Rehad (Renungan Hadits) 172
Dan Setiap Infak Di Jalan Allah, Akan Dilipagandakan Pahalanya Menjadi 700 Kali Lipatnya

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ بِنَاقَةٍ مَخْطُومَةٍ فَقَالَ هَذِهِ فِي سَبِيلِ اللَّه،ِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَبْعُ مِائَةِ نَاقَةٍ كُلُّهَا مَخْطُومَة (رواه مسلم)
Dari Abu Mas'ud Al Anshari ra berkata, "Seorang laki-laki datang dengan menuntun seekor untanya yang telah diikat dengan tali kekangnya seraya berkata, "Unta ini saya infakkan di jalan Allah." Maka Rasulullah Saw bersabda: "Pada hari kiamat kelak, kamu akan mendapatkan tujuh ratus unta beserta tali kekangnya. (HR. Muslim, hadits no. 3508)

Hikmah Hadits ;
1. Bahwa menginfakkan harta di jalan Allah Swt memiliki keutamaan yang sangat besar, yaitu bahwa setiap "sen" harta yang diinfakkan seseorang di jalam Allah Swt, maka akan diganti oleh Allah Swt kelak dengan 700 kali lipatnya. Hal ini sebagaimana riwayat di atas, yaitu ketika seorang sahabat datang kepada Rasulullah Saw dan menginfakkan unta untuk digunakan dalam rangka perjuangan di jalan Allah Swt, lalu Nabi Saw bersabda kepadanya bahwa Allah kelak di akhirat akan menggantinya dengan 700 ekor unta, lengkap dengan tali-tali kekangnya. Masya Allah... sungguh mulia ganjanran yang Allah Swt berikan kepada mereka yang berinfak di jalan Allah Swt.
2. Riwayat hadits di atas juga menguatkan keutamaan berinfak shadaqah sebagaimana yang Allah Swt firmankan dalam QS Al-Baqarah : 261, "Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."
3. Bahwa dalam bersedekah, meskipun terkesan seseorang mengeluarkan harta dan oleh karenanya hartanya menjadi berkurang, akan tetapi sesungguhnya dengan bersedekah harta seseorang tidak akan pernah berkurang, bahkan justru akan semakin berkah dan bertambah. Menjelaskan hal ini, Nabi Saw bersabda, "Sedekah itu tidak akan pernah mengurangi harta. Dan Tidaklah seseorang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan niscaya Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim).
4. Bahwa sedekah (termasuk di dalamnya zakat, infak dan shadaqah) adalah merupakan salah satu pilar utama dalam sistem ekonomi syariah. Apabila zakat infak dan shadaqah tumbuh dan berkembang dengan baik, maka insya Allah ekonomi syariah juga akan tumbuh dan berkembang dengan baik, serta dengan sendirinya akan mengalahkan sistem ekonomi ribawi. Maka oleh karenanya membangun ekonomi syariah tidak bisa lepas dari membangun dan menumbuh kembangkan zakat infak dan shadaqah. Allah Swt berfirman, "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." (QS. Al-Baqarah : 276).

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad 171. Ketika Hutang Menjadi Ganjalan

Rehad (Renungan Hadits) 171
Ketika Hutang Menjadi Ganjalan

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ (رواه مسلم)
Dari Abdullah bin 'Amru bin 'Ash ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Seorang yang mati syahid akan diampuni segala dosa-dosanya, kecuali hutang." (HR. Muslim, hadits no 3498)

Hikmah Hadits ;
1. Keutamaan orang yang meninggal dunia dalam keadaan syahid, yaitu meninggal dalam rangka membela dan memperjuangkan agama Allah Swt. Bahwa diantara keutamaannya adalah bahwa orang yang mati syahid akan diampuni seluruh dosa dan kesalahan-kesalahannya dan kelak akan dimasukkan ke dalan surga serta ditinggikan derajatnya di dalam surga, setinggi 100 derajat; dimana antara derajat satu dengan derajat lainnya adalah setinggi antara langit dan bumi. Itulah sebabnya, para salafuna shaleh sangat antusias dalam menggapai derajat sebagai syuhada'.
2. Namun yang perlu menjadi catatan penting bagi setiap kita adalah bahwa kendatipun semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni Allah Swt, ternyata ada satu hal yang tidak akan terhapus dan tidak akan diampuni oleh Allah Swt kendatipun ia meninggal dunia dalam keadaan mati syahid. Satu hal tersebut adalah "hutang". Karena hutang piutang adalah haqun adamiyun (hak antara sesama manusia) yang harus ditunaikan kepada pemberi hutang yang tidak akan pernah dihapuskan oleh Allah Swt kecuali jika si pemberi hutang mengikhlaskan dan membebaskannya dari hutang tersebut. Inilah bukti betapa kepemilikian harta seseorang sangat dihargai dalam Islam dan oleh karenanya tak seorang pun boleh mengambil dan atau merampasnya secara bathil.
3. Bahwa Nabi Saw "tidak mau" menshalatkan jenazah seorang sahabat yang masih memiliki hutang. Dalam riwayat disebutkan dari Salamah bin Al Akwa' ra bahwa Nabi Saw dihadirkan kepada Beliau satu jenazah agar dishalatkan. Maka Beliau bertanya: "Apakah orang ini punya hutang?" Mereka berkata: "Tidak". Maka Beliau menshalatkan jenazah tersebut. Kemudian didatangkan lagi jenazah lain kepada Beliau, maka Beliau bertanya kembali: "Apakah orang ini punya hutang?" Mereka menjawab: "Ya". Maka Beliau bersabda: "Shalatilah saudaramu ini". Berkata, Abu Qatadah: "Biar nanti aku yang menanggung hutangnya". Maka Beliau Saw menshalatkan jenazah itu. (HR. Bukhari, hadits no 2131)
4. Ada doa yang diajarkan Nabi Saw agar kita terhindar dari lilitan hutang. Doa tersebut adalah :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut dan bakhil dan aku berlindung kepadaMu dari terlilit hutang dan pemaksaan dari orang lain. (HR. Abu Daud)

