Buah Ketakwaan (3) Ciri-Ciri Orang Bertakwa
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 18.15
وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ* الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ* وَالَّذِيْنَ إِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوْا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلَى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ*أُوْلَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِىْ مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِيْنَ*Dan bersegeralah kamu kepada ampunan (1) dari Tuhanmu dan kepada surga (2) yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) (3), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya (4) dan mema`afkan (kesalahan) (5) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah (6), lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya (7) itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (8). (QS. Ali Imran/ 3 ; 133 - 136)
Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat-ayat di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa ketakwaan yang hakiki adalah ketakwaan yang mengakar berada dalam hati sanubari setiap muslim. Karena ketakwaaan akan menyertai setiap muslim dimanapun dan kemanapun ia melangkah. Takwa tidak akan terpengaruh oleh tempat dan waktu, takwa tidak mengenal musim dan lokasi, takwa tidak akan melihat apakah ia berada diantara keramaian orang ataukah tidak. Orang yang bertakwa senantiasa akan menjaga ketakwaannya dimanapun dia berada; di bulan ramadhan, di bulan syawal, di bulan dzulqa'dah ataupun di bulan-bulan lainnya. Di masjid, di pasar, di tempat kerja, di jalan raya, dsb. Maka marilah kita berusaha untuk senantiasa menjaga ketakwaan kita, dimanapun kita berada. Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda, dari Abu Dzar ra, Rasulullah SAW mengatakan kepadaku, ‘Bertakwalah engkau dimanapun engkau berada. Dan iringilah perbuatan negatif dengan perbuatan positif sebagai penghapusnya, dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)
2. Bahwa orang-orang yang bertakwa akan memiliki ciri-ciri dan karkater ketakwaan. Ciri dan karekater ketakwaaan tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut :
#1. Bersegera untuk menggapai ampunan Allah SWT.
Atau dengan bahasa lain, orang yang bertakwa akan memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah SWT. Karena ia merasa “masih banyak melakukan kesalahan dan dosa”, kendatipun orang lain melihatnya sebagai orang yang baik dan selalu beramal shaleh. Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita betapa beliau senantiasa memperbanyak istighfar dan taubat, bahkan dalam sebuah riwayat digambarkan beliau bersitighfar dan bertaubat kepada Allah tidak kurang dari seratus kali setiap hari. Sementara beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang. Rasulullah SAW berkata, "Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah sehari sebanyak 100 kali." (HR.Muslim)
Atau dengan bahasa lain, orang yang bertakwa akan memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah SWT. Karena ia merasa “masih banyak melakukan kesalahan dan dosa”, kendatipun orang lain melihatnya sebagai orang yang baik dan selalu beramal shaleh. Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita betapa beliau senantiasa memperbanyak istighfar dan taubat, bahkan dalam sebuah riwayat digambarkan beliau bersitighfar dan bertaubat kepada Allah tidak kurang dari seratus kali setiap hari. Sementara beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang. Rasulullah SAW berkata, "Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah sehari sebanyak 100 kali." (HR.Muslim)
#2. Obsesinya adalah meraih surga dan keridhaan Allah SWT.
Hal ini sebagaimana yang Allah SWT firmankan dalam QS. Ali Imran : 133 di atas, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” Artinya adalah bahwa orang yang bertakwa, akan senantiasa menjadikan surga sebagai obesesi terbesar dalam hidupnya. Segala sesuatu yang dilakukan dan dikerjakan di dunia ini, selalu diorientasikan untuk surga. Ia tidak mau melakukan sesuatu yang tidak memiliki dampak untuk mendapatkan surga. Baginya, surga adalah segalanya dan menjadi obsesi terbesar dalam hidupnya.
Hal ini sebagaimana yang Allah SWT firmankan dalam QS. Ali Imran : 133 di atas, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” Artinya adalah bahwa orang yang bertakwa, akan senantiasa menjadikan surga sebagai obesesi terbesar dalam hidupnya. Segala sesuatu yang dilakukan dan dikerjakan di dunia ini, selalu diorientasikan untuk surga. Ia tidak mau melakukan sesuatu yang tidak memiliki dampak untuk mendapatkan surga. Baginya, surga adalah segalanya dan menjadi obsesi terbesar dalam hidupnya.
