Rehad (Renungan Hadits) 236
Antara Teman Yang Baik Dengan Teman Yang Buruk

عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً (رواه مسلم)
Dari Abu Musa ra, bajwa Nabi Saw bersabda,  "Sesungguhnya perumpamaan teman dekat yang baik dan teman dekat yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi terkadang mengoleskan wanginya kepada kamu dan terkadang kamu membelinya sebagian atau kamu dapat mencium semerbak harumnya minyak wangi itu. Sementara tukang pandai besi adakalanya ia membakar pakaian kamu ataupun kamu akan menciumi baunya yang tidak sedap." (HR. Muslim, hadits no 4762)

Hikmah Hadits ;
1. Bahwa dalan kehidupan, selalu ada dua sisi yang selalu berlawanan dan bertentangan, yang keduanya tiada akan pernah berpadu, yaitu sisi gelap dan sisi terang, atau sisi batil dan haq, serta sisi baik dan sisi buruk. Demikian juga halnya dengan ikatan pertemenan dan ukhuwah; selalu ada seorang sahabat atau teman yang baik dan juga ada sahabat dan teman yang buruk. Baik teman yang baik maupun teman yang buruk, keduanya selalu ada di sekitar kita dalam setiap kehidupan kita. Pilihan untuk berteman dan menjadikannya sebagai sahabat setia atau guna menjadi mitra dala merajut tali ukhuwah, semuanya ada pada kita.
2. Maka ada baiknya kita berhati-hati dan teliti dalam memilih teman, karena "agama" seseorang adalah sangat bergantung pada teman dan sahabat pergaulannya. Jika baik teman dan pergaulannya maka insya Allah akan baik pula agamanya. Sebaliknya jika buruk temannya, maka akan menjadi buruk pula agamanya. Hal ini senagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits ;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ (رواه أبو داود)
Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seseorang itu bergantung pada agama teman gaulnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat dengan siapa yang menjadi teman gaulnya." (HR. Abu Daud, no 4193)
3. Bahwa indikator kebaikan seorang teman, bukan hanya diukur dari betapa baiknya seorang dalam perhatian maupun pemberian yg diberikannya kepada kita. Namun indikator kebaikannya adalah seberapa jauh ia bisa mengantarkan kita menjadi lebih dekat dengan Allah Swt; menjadikan kita lebih rajin beribadah serta menjadikan kita semakin terhindar dari perbuatan dosa dan maksiat. Itulah sebabnya, Nabi Saw memberikan perumpamaannya seperti berteman dengan penjual minyak; wangi dimana kita akan selalu merasakan aroma keharuman wanginya, bahkan terkadang dioleskan sebagian minyak wanginya ke diri kita.
4. Sebaliknya teman yang buruk, indikatornya adalah teman yang justru semakin menjauhkan kita dari Allah, menarik kita dalam lembah cinta dunia dan kemaksiatan, membuat kita lalai dari ibadah, menjadikan kita "berani" mencoba-coba yang haram, serta menyeret kita pada kemurkaan Allah Swt. Itulah sebabnya, Nabi Saw memgumpamakannya seperti berada bersama dgn tukang