lebih baik tersebut pada dasarnya adalah intisari dari hijrah.
2 Demikian pentingnya hijrah dalam perjalanan da’wah, sampai-sampai Allah SWT menjadikan fenomena hijrah Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah sebagai satu fenomena yang monumental dalam perjalanan sejarah umat Islam, bahkan peristiwa hijrah dijadikan panduan perhitungan tahun bagi perjalanan umat Islam. Dan jika diperhatikan, dalam Al-Qur’an kata kata yang berasal dari kata hijrah ini disebut sebanyak 31 kali, baik dalam bentuk fiil (kata kerja) masdar, mufrad dan jama’. Hal ini menunjukkan bahwa hijrah memiliki arti yang sangat besar dalam sejarah kehidupan da'wah Islam, yang perlu diimplementasikan nilai-nilainya dalam setiap kehidupan.
3 Berhijrah meninggalkan satu kondisi menuju kondisi lainnya yang lebih baik, memang merupakan sesuatu yang berat. Sebagaimana para sahabat ketika meninggalkan kota Mekah menuju Madinah, yang harus meninggalkan rumah dan harta benda mereka. Namun Allah SWT menggantikannya dengan keutamaan yang sangat besar, bagi orang-orang yang mau berhijrah, diantaranya adalah sebagai berikut:
3 a. Orang yang berhijrah dikategorikan oleh Allah SWT sebagai orang yang benar-benar mengharapkan rahmat Allah SWT. (QS. 2 : 218)
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

3 b. Orang yang berhijrah dikategorikan sebagai seorang mu’min yang haq (sebenarnya) (QS. 8 : 74)
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia.

3 c. Ditinggikan derajatnya, mendapatkan pahala yang melimpah serta dikategorikan sebagai orang yang sukses (QS. 9 : 20)
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

3 d. Dihapuskan dosa-dosanya serta dimasukkan ke dalam surga. (QS. 3 : 195)
فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ
Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik."

3 e. Orang yang berhijrah akan mendapatkan rizki yang luas dan lapang (QS. 4 : 100)
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي اْلأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

3 f. Orang yang enggan berhijrah serta tidak mau berhijrah, akan mendapatkan azab Allah SWT (QS. 4 : 97)
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ ÇáúãóáÇóÆößóÉõ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,

3 g. Mendapatkan keridhaan Allah SWT. (QS. 9 : 100)
وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