#3. Gemar berinfak, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit.
Karena orang yang bertakwa meyakini bahwa harta yang hakiki dan abadi adalah harta yang diinfakkan di jalan Allah SWT. Sementara harta yang ia belenjakan untuk dirinya sendiri, pada hakekatnya akan habis dan sirna. Bahkan dalam satu ayat-Nya Allah SWT menggambarkan bahwa seseorang apabila telah tiba ajalnya, yang terpikir kembali olehnya adalah jika ia ditunda ajalnya, maka ia akan bersedakah :
Karena orang yang bertakwa meyakini bahwa harta yang hakiki dan abadi adalah harta yang diinfakkan di jalan Allah SWT. Sementara harta yang ia belenjakan untuk dirinya sendiri, pada hakekatnya akan habis dan sirna. Bahkan dalam satu ayat-Nya Allah SWT menggambarkan bahwa seseorang apabila telah tiba ajalnya, yang terpikir kembali olehnya adalah jika ia ditunda ajalnya, maka ia akan bersedakah :
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلاَ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ*
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (QS. Al-Munafikun : 10)
#4. Berusaha menahan amarah.
Ini merupakan ciri dan karakter lain orang yang bertakwa. Karena menahan amarah merupakan bukti “kekuatan jiwa” seseorang. Sehingga apabila seseorang mampu untuk marah, namun ia kuasa untuk mengendalikan amarahnya, maka hal tersebut merupakan bentuk kekuatan dan kebesaran jiwanya. Dan orang yang bertakwa merupakan orang yang memiliki kekuatan jiwa yang besar. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ متفق عليه
Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Namun orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika ia sedang marah.” (Muttafaqun Alaih)
#5. Suka memaafkan kesalahan orang lain.
Selain menahan amarah, orang yang bertakwa juga senantiasa akan berusaha untuk memaafkan kesalahan orang lain. Karena ia menyadari bahwa Allah adalah Maha Pemaaf, dan setiap orang pasti tidak akan pernah lepas dari kesalahan dan kekhilafan, termasuk juga dirinya sendiri. Oleh karena itulah, ia pun senantiasa akan berusaha untuk memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain. Dalam sebuah riwayat disebutkan ada seorang sahabat yang dikatakan Rasulullah SAW sebagai calon penghuni surga. Bahkan Rasulullah SAW mengatakan hal tersebut sebanyak tiga kali. Lantas karena ingin tahu “amalan” yang dilakukannya sehingga ia dikatakan sebagai calon penghuni surga, maka salah seorang sahabat meminta izin kepada orang tersebut untuk bermalam dirumahnya dengan maksud untuk mengetahui amalannya tersebut. Singkat cerita diketahui bahwa ia dijanjikan sebagai calon penghuni surga adalah lantaran setiap malam sebelum ia tidur memejamkan mata, ia terlebih dahulu memaafkan kesalahan-kesalahan orang-orang yang berbuat kesalahan terhadapnya. Setelah memaafkan, barulah kemudian itu ia tidur. Dan karena kebiasaannya untuk memaafkan itulah, ia dijanjikan sebagai calon penghuni surga.
Selain menahan amarah, orang yang bertakwa juga senantiasa akan berusaha untuk memaafkan kesalahan orang lain. Karena ia menyadari bahwa Allah adalah Maha Pemaaf, dan setiap orang pasti tidak akan pernah lepas dari kesalahan dan kekhilafan, termasuk juga dirinya sendiri. Oleh karena itulah, ia pun senantiasa akan berusaha untuk memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain. Dalam sebuah riwayat disebutkan ada seorang sahabat yang dikatakan Rasulullah SAW sebagai calon penghuni surga. Bahkan Rasulullah SAW mengatakan hal tersebut sebanyak tiga kali. Lantas karena ingin tahu “amalan” yang dilakukannya sehingga ia dikatakan sebagai calon penghuni surga, maka salah seorang sahabat meminta izin kepada orang tersebut untuk bermalam dirumahnya dengan maksud untuk mengetahui amalannya tersebut. Singkat cerita diketahui bahwa ia dijanjikan sebagai calon penghuni surga adalah lantaran setiap malam sebelum ia tidur memejamkan mata, ia terlebih dahulu memaafkan kesalahan-kesalahan orang-orang yang berbuat kesalahan terhadapnya. Setelah memaafkan, barulah kemudian itu ia tidur. Dan karena kebiasaannya untuk memaafkan itulah, ia dijanjikan sebagai calon penghuni surga.