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad (Renungan Hadits) 170
Ketika Keridhaan Mengantarkan Pada Kebahagiaan

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا أَبَا سَعِيدٍ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّة،ُ فَعَجِبَ لَهَا أَبُو سَعِيدٍ فَقَالَ أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّه،ِ فَفَعَلَ ثُمَّ قَالَ وَأُخْرَى يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْض،ِ قَالَ وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّه؟ِ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ (رواه مسلم)
Dari Abu Sa'id Al Khudri ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda kepadanya: "Wahai Abu Sa'id, barangsiapa yang ridla Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad Saw sebagai Nabinya, maka ia pasti akan masuk surga." Abu Sa'id takjub serya berkata, "Wahai Rasulullah, sudikah anda mengulanginya lagi untukku?" Beliau pun mengulanginya, kemudian beliau melanjutkan. "Dan ada satu amalan yang dengannya seorang hamba akan diangkat derajatnya di surga sebanyak seratus derajat, antara derajat satu dengan derajat yang lain seperti jarak antara langit dan bumi." Abu Sa'id berkata, "Amalan apakah itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah, Jihad di jalan Allah." (HR. Muslim, hadits no. 3496)

Hikmah Hadits ;
1. Bahwa prinsip dasar keimanan dalam Islam ada 3 hal, yaitu ; (1) Ridha Allah sebagai Rabnya, (2) Ridha Islam sebagai agamanya, dan (3) Ridha Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi utusan Allah Swt. Bahkan orang yang bisa menggapai hal tersebut, ia akan menjadi orang yang dapat merasakan manisnya iman. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw dalam riwayat lainnya, "Orang yang ridha dengan Allah sebagai Rabbnya, dan Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Rasul utusan Allah, maka dia akan merasakan manisnya iman." (HR. Muslim, no 49).
2. Orang yang dapat merasakan manisnya iman adalah orang yang sangat berbahagia dalam kehidupannya karena berarti ia telah mampu membuka tabir rahasia setiap sisi kehidupan yang dijalaninya. Baginya apapun yang menimpa adalah limpahan anugrah dari Yang Maha Kuasa. Bahkan bukan hanya itu saja, ia pun kelak berhak untuk dapat masuk ke dalam surga atas dasar "keridhaan" tersebut, sebagaimana dijelaskan Nabi Saw dalam hadits di atas.
3. Ridha adalah puncak keikhlasan dan menerima sepenuh hati atas apapun yang terjadi. Ridha kepada Allah berarti ia sepenuh hati menerima dengan senang hati segala apa yang Allah beri, disertai dgn positif thinking dalam menjalaninya. Demikian juga ridha terhadap Islam, yaitu rela, ikhlas dan senang hati terhadap apapun aturan dan syariat Allah Swt dalam ajaran agama Islam. Sedangkan ridha terhadap Rasulullah Saw berarti sepenuh hati mencintai beliau, mengamalkan sunnah2 beliau, membela kehormatan beliau, senantiasa gemar bershalawat untuk beliau serta mengajarkan ajaran2 beliau.
4. Jika prinsip dasar keimanan telah terpatri dalam hati, maka setiap hamba pasti menginginkan derajat yang lebih tinggi di sisi Allah Swt di akhirat nanti. Allah akan meninggikannya 100 derajat lebih tinggi, dimana antara satu derajat dengan derajat lainnya, tingginya seumpama langit dan bumi. Masya Allah, betapa mulianya derajat tersebut. Dan derajat itu bisa digapai dengan satu amalan yang sangat mulia. Amalan tersebut adalah jihad fi sabilillah, yaitu memperjuangkan agama Allah di jalan Allah Swt. Maka, sudahkan kita turut andil dalam memperjuangkan agama Allah? Ya Rabb, jadikanlah kami termasuk di dalamnya.

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

;;