4. Dilihat dari sisi jenis dan bentuknya, hijrah dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu hijrah makaniyah dan hijrah ma'nawiyah. Hijrah makaniyah adalah hijrah dari satu tempat ke tampat lainnya yang lebih baik, dalam rangka menegakkan dinullah, seperti hijrahnya Rasulullah SAW dari kota Mekah ke Madinah Al-Munawarah pada tahun ke 14 kenabian. Dimana pada saat tersebut celah da'wah di Mekah seolah sudah tertutup rapat bahkan orang-orang Kafir Quraisy bermakar untuk memberangus da'wah dan “memusnahkan” Rasulullah SAW. Intimidasi terhadap kaum muslimin pun demikian besarnya, hingga datanglah perintah Allah SWT, agar kaum muslimin melakukan hijrah, meninggalkan tempat yang sudah pekat dengan warnah kejahiliyahan, menuju ke sebuah tempat dimana nur atau cahaya Islam memiliki harapan untuk bersiran terang.
5. Hijrah yang terjadi dan diakui (dalam konteks hijrah pada zaman Rasulullah SAW) adalah hijrah sebelum terjadinya peristiwa Fathu Makah (th 8 H). Adapun setelah terjadinya peristiwa Fathu Makah, maka proses perpindahan dari Mekah ke Madinah sudah tidak lagi masuk dalam kategori hijrah, melainkan hanya perpindahan biasa. Karena sudah tidak ada lagi intimidasi yang disebabkan karena ingin beribadah kepada Allah SWT di kota Mekah, sebagaimana terjadi pada masa sebelum peristiwa Fathu Makah. Dan dalam konteks kekinian, hijrah makaniyah dapat dilakukan seseorang, apabila di tempatnya hidup, ia terintimidasi sehingga ia terhijab untuk melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.
6. Sedangkan hijrah ma'nawiyah dapat diterjemahkan dengan berhijrah dari satu kondisi ke kondisi lainnya yang lebih baik, seperti dari kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah SWT, dari kufur menjadi syukur, dsb. Hijrah secara maknawiyah dapat pula dimaknakan dengan sebuah proses perpindahan dari kondisi-kondisi negatif ke kondisi-kondisi lainnya yang lebih baik lagi, diantara sebagai berikut :
➢ Minal Jahiliyah Ilal Islam ( من الجاهلية إلى الإسلام )
Yaitu berhijrah dari sifat, karakter dan budaya jahiliyah, menuju sifat, karakter dan budaya Islami. Seperti berhijrah dari sifat saling bermusuhan (al-a’da’) menjadi saling berkasih sayang, dan ukhuwah islamiyah. Kemudian berhijrah dari saling mendengki (hasad) menjadi saling mencintai (mahabbah). Substansi dari hijrah minal jahiliyah ilal Islam ini adalah berusaha meninggalkan segala perilaku yang memiliki karakter dan sifat kejahiliyahan.
➢ Minal Kufri Ilal Iman ( من الكفر إلى الإيمان )
Yaitu berhijrah meninggalkan segala bentuk aktivitas yang berbau kekufuran, menuju aktivitas yang memiliki dasar keimanan kepada Allah SWT. Seperti meninggalkan perayaan dan berhura-hura pada saat pergantian tahun, meninggalkan pengkultusan terhadap sosok atau tokoh tertentu, dan meninggalkan segala hal yang berbau kekufuran atau memiliki keterkaitan terhadap kekufuran. Substansi dari hijrah jenis ini adalah berusaha meninggalkan segala hal yang memiliki nilai kekufuran kepada Allah SWT.
➢ Minal Ma’shiyat Ilat Tha’at ( من المعصية إلى الطاعة )
Yaitu berhijrah meninggalkan segala perbuatan yang mengandung unsur kemaksiatan. Jika diklasifikasikan, perbuatan maksiat sangat banyak jenisnya, seperti maksiat mata, maksiat lisan, maksiat pendengaran, maksiat anggota badan lainnya, maksiat hati dan angan-angan, dsb. Bahkan dalam niat pun, tidak terlepas dari potensi maksiat. Dan maksiatnya niat adalah riya', mengharap sesuatu selain keridhaan Allah SWT. Maksiat pun bisa merambah ke aspek yang lebih luas, seperti maksiat dalam mencari rizki, misalnya dengan menggunakan cara-cara yang kotor untuk mendapatkan bisnis atau project tertentu. Substansi dari hijrah ini adalah berusaha meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, bahkan juga termasuk di dalamnya menghindarkan diri dari tempat-tempat dimana orang sering melakukan perbuatan maksiat.
➢ Minan Nifaq Ilal Istiqamah ( من النفاق إلى الإستقامة )
Yaitu berhijrah meninggalkan segala sifat yang berbau sifat kemunafikan. Sebagian ulama mengklasifikasikan bahwa diantara bentuk sifat kemunafikan adalah seperti khiyanat, berdusta, tidak amanah, menipu, dsb. Hal ini berangkat dari sabda Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang munafik, yaitu apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji mengingkari, apabila diberi amanah ia khianat (HR Muslim). Sifat munafik merupakan sifat yang sangat dimurkai Allah SWT, dan wajib kita hindari dalam segala aktivitas kita. Substansi dari hijrah ini adalah berusaha meninggalkan segala hal yang mengandung unsur kemunafikan.
➢ Minal Haram Ilal Halal ( من الحرام إلى الحلال )
Yaitu berhijrah meninggalkan segala sesuatu dan segala hal yang diharamkan Allah SWT dan Rasul-Nya, seperti meniggalkan segala makanan yang tidak jelas kehalalannya, baik karena tidak dilengkapi dengan lebel halal, maupun karena proses pembuatannya yang mengandung syubhat (contohnya rumah makan non muslim, dimana kita tidak yakin apakah daging hewan yang kita makan disembelih dengan menggunakan asma Allah SWT atau tidak, menggunakan bumbu atau minyak yang mengandung babi atau tidak, dsb.) Demikian juga dengan meninggalkan segala proses bisnis yang tidak halal, seperti menggunakan risywah, manipulasi data, mengakseptasi objek yang diharamkan syariah, dsb. Substansi dari hijrah ini adalah berusaha meninggalkan segala hal yang dilarang oleh syariah.
7. Demikian besarnya pahala oarng yang berhijrah, maka Allah SWT pun akan memberikan reward yang lebih besar kepada orang-orang yang mengajak orang lain untuk berhijrah. Tidakkah kita menyadari bahwa mempengaruhi nasabah untuk berasuransi secara syariah dan meninggalkan asuransi konvensional juga merupakan salah satu bentuk dari hijrah, yaitu hijrah dari muamalah jahiliyah menuju muamalah islamiyah. Dan apabila nasabah kita mendapatkan pahala hijrahnya, maka kita mendapatkan pahala hijrah dan pahala da'wah. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menunjukkan kepada orang lain suatu kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala kebaikan yang dilakukan oleh orang tersebut” (HR Muslim). Dalam riwayat lain dikatakan, “Apabila engkau menunjukkan satu orang pada hidayah Allah melalui usahamu, maka itu lebih baik dibandingkan dengan unta merah.” (HR. Bukhari). Jadi, teruslah berhijrah dan teruslah mengajak orang lain untuk berhijrah.

Wallahu A'lam Bis Shawab.
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag
Sekretaris Dewan Pengawas Syariah Takaful Indonesia

Muhasabah : Menggapai Hari Esok Yang Lebih Baik

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ، قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ، قَالَ وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ يَقُولُ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ - رواه الترمذي

Dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, ‘Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.' (Imam Turmudzi) mengatakan, 'bahwa hadits ini adalah hadits hasan. Dan makna dari sabda Rasulullah SAW ( دان نفسه ) 'menhisab/ mengevaluasi dirinya' adalah ( حاسب نفسه في الدنيا قبل أن يحاسب يوم القيامة ) ‘orang yang menghisab (mengevaluasi diri) di dunia sebelum dihisab pada hari akhir.’ (HR. Turmudzi)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits ini. Diantara hikmah-hikmah tersebut adalah sebagai berikut :
1 Sebagai seorang muslim, hendaknya kita selalu melakukan muhasabah (baca ; evaluasi) dalam setiap aktivitas kehidupan kita, baik menyangkut aspek kehidupan dunia (aspek pekerjaan) maupun juga aspek kehidupan akhirat. Karena berdasarkan hadits di atas, bahwa orang yang cerdas (baca ; sukses) adalah orang mengevaluasi dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah kematiannya. Muhasabah atau evaluasi dapat dilakukan setiap pekan, setiap bulan, setiap triwulan, setiap semester, atau setiap setahun sekali. Dan di akhir tahun seperti ini (hari ini jum'at 11 Desember 2009, bertepatan dengan tanggal 24 Dzulhijjah 1430 H, yang merupakan hari jumat terakhir di tahun 1430 H), merupakan waktu yang sangat baik untuk kita mengevaluasi atau melakukan muhasabah, dengan harapan mudah-mudahan hari esok (baca ; tahun 1431 H) lebih baik daripada hari ini (baca ; tahun 1430 H).
2 Mengevaluasi atau menghisab diri sendiri sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Karena dengan evaluasi, seseorang dapat mengetahui porsinya dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT, baik terkait dengan orang lain (muamalah dan pekerjaannya), maupun terkait dengan hubungannya secara langsung kepada Allah SWT. Dan demikian pentingnya evaluasi, hingga banyak ungkapan dari salafuna shaleh tentang evaluasi (muhasabah) diantaranya adalah :
a. Muhasabah akan meringankan hisab di yaumul akhir. Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khatab ra, mengatakan :
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ اْلأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا
Umar bin Khatab ra berkata, ‘hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.