#6. Apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera mengingat Allah SWT dan memohon ampunan kepada-Nya.
Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia pasti pernah khilaf dan melakukan kesalahan atau perbuatan dosa. Hanya bedanya orang yang bertakwa ketika ia melakukan kesalahan maka ia akan segera ingat kepada Allah serta kembali kepada-Nya. Lalu meminta ampunan kepada Allah serta bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan atau perbuatan dosanya tersebut. Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat kesalaha. Dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertaubat kepada Allah SWT.” (HR. Turmudzi).
Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia pasti pernah khilaf dan melakukan kesalahan atau perbuatan dosa. Hanya bedanya orang yang bertakwa ketika ia melakukan kesalahan maka ia akan segera ingat kepada Allah serta kembali kepada-Nya. Lalu meminta ampunan kepada Allah serta bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan atau perbuatan dosanya tersebut. Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat kesalaha. Dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertaubat kepada Allah SWT.” (HR. Turmudzi).
#7. Tidak meneruskan perbuatan keji, sedang ia mengetahui.
Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW mengingatkan kita,
Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW mengingatkan kita,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ (متفق عليه)
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Orang mu'min tidak boleh terjerembab dua kali dalam satu lubang yang sama.” (Muttafaqun Alaih)
Maksudnya adalah bahwa seorang muslim hendaknya tidak melakukan satu kesalahan yang telah ia lakukan dan telah ia sesali, lalu ia melakukannya kembali. Cukuplah baginya pengalaman pahit dalam melakukan kesalahannya tersebut, lalu dijadikannya pelajaran untuk tidak mengulanginya kembali.
#8. Gemar untuk beramal shaleh.
Ini merupakan ciri terakhir dari orang yang bertakwa, sebagaimana digambarkan dalam ayat di atas, “...dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal... “. (QS. Ali Imran : 136). Karena seroang yang bertakwa sadar, bahwa yang akan dapat mengantarkannya pada keridhaan Allah SWT dan surga-Nya adalah amal shaleh, dan bukan sekedar angan-angan belaka. Ia akan giat melakukan segala bentuk amal shaleh, khsusnya yang mendatangkan benefit ukhrawi bagi dirinya. Allah SWT berfirman (QS. At-Thalaq : 11):
Ini merupakan ciri terakhir dari orang yang bertakwa, sebagaimana digambarkan dalam ayat di atas, “...dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal... “. (QS. Ali Imran : 136). Karena seroang yang bertakwa sadar, bahwa yang akan dapat mengantarkannya pada keridhaan Allah SWT dan surga-Nya adalah amal shaleh, dan bukan sekedar angan-angan belaka. Ia akan giat melakukan segala bentuk amal shaleh, khsusnya yang mendatangkan benefit ukhrawi bagi dirinya. Allah SWT berfirman (QS. At-Thalaq : 11):
وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقًا
“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.”
Wallahu A'lam Bis ShawabBy. Rikza Maulan Lc., M.Ag
Buah Ketakwaan (2) Benefit Orang-Orang Bertakwa
0 komentar Diposting oleh Rikza Maulan, Lc., M.Ag di 17.57Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka (niscaya) Allah akan memberikan pada mereka jalan keluar, dan Allah akan memberikan rezeki (dari tempat) yang tidak di sangka-sangka. (QS. At-Thalaq/ 65 ; 2 - 3)
Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat di atas, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa orang yang bertakwa, senantiasa akan dimuliakan oleh Allah SWT. Diantara bentuk kemuliaan yang akan Allah berikan kepada orang-orang yang bertakwa (sebagaimana digambarkan dalam ayat di atas) adalah Allah akan memberikan “jalan-jalan keluar” dari segala permasalahan kehidupan yang dihadapinya serta akan Allah berikan kepada mereka rizki dari tempat yang tiada di sangka-sangka. Kedua benefit tersebut merupakan impian dari setiap orang yang menjalani kehidupan dunia yang fana dan penuh dengan fatamorgana.
2. Takwa merupakan kunci kesuksesan. Orang yang bertakwa, insya Allah akan meraih kesuksesan, baik sukses di dunia maupun sukses di akhirat. Kita sering mendengar motivasi dari para trainer, bahwa jika ingin sukses kita harus jujur (shiddiq), bekerja keras (mujahadah), kerjsama (ta'awun wal ukhuwah), profesional (itqan), berbagi (infak & shadaqah), memaafkan (al-af'wu), tulus (ikhlas), positif thinking (husnudzan), dsb. Sebenarnya, semua nilai-nilai tersebut, terangkum dalam sebuah kata yang indah, yaitu takwa. Karena semua nilai-nilai itu adalah substansi yang tidak terpisahkan dari ketakwaan kepada Allah SWT. Hanya kebanyakan kita terkadang kurang menyadari makna dan hakekatnya.
3. Bahwa orang yang bertakwa bukanlah orang yang tidak memiliki “masalah”. Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang juga memiliki permasalahan dalam kehidupannya. Bahkan mungkin permasalahan yang dihadapinya jauh lebih banyak dan lebih besar dibandingkan dengan orang-orang pada umumnya. Namun ketakwaannyalah yang kemudian mengantarkannya pada “jalan-jalan keluar” dari segala permasalahan kehidupan yang dihadapinya. Sehingga kendatipun memiliki banyak permasalahan, ia tetap dapat menjalani kehidupanya dengan baik, karena ia selalu diberikan jalan keluar yang baik oleh Allah SWT.
4. Bahwa orang yang bertakwa, akan mendapatkan benefit (baca ; buah) yang akan diraihnya baik di dunia maupun di akhirat. Diantaranya adalah sebagai berikut :
#1. Mendapatkan pujian dan sanjungan dari Allah SWT.Hal ini terlihat jelas manakala kita membuka-buka lembaran-lembaran kitab suci Al-Qur’an, di sana banyak sekali pujian yang Allah berikan pada orang-orang yang bertakwa. Diantaranya adalah dalam awal surat al-Baqarah, ketika Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa… Allah menutupnya dengan ungkapan yang sangat halus dan indah, “...mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Rab mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah/ 2 : 1-5)
#2. Mendapatkan pertolongan Allah SWT.Orang yang bertakwa, insya Allah senantiasa akan mendapatkan pertolongan Allah SWT (baca ; nashrullah). Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl/ 16: 128
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.
#3. Mendapatkan cinta Allah.Hal ini digambarkan dalam surat Ali Imran (QS. 3: 76)
بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.
#4. Islahul Amal (memperbaiki amalan)Maksudnya adalah, bahwa Allah SWT akan membimbingnya untuk senantiasa melakukan amalan-amalan yang baik dan banyak memiliki manfaat bagi orang lain. Mengenai hal ini Allah SWT mengatakan dalam QS. Al-Ahzab/ 33 : 70-71
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا*
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
#5. Ampunan dosa & kesalahan Orang yang bertakwa akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT, sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. 33 : 70 – 71 diatas. Dalam ayat lain Allah juga berfirman (QS. At-Thalaq/ 65: 5)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.
#6. Mendapatkan furqan, antara yang haq dan bathilKetakwaan akan mendatangkan furqan (baca ; pembeda) bagi seseorang untuk dapat membedakan antara haq dan bathil. Orang yang bertakwa, insya Allah tidak akan keliru dalam memilih dan memilah antara yang haq dan yang bathil. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal (8 : 29) :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
#7. Dilapangkan rizki, dan dimudahkan dari segala kesulitan Hal ini Allah gambarkan dalam Al-Qur’an, (QS. At-Thalaq/ 65 : 2-3)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا* وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan pada mereka jalan keluar, dan Allah akan memberikan rezeki yang tidak di sangka-sangka.
#8. Mendapatkan keselamatan dari azab kubur dan azab nerakaOrang yang bertakwa, akan Allah bebaskan dari azab kubur dan azab nereka. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya QS. Maryam/ 19 : 72
ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.