b. Muahasabah merupakan ciri dan karakter orang beriman. Maimun bin Mihran ra, salah seorang tabi'iin (40h - 117h) dalam sebuah riwayat disebutkan :
عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ لاَ يَكُونُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ وَمَلْبَسُهُ
Dan dari Maimun bin Mihran bahwa ia berkata, seorang hamba tidak diakatan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisabnya pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya.

c. Muhasabah merupakan kunci kesuksesan seseorang di dunia maupun di akhirat, - sebagaimana di sebutkan dalam hadits diatas -, bahwa orang yang cerdas (baca ; sukses) adalah orang yang mengevaluasi dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah kematiannya...
d. Setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah SWT dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur'an :
وَكُلُّهُمْ ءَاتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا - مريم 95
“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.”

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (النور : 24)
Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

3 Evaluasi atau muhasabah, hendaknya berimbang dalam aspek kehidupan baik dunia maupun akhirat. Ibarat dua sayap burung yang sedang terbang, kedua sayap harus bergerak seimbang. Demikian juga kita perlu seimbang dalam mengevaluasi antara aspek duniawi dan aspek ukhrawi. Tidak seyogianya, muhasabah dilakukan hanya pada aspek dunia saja; seperti aspek pekerjaan, penghasilan, target dan sebagainya, namun muhasabah juga harus dilakukan pada aspek kehidupan akhirat, seperti aspek ibadah kepada Allah SWT. Diantara hal-hal yang perlu dievaluasi dalam kehidupan kita adalah sebagai berikut :
a. Aspek Ibadah ( الجانب التعبدي )
Evaluasi aspek ibadah sangat penting, karena ibadah merupakan esensi dari keberadaan kita di dunia ini sebagaimana yang difirmankan Allah SWT, “Dan tidaklah Aku mencipkatan jin dan manusia, melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.” (QS. Ad-Dzariyat : 56). Oleh karenanya aspek ibadah perlu menjadi perhatian besar bagi setiap muslim dalam melakukan evaluasi atau muhasabah. Secara garis besar, ibadah mencakup dua hal ; ibadah yang wajib dan ibadah yang sunnah.
Ø Ibadah Wajib ( الفرائض )
Ibadah wajib adalah ibadah yang tidak bisa tidak, harus dikerjakan oleh setiap muslim. Ibadah yang wajib ini minimal sekali adalah ibadah yang terdapat dalam rukun Islam; seperti shalat, puasa, zakat dan juga haji. Masing-masing dari ibadah ini perlu kita evaluasi, seperti pada aspek shalat; sudah sempurnakan shalat kita? Apakah kita mengerjakannya tepat pada waktunya? Berjamaah di masjidkah shalat kita?, dsb. Apabila kita mendapatkan kelemahan pada sisi shalat, misalnya jarang berjamaah di masjid, maka kuatkan azam untuk senantiasa dapat shalat berjamaah di masjid, pada tahun 1431 H yang akan datang. Demikian juga dengan aspek puasa (ramadhan). Apabila kita merasa banyak kekurangan dalam sisi ibadah puasa ramadhan tahun 1430 H ini, misalnya masih banyak waktu digunakan untuk sesuatu yang kurang bermanfaat di bulan ramadhan. Maka tahun 1431 H ini, harus lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Demikian juga dengan zakat dan juga ibadah haji.
Ø Ibadah Sunnah ( النوافل )
Rasulullah SAW sendiri memberikan perhatian yang demikian besarnya pada aspek ibadah sunnah. Perhatikan saja sebagaimana yang diakatakan Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW shalat malam hingga kedua kakinya bengkak-bengkak. (HR. Bukhari Muslim) Kemudian bagaimana juga antusias beliau dalam berpuasa sunnah, dalam berdzikir, dalam memperbanyak istighfar dan taubat, dalam berbuat ihsan, dsb. Oleh karena itulah, hendaknya ibadah-ibadah sunnah yang kita lakukan dievaluasi, untuk kemudian membuat program ibadah sunnah untuk tahun 1431 H yang lebih baik daripada tahun 1430 H.
b. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki ( الجانب العملي والتكسبي )
Alhamdulillah, kita bekerja pada lingkungan pekerjaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan keimanan kepada Allah SWT. Namun walau bagaimanapun juga kita semua adalah kumpulan manusia-manusia biasa, yang sangat mungkin terpeleset dalam lembah yang sangat dibenci Allah SWT, seperti praktik risywah, melalaikan amanah, mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, manipulasi absensi, menjilat atasan – menginjak bawahan – sikut kiri kanan, ikhtilat dengan lawan jenis, dsb (na'udzubillah min dzalik). Hal-hal tersebut perlu kita evaluasi, untuk kemudian kita lakukan perbaikan pada tahun yang akan datang. Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa kelak pada yaumul hisab, semua akan dipertanyakan oleh Allah SWT, termasuk di dalamnya perihal perolehan rizki kita. Demi Allah, bahwa Rp 500,- yang kita dapatkan pun kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah SWT (perhatikan teks hadits yang digaris bawahi):
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ - رواه الترمذيٍ
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; 1. umurnya untuk apa dihabiskannya, 2. masa mudanya, kemana dipergunakannya, 3. hartanya darimana ia memperolehnya & 4. kemana ia membelanjakannya, 5. serta ilmunya sejauh mana diamalkannya?’ (HR. Turmudzi)