#9. Mendapatkan surga
Dan akhirnya, inilah yang didamba oleh setiap hamba, yaitu mendapatkan keridhaan Allah SWT dalam jannah-Nya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qamar/ 54 : 54 - 55
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ*فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.
Wallahu A'lam Bis Shawab
By. Rikza Maulan Lc., M.Ag
Label: Tadabur Hadits
عَنْ أَبِى أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، يَقُولُ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَقَالَ اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ - رواه الترمذيDari Abi Amamah ra, aku mendengar Rasulullah SAW berkhutbah para waktu haji wada’. Beliau bersabda, ‘Bertakwalah kalian pada Rab kalian, shalatlah kalian lima waktu, puasalah kalian pada bulan ramadhan, tunaikanlah zakat mal kalian dan taatilah pemimipin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Rab kalian. (HR. Tirmidzi)
Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Takwa merupakan tujuan tertinggi yang akan dicapai seorang insan dalam menjalankan ibadahnya kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 21)
Oleh karena itulah, Allah senantiasa menggandeng kata taqwa dengan kewajiban-kewajiban tertentu dalam ibadah, diantaranya adalah dengan kewajiban melaksanakan ibadah puasa, dimana output dari ibadah puasa adalah takwa, sebagaimana yang Allah firmankan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” QS. Al-Baqarah : 183
2. Taqwa tidak dapat dipisahkan dengan keimanan. Karena ketakwaan merupakan buah dari adanya keimanan yang mendalam kepada Allah SWT. Dr. Abdullah Nasih Ulwan (1996:6-7) mengemukakan bahwa “Takwa lahir sebagai konsekwensi logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah; merasa takut terhadap murka dan adzab-Nya dan selalu berharap atas limpahan karunia dan maghfirah-Nya.”
3. Dari segi bahasa, taqwa berasala dari kata “waqo”, yang berarti ‘penjagaan/ perlindungan, kewaspadaan dan penjauhan diri insan dari hal-hal yang dapat mencederainya, sebagaimana dikatakan oleh para ulama:
التَّقْوَى مِنْ وَقَي، بِمَعْنَى الصِّيَانَةِ وَالْحَذَرِ وَتَجَنُّبِ اْلإِنْسَانِ لِمَا يُؤْذِيْهِ
Pernah suatu ketika Umar bin Khattab ra bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang takwa. Ubai menjawab, ‘Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh duri?’ Umar menjawab, ‘ya!’. Ubai bertanya lagi, ‘Apa yang anda lakukan saat itu?’ Umar menjawab, ‘Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati.’ Ubai berkata lagi, ‘Itulah taqwa.”
Dan berpijak dari jawaban Ubai di atas, Utz Sayid Qutub mengemukakan, ‘Itulah taqwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan… Jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, haparan semu atas segala sesuatu yang tidak bisa diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti… dan masih banyak duri-duri yang lainnya….”
4. Takwa memiliki beberapa tingkatan, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ulama sebagai berikut:
#1. ( تقوى الكفر والشرك ) Takwa dari kekufuran dan kemusyrikan
Yaitu sebuah sikap untuk menjauhkan diri dari segala hal yang berbau kekufuran dan kemusyrikan, baik yang besar maupun pada hal-hal kecil. Karena dampak dari kekufuran dan kemusyrikan adalah sangat fatal, yaitu tidak akan pernah diampuni oleh Allah SWT :
Yaitu sebuah sikap untuk menjauhkan diri dari segala hal yang berbau kekufuran dan kemusyrikan, baik yang besar maupun pada hal-hal kecil. Karena dampak dari kekufuran dan kemusyrikan adalah sangat fatal, yaitu tidak akan pernah diampuni oleh Allah SWT :
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’/ 4 : 116)
Diantara bentuknya adalah, meyakini adanya kekuatan-kekuatan lain pada benda-benda tertentu (seperti susuk, jimat, dsb), kepercayaan tidak boleh foto bertiga karena salah satunya akan meninggal dunia, menanam kepala kerbau untuk membangun gedung & jembatan, SMS ketik reg XXXX, “anda tidak cocok bekerja di air”, dsb.