Alangkah meruginya seseorang, yang apabila kelak di akhirat ia tidak bisa mempertanggung jawabkan rizki yang perolehnya, atau ada sesuatu yang “haram” masuk ke dalam rekening atau ke dalam kantongnya. Karena demi Allah, itu semua kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah SWT. Para ulama mengatakan, bahwa salah satu ciri orang yang bertakwa adalah “berhati-hati” dalam sisi halal dan haramnya rizki. Hadits di atas menggambarkan bahwa orang yang tidak bisa menjelaskan rizkinya yang diperolehnya dalam kehidupannya di dunia, kelak tidak bisa menggerakkan tapak kakinya dihadapan Allah SWT.
c. Aspek kehidupan sosial (hubungan antara sesama manusia)
Aspek ini juga merupakan aspek yang sangat penting untuk dievaluasi. Karena manusia adalah makhluk sosial, yang selalu membutuhkan orang lain dalam menjalankan aktivitas kehidupannya sehari-hari. Kita perlu mengevaluasi berkenaan dengan hubungan kita terhadap orang lain. Misalnya, apakah selama ini kehadiran kita “menentramkan” orang lain yang ada disekitar kita?, atau justru sebaliknya; kehadiran, perkataan dan juga perbuatan kita selama ini menyakitkan hati orang atau bahkan mendzalimi orang lain? (na'udzubillah min dzalik). Sebuah hadits shahih mengingatkan kita :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta benda.” Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang kepada Allah SWT pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Namun ia juga datang membawa (dosa) suka mencela si Fulan, menuduh si Fulan, memakan harta si Fulan, mencederai darah si Fulan dan memukul si Fulan dsb. Maka akan diberikanlahlah pahalanya kepada si Fulan dan si Fulan (orang-orang yang didzaliminya). Dan apabila pahala kebaikannya telah habis sebelum ia menuntaskan kepada orang-orang yang didzaliminya, maka diambillah dosa-dosa mereka lalu dilemparkan kepadanya, lalu ia pun dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)

4. Selain evaluasi atau muhasabah, setiap muslim juga perlu menanamkan visi dalam hidupnya, yaitu bahwa orientasi hidupnya adalah untuk kehidupan setelah kematiannya. Hadits diatas menggambarkan demikian, bahwa orang yang cerdas (bacaa ; sukses) adalah orang yang mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya”. Sehingga sesungguhnya visi setiap muslim tidak hanya terbatas pada 5, 10 atau 20 tahun yang akan datang. Namun visi seorang muslim adalah menembus dimensi kehidupan dunianya, hingga ke dimensi kehidupan akhirat (kehidupan setelah kematiannya). Apabila visi seperti ini tertanam dalam diri setiap muslim, maka dapat dipastikan (insya Allah) bahwa dalam bekerja, beraktivitas, beribadah, dan dalam segala ativitas hidupnya, ia akan hanya memiliki orienasi kepada Allah dan karena Allah SWT semata. Dan inilah sesungguhnya implementasi dari firman Allah SWT :
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (QS. Al-An'am : 162)
Jadi ternyata, untuk menjdi hamba Allah sejati yang dapat memasrahkan segala-galanya kepada Allah, cukup dimulai dengan dua hal sederhana dan dapat kita lakukan mulai sekarang juga, yaitu : pertama muhasabah (evaluasi) diri sendiri, dan kedua memiliki visi (beramal) untuk kehidupan akhiratnya. Jadi marilah kita mulai dari sekarang, untuk melakukan muhasabah serta menanamkan visi yang menembus dimensi kehidupan dunia, ke dimensi kehidupan akhirat kita.

Wallahu A'lam Bis Shawab.
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag
Sekretaris Dewan Pengawas Syariah
Takaful Indonesia

Sepenggal Kisah Dan Kehidupan Nabi Ibrahim as

Kisah Nabi Ibrahim as Dalam Al-Qur'an

Al-Qur'an memiliki perhatian yang kuat dalam mengisahkan tentang kehidupan Nabi Ibrahim as. Setikanya, kisah Nabi Ibrahim as disebutkan sebanyak 25 kali, yang tersebur dalam 20 surat, dengan total ayat yang bercerita tentang beliau sebanyak 156 ayat. Jumlah ini merupakan jumlah yang cukup besar untuk mengisahkan perjalalan da'wah dan kehidupan Nabi Ibrahim as. Salah satu hikmahnya adalah bahwa kita diminta untuk mengambil hikmah dan ibrah yang mendalam dan sangat banyak dalam perjalanan da'wah dan kehidupan Nabi Ibrahim as.