#2. ( تقوى المحرمات ) Takwa dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT.Yaitu takwa dengan menjauhkan diri dari segala hal yang diharamkan Allah, maupun dari segala perbuatan-perbuatan maksiat yang dilarang Allah SWT. Dalam sebuah riwayat, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda; ‘Bertakwalah kalian dari hal-hal yang diharamkan Allah, niscaya engkau akan menjadi hamba yang paling baik. Dan ridhalah terhadap apa yang Allah berikan pada kalian, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya. Dan berbuat baiklah kalian terhadap tetangga kalian, niscaya engkan akan menjadi orang mukmin. Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya engkau akan menjadi muslim. Dan janganlah kalian memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa itu akan mematikan hati'. (HR. Tirmidzi)
#3. ( تقوى الشبهات ) Taqwa dari hal-hal syubhatYaitu menjauhkan diri dari hal-hal yang ‘samar’ atau tidak jelas antara halal dan haramnya, yang sebagian besar manusia tidak mengetahuinya. Oleh karena itulah, seorang yang bertakwa hendaknya menghindarkan diri dari hal-hal seperti ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat) yang tidak diketehui oleh kebanyakan manusia. Barang siapa yang bertakwa menjauhkan diri dari hal-hal syubhat tersebut maka ia berarti telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam kesyubhatan, maka ia terjerumus ke dalam sesuatu yang haram... “ (HR. Muslim) Diantaranya adalah makanan-makanan tertentu yang yang tidak mencantumkan lebel halal, dan ada indikasi menggunakan bahan-bahan yang tidak halal, seperti rum dsb.
#4. ( تقوى المباحات ) Takwa dari hal-hal yang mubah (yang diperbolehkan)Yaitu berusaha untuk tidak berlebihan mengkonsumsi sesuatu yang mubah. Karena yang mubah apabila terlalu berlebihan, maka juga akan menimbulkan dosa. Atau dengan bahasa lain, meninggalkan sesuatu yang tidak ada apa-apanya, karena khawatir ada apa-apanya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengatakan:
لاَ يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لاَ بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ - رواه الترمذي
Rasulullah SAW bersabda, ‘seorang hamba tidak akan mencapai derajat taqwa, hingga ia meninggalkan sesuatu yang tidak apa-apanya, karena khawatir ada apa-apanya. (HR. Tirmidzi)
Diantara bentuknya adalah seperti telalu banyak ngobrol, terlalu sering jajan makanan, banyak tertawa, memakai pakaian yang terlalu bagus-bagus, terlalu banyak mendengarkan lagu atau nasyid, terlalu banyak menonton TV, dsb.
#5. ( تقوى الله حق تقاته ) Takwa yang sebenar-benarnyaDalam hal ini, Ibnu Abbas mengatakan, “Takwa yang sebenar-benarnya adalah bahwa seseorang itu berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, dan tidak (mengambil peduli) terhadap orang-orang yang mencela mereka di jalan Allah, dan menegakkan keadilan meskipun terhadap diri mereka sendiri, orang tua mereka atau anak-anak mereka.”
Taqwa dengan yang sebenar-benarnya ini, adalah gabungan dari seluruh ketaqwaan yang ada di atas. Dia juga termasuk takwa teradap kekufuran dan kesyirikan, takwa terhadap hal-hal yang diharamkan Allah SWT, takwa terhadap syubhat dan takwa terhadap hal-hal yang tidak ada apa-apanya karena khawatir terjerumus pada hal-hal kemakruhan dan syubhat. Dan hal ini sebenarnya merupakan perintah Allah SWT terhadap seluruh hamba-hamba-Nya.
Taqwa dengan yang sebenar-benarnya ini, adalah gabungan dari seluruh ketaqwaan yang ada di atas. Dia juga termasuk takwa teradap kekufuran dan kesyirikan, takwa terhadap hal-hal yang diharamkan Allah SWT, takwa terhadap syubhat dan takwa terhadap hal-hal yang tidak ada apa-apanya karena khawatir terjerumus pada hal-hal kemakruhan dan syubhat. Dan hal ini sebenarnya merupakan perintah Allah SWT terhadap seluruh hamba-hamba-Nya.
Wallahu A'lam Bis Shawab
By. Rikza Maulan Lc., M.Ag
Label: Tadabur Hadits
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)