Kelahiran & Kehidupan Nabi Ibrahim as Hingga Dewasa
Nabi Ibrahim as dilahirkan di negeri Babilonia, di wilayah Iraq. Di negeri ini seluruh penduduknya adalah para penyembah berhala. Negeri ini dipimpin oleh Raja Namrudz bin Kan'an yang sangat otoriter, yang bahkan ia memerintahkan penduduknya untuk mengagungkan dirinya, memuliakannya bahkan menyuruh mereka untuk menyembahnya. Pada masanya, Raja Namrudz sangat ditakuti. Apa yang dikatakannya, akan diikuti oleh semua orang. Dan tidak ada seorang pun yang berani menyanggah atau bahkan mendebatnya, kecuali Nabi Ibrahim as. Beliaulah satu-satunya orang yang berani menyanggah dan mendebat Namurdz bin Kan'an.

Garis Keturunan Nabi Ibrahim as Keatas Dan Kebawah
Bapak Nabi Ibrahim as bernama Azar. Walaupun ada juga yang mengatakan bahwa bapaknya bernama Tarih. Namun jumhur ulama sepakat mengatakan bahwa Bapak beliau bernama Azar, berdasarkan dalil Qur'an dan sunnah, yaitu :
  • QS Al-An'am 94 ( وإذ قال إبراهيم لأبيه آزر أتتخذ أصناما آلهة )
  • HR Bukhari ( يلقي أبراهيم أباه آزر يوم القيامة )
Apabila ditarik keatas dari garis keturunan Bapaknya, maka kakek beliau ke yang ke IX adalah Nabi Nuh as. Nabi yang dikenal sebagai Nabi yang besar pengorbanannya ini juga disebut sebagai Abul Anbiya' (Bapak para Nabi) karena memiliki keturunan para nabi, hingga ke Nabi Muhammad SAW. Keturunan beliau yang menjadi nabi dapat disimpulkan dari dua garis :
  • Dari garis keturunan nabi Ishak lahir seluruh nabi-nabi Bani Israil.
  • Dari garis keturunan nabi Ismail lahirlah nabi Muhammad SAW.

Berpindah Dari Satu Tempat Ke Tempat Lainnya
Nabi Ibrahim as tumbuh dan tinggal hingga dewasa di Babilonia. Kemudian bersama bapaknya beliau berpindah ke Baitul Maqdis dan menetap di sana. Bersamanya turut serta pula keponakan beliau, yaitu Nabi Luth as. Mereka juga menetap di negri Hiran di wilayah Kan'aniyin yang luas wilayahnya membentang dari Syam hingga Jazirah Arab, yang penduduknya juga adalah para penyembah berhala. Penduduk Hiran menyembah bintang-bintang, dan membuat dari tiap bintang bentuk berhalanya yang di gantung dan mereka sucikan, di pintu-pintu rumah mereka. Demikianlah, Nabi Ibrahim as hidup di tengah-tengah lingkungan yang keseluruhannya menyekutukan Allah SWT. Baik itu dari keluarganya, maupun masyarakat dan bangsanya. Namun Allah SWT tetap menjaga beliau, istiqamah dalam ketauhidan kepada Allah SWT.

Profesi Azar, Kehidupan Kaumnya Dan Terjaganya Nabi Ibrahim Dari Pengaruh Berhala
Bapak beliau, Azar berprofesi sebagai pembuat sekaligus sebagai penjual berhala Hal ini lah yang kemudian menjadikan Azar memiliki “tempat” dan dihormati oleh mereka. Namun kendatipun suasana penyembah berhala, baik yang dilakukan keluarganya, kaumnya serta bangsanyta,Nabi Ibrahim as tumbuh dengan ri'ayah Allah terjaga dari hal-hal tersebut. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam ayat (QS An-Nahl 120 - 121) :
إن إبراهيم كان أمة قانتا لله حنيفا ولم يك من المشركين شاكرا لأنعمه اجتباه وهداه إلى صراط مستقيم
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),(lagi) yang mensyukuri ni`mat-ni`mat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.

Mengenai ayat ini, Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, tentang firman Allah ( كان أمة ) yaitu Imam dalam kebaikan. Dan firman Allah ( قانتا ), yaitu taat kepada Allah. (Fathul Qadir – Syaukani). Dan menguatkan keIslam serta keistiqamahan nabi Ibrahim as dalam ajaran tauhid adalah firman Allah SWT : QS Ali Imran 67
ماكان إبراهيم يهوديا ولا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما وما كان من المشركين
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik."

Bahkan bukan hanya terjaga keimanannya kepada Allah SWT semat, Nabi Ibrahim as juga secara terang-terangan mengikrarkan Keislamannya serta memperlihatkan pengingkarannya terhadap kemusyrikan. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an : QS Al-An'am 79
إني وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض حنيفا وما أنا من المشركين
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.


Da'wah Nabi Ibrahim as Kepada Bapaknya
Nabi Ibrahim memulai da'wahnya pertama-tama kepada Bapaknya sendiri, yaitu Azar. Hal ini beliau lakukan dengan alasan atau pertimbangan tersendiri, yaitu :
  • Supaya kebaikan pertama kali muncul dari keluarganya. Rasulullah SAW pun juga mengikuti langkah beliau, yang menda'wahi keluarganya terlebih dahulu.
  • Karena Bapaknya adalah pembuat dan penjual berhala, yang apabila Bapaknya mengikuti da'wahnya, berarti otomatis biang kemusyrikan bisa ditiadakan.
Nabi Ibrahim as sangat membenci berhala-berhala. Pernah suatu ketika Azar mengejak beliau ke tempat penyembahan berhala. Pada saat tersebut nabi Ibrahim seorang dukun yang tengah berdiri dihadapan berhala dengan posisi ruku' meminta kepada berhala. Lantas nabi Ibrahim menghardiknya, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an. Peristiwa ini terjadi sebelum beliau diangkat menjadi Nabi : QS. Al-An'am 74 :
وإذ قال إبراهيم لآبيه آزر أتتخذ أصناما آلهة إني أراك وقومك في ضلال مبين
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata".

Setelah beliau menjadi nabi, beliau juga menda'wahi kembali Bapaknya. Bahkan setelah menjadi nabi, beliau menda'wahi bapaknya dengan penjelasan yang lebih luas. Hal ini sebagaimana yang dibadikan Allah dalam firman-Nya : QS. Maryam 42 - 45
ياأبت لم تعبد مالا يسمع ولا يبصر ولا يغني عنك شيئا، ياآبت إني قد جاءني من العلم ما لم يأتك افاتعني أهدك صراطا سويا، ياأبت لا تعبد الشيطان إن الشيطان كان للرحمن عصيا، ياأبت إني أخاف أن يمسك عذاب من الرحمن فتكون للشيطان وليا
Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan".

Mendengar seruan dan ajakan Nabi Ibrahim as, Azar mengingkari dan bahkan mengancam Nabi Ibrahim as dengan rajam dan pengusiran : QS. Maryam 46
قال أراغب أنت عن آلهتي يا إبراهيم، لئن لم تنته لأرجمنك واهجرني مليا
Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama".

Azar mengingkari da'wah nabi Ibrahim as adalah karena Azar mendapatkan “tempat” dan kemuliaan di masyarakatnya, terkait profesinya sebagai pembuat dan penjual berhala. Dan tentunya sekiranya Azar menerima da'wah Nabi Ibrahim, akan berakibat pada kemurkaan kaumnya. Namun Nabi Ibrahim as berusaha sekuat tenaga untuk menda'wahi Bapaknya. Tercatat metode yang beliau guanakan untuk menda'wahi Bapaknya adalah sebagai berikut :
1. Memberikan nasehat yang baik kepada Bapaknya.
2. Memperingatkan Bapaknya dari bahaya syaitan
3. Metode memberikan ancaman (akhirat) apabila beliu tidak mengikuti da'wahnya.
4. Menda'wahi dengan cara yang lembut dan santun kepada Bapaknya, bahkan Nabi Ibrahim pernah juga mendoakan Bapaknya :
قال سلام عليك سأستغفر لك ربي إنه كان بي حفيا
Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS. Maryam 47)

Namun akhirnya setelah Nabi Ibrahim as telah mengetahui keingkaran Bapaknya terhadap da'wah beliau, beliau pun menarik diri daripadanya dan tidak lagi mendoakannya. Allah SWT berfimrna dalam Al-Qur'an :
وما كان استغفار إبراهيم لأبيه إلا عن موعدة وعدها إياه فلما تبين له أنه عدو لله تبرأ منه إن إبراهيم لأواه حليم
Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (QS. At-Taubah 114)

Dari da'wah yang beliau lakukan terhadap bapaknya, dapat disimpulkan bahwa beliau menggunakan metode da'wah sebagai berikut :
a. Menjelaskan tentang hakekat berhala; “Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun.” QS. Maryam 42
b. Peringatan dari bahaya syaitan dan dari azab Allah SWT (QS Maryam 44 – 45)
c. Memberitahukan tentang kenabian dirinya. (QS. Maryam 42)
d. Kesabaran dan kelemahlembutan, diantaranya dengan mendoakannya (QS. As-Syu'ara' 86)

Da'wah Nabi Ibrahim as Terhadap Raja Namrudz
Ulama berbeda pendapapat tentang kapan dilakukan da'wah Nabi Ibrahim kepada Raja Namrudz bin Kan'an? Apakah sebelum penghancuran beliau terhadap berhala-berhala dan sebelum beliau dilemparkan ke dalam api, ataukah sesudahnya? Menurut Imam As-Sidy dialog antaran Nabi Ibrahim dan Raja Namrudz ini terjadi pada hari keluarnya beliau dari Api, yaitu setelah beliau menghancurkan berhala.
Namun yang jelas bahwa Raja yang diktator ini mendepat masalah Tauhid yang diajarkan nabi Ibrahim. Pertanyaan pertama dari sang Raja adalah sisapakah tuhanmu? Nabi Ibrahim menjawab, Tuhanku adalah Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Namrudz kemudian menjabaw, 'Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan”. Lalu ia memanggil dua orang, dibunuh salah satunya serta dibiarkan yang lainnya. Kemudian manakala Sang Raja menampakkan kekafirannya dengan menjawab pertanyaan beliau, Nabi Ibrahim bertanya lagi dengan pertanyaan yang kemudian membuat Raja Namrudz terdiam tak mampu menjawab, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dari barat.” (Kisah ini diabadikan dalam QS Al-Baqarah 258 :
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ ءَاتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Da'wah Nabi Ibrahim as Di Negri Hiran
Sebagaimana diketahui bahwa beliau lahir dan tumbuh di Babilonia, kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu kemudian berpindah juga ke Hiran. Negri Hiran merupakan negri dimana penduduknya juga penyembah bintang-bintang. Berbeda dengan metode da'wah beliau sebelumnya, di sini beliau menggunakan metode yang berbeda. Dialog yang digunakan nabi Ibrahim as lebih mendalam, bahkan beliau seolah turut terlibat langsung. QS. Al-An'am 75 – 84
وكذلك نري إبراهيم ملكوت السموات والأرض وليكون من الموقنين* فلما جن عليه الليل رأى كوكبا قال هذا ربي فلما أفل قال لا أحب الآفلين* فلما رأى القمر بازغا قال هذا ربي فلما أفل قال لئن لم يهدني ربي لأكونن من القوم الضالين* فلما رأى الشمس بازغة قال هذا ربي هذا أكبر فلما أفلت قال ياقوم إني بريء مما تشركون* إني وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض حنيفا وما أنا من المشركين* وحاجه قومه قال أتحاجوني في الله وقد هدان ولا أخاف ما تشركون به إلا أن يشاء ربي شيئا وسع ربي كل شيء علما أفلا تتذكرون* وكيف أخاف ما أشركتم ولا تخافون أنكم أشركتم بالله ما لم ينزل به عليكم سلطانا فأي الفريقين أحق بالأمن إن كنتم تعلمون* الذين ءامنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون* وتلك حجتنا ءاتيناها إبراهيم على قومه نرفع درجات من نشاء إن ربك حكيم عليم* ووهبنا له إسحاق ويعقوب كلا هدينا ونوحا هدينا من قبل ومن ذريته داود وسليمان وأيوب ويوسف وموسى وهارون وكذلك نجزي المحسن
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?" Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya`qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baikز

Da'wah beliau ini menggunakan dialog yang dapat menggiring 'paradigma' berfikir dan keyakinan kaumnya, bahwa bintang, bulan dan matahari tidak patut untuk disembah. Hanya pencipta itu semua yang patut disembah, yaitu Allah SWT. Dalam dialog tersebut, beliau memposisikan diri seolah sebagai orang yang mencari tuhan, yang hidup, berfikir dan bernafas seperti mereka. Dengan posisi seperti ini, beliau leluasa menggiring opini mereka, dan bahkan dapat mengantarkan mereka (atas izin Allah) kepada agama yang benar, menyembah Allah SWT.

Kepergian Ke Mesir
Nabi Ibrahim as, istrinya Sarah dan juga Nabi Luth pergi ke Mesir pada saat di Baitul Maqdis mengalami masa sulit. Disana bertemu dengan Raja Mesir, yang tertarik dengan Sarah. Namun berkat pertolongan Allah SWT mereka terselamatkan dari makar Sang Raja. Bahkan akhirnya mereka dapat kembali ke Baitul Maqdis dengan membawa harta, hewan ternak serta seorang budak.

Berita Gembira Untuk Nabi Ibrahim as
Setelah itu mereka menetap kembali di Baitul Maqdis. Di sini Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk melihat ke timur, barat, utara dan selatan. Dan Allah memberikan kabar gembira kepadanya bahwa sejauh matanya memandang tersebut akan menjadi daerah yang dikuasainya hingga akhir zaman dari anak dan keterunannya. Padahal pada saat itu, Nabi Ibrahim hanya beristrikan Sarah yang mandul.Namun Nabi Ibrahim as tetap berdoa kepada Allah SWT agar diberikan keturunan, dengan sebuah doa yang diabadikan dalam Al-Qur'an :
وقال إني ذاهب إلى ربي سيهدين* رب هب لي من الصالحين* فبشرناه بغلام حليم*
Dan Ibrahim berkata: "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS. As-Shafat 99 – 101)

Dan Allah mengabulkan permohonannya dengan Nabi Ismail as, dari istrinya Hajar. Hajar adalah seorang budak yang diberikan Raja Mesir untuk Sarah. Namun kemudian Sarah memberikan Hajar kepada Nabi Ibrahim as, dan menikahkannya dengan keridhaannya, dengan harapan agar Allah SWT memberikan keturunan yang shaleh. Usia Ibrahim ketika itu kurang lebih 80 th.

Perintah Untuk Meninggalkan Anak Dan Istrinya di Mekah
Ketika nabi Ismail masih dalam susuan, Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk membawa anak dan istrinya ke Baitullah al-Haram di Mekah Al-Mukarramah. Bahkan Allah memerintahkannya untuk meninggalkan anak dan istrinya tersebut di tempat itu.
ربنا إني أسكنت من ذريتي بواد غير ذي زرع عند بيتك المحرم ربنا ليقيموا الصلاة فاجعل أفئدة من الناس تهوي إليهم وارزقهم من الثمرات لعلهم يشكرون
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim : 37)


Perintah Untuk Menyembelih Anaknya
Kemudian beliau diuji kembali dengan mimpi beliau menyembelih nabi Ismail putra beliau, yang kala itu baru berumur 13 tahun. Pada saat itu nabi Ismail telah mencapai usia bisa berusaha. Dan pada akhirnya Nabi Ibrahim as melaksanakannya, dan digantikan Nabi Ismail dengan seekor Kibas dari surga persis pada saat Nabi Ibrahim akan melakukan penyembelihan. Hal ini Allah abadikan dalam Al-Qur'an : QS. As-Shaffat 102 – 112 :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ* وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ* قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ* إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَءُ الْمُبِينُ* وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ* وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ* سَلاَمٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ* كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ* إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ* وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ* سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ*
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.

Ujian untuk menyembelih anak, lebih berat dibandingkan dengan ujian ketika beliau dilemparkan ke dalam api untuk dibakar. Karena perjuangan beliau mendapatkan keturunan harus melalui proses yang panjang. Kemudian karena keiffahannya Sarah mendapatkan hadiah seorang budak. Lalu dengan keikhlasan Sarah, budak tersebut dinikahkan ke Nabi Ibrahim. Karena keikhlasan Sarah, Allah SWT pun memberikan anugerah mulia bagi Sarah. Hal ini seperti yang diabadikan dalam Al-Qur'an (QS. Ad-Dzariyat : 24 – 30)
هل أتاك حديث ضيف إبراهيم المكرمين* إذ دخلوا عليه فقالوا سلاما قال سلام قوم منكرون* فراغ إلى أهله فجاء بعجل سمين* فقربه إليهم قال ألا تأكلون* فأوجس منهم خيفة قالوا لا تخف وبشروه بغلام عليم* فأقبلت امرأته في صرة فصكت وجهها وقالت عجوز عقيم* قالوا كذلك قال ربك إنه هو الحكيم العليم*
Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaaman", Ibrahim menjawab: "Salaamun" (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata: "Silakan kamu makan". (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut," dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq). Kemudian isterinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: "(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul". Mereka berkata: "Demikianlah Tuhanmu memfirmankan". Sesungguhnya Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Sebagai seroang wanita Sarah heran dengan berita gembira yang disampaikan oleh Malaikat. Namun kemudian malaikat meyakinkan, bahwa ini merupakan kehendak Allah SWT mengabadikannya QS Hud 72 – 73 :
قالت ياويلتى ءألد وأنا عجوز وهذا بعلي شيخا إن هذا لشيء عجيب(72)قالوا أتعجبين من أمر الله رحمة الله وبركاته عليكم أهل البيت إنه حميد مجيد(73)
Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh. Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."

Hikmah dari perjalanan Nabi Ibrahim as :
1.Keberanian yang luar biasa dalam memperjuangkan kebenaran. Diantaranya adalah dalam hal-hal berikut :
a. Ketika menghancurkan berhala, tanpa peduli dengan bahaya yang ditimbulkan dari aksinya tersebut.
b. Penjulukannya terhadap kaumnya yang menyembah berhala dengan julukan gila, kehilangan akal, bahkan penghinaannya terhadap berhala-berhala tersebut : (QS Al-Anbiya' 67)
أف لكم ولما تعبدون من دون الله أفلا تعقلون
Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?

c. Ketika beliau dilemparkan ke api, sedikitpun beliau tidak merasa takut atau khawatir. Yang terucap oleh beliau hanya habunallah wani'mal wakil.
d. Berani mendebat Raja Namrud yang kejam dan diktator. Padahal di masanya, Raja Namrudz merupakan sosok raja yang memiliki dunia dan ditakuti oleh semua orang. Namun beliau bernai berbicara dan menentangnya secara langsung dihadapan sang Raja.

2. Memiliki fariasi dalam metode da'wah
a. Beliau menggunakan metode dialog yang lembut ketika menda'wahi Bapaknya Azar.. Dialog yang pantas antara seorang anak dengan Bapaknya.
b. Sikap ini berbeda, ketika beliau menda'wahi kaumnya yang terkesan lebih tegas.
c. Demikian juga metode beliau dalam menda'wahi kaum penyembah berhala. Dimana beliau turut masuk ke dalam kaum tersebut. Lalu berdiskusi atas apa yang mereka sembah. Beliau arahkan dari bintang, bulan dan matahari. Sekiranya sejak awal beliau mengatakan bahwa menyembah bintang adalah batil, pastilah sejak awal beliau diusir oleh kaumnya.

3. Memiliki kecerdasan dan kemampuan diskusi yang luar biasa. Dinataranya terlihat dari hal-hal berikut :
a. Dalam memilih waktu yang tepat untuk menghancurkan berhala. Yaitu pada hari dimana kaumnya melakukan perayaan yang menjadikan mereka tidak terlalu mengawasi berhala-berhalanya. Kondisi seperti ini menjadikan Nabi Ibrahim sangat leluasa untuk menghancurkan berhala.
b. Beliau tidak menghancurkan semua berhala. Namun beliau sisakan berhala yang paling besar, lalu beliau gantungkan kapak yang beliau gunakan untuk menghancurkan berhala di leher berhala yang paling besar. Ketika kaumnya datang dan bertanya kepada beliau siapa yang melakukan hal ini, Nabi Ibrahim menjawab, yang melakukannya adalah berhala yang paling besar :
قالوا ءأنت فعلت هذا بآلهتنا ياإبراهيم(62)قال بل فعله كبيرهم هذا فاسألوهم إن كانوا ينطقون(63)
Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara".

c. Beliau juga meminta kepada kaumnya untuk bertanya kepada berhala yang paling besar, apakah dia yang menghancurkannya? Ketika itulah, hujah menjadi sangat nyata dan jelas, bahwa berhala tidak bisa berkata-kata dan tidak bisa berbuat apa-apa. Akankah berhala seperti itu disembah?

4. Tidak terpengaruh dengan perasaan dalam menjalankan perintah Allah SWT, baik ketika berda'wah terhadap ayahnya, maupun ketika melaksanakan perintah Allah terkait dengan anaknya, Ismail as.
a. Beliau membawa istri dan anaknya yang masih menyusui dari Palestina ke Mekahyang gersang dan tandus, lalu meninggalkannya di tempat tersebut.
b. Implementasi beliau terhadap perintah Allah SWT untuk menyembelih anaknya Ismail. Dengan tanpa ragu beliau mengimplementasikannya.

Wallahu A'lam Bis Shawab
By. Rikza Maulan

Sumber :
Manahij Ulil Azmi Minar Rusul Fi Tabligi Da'wah
By. Dr. Abdul Wahab Abdul A'thi Abdullah

;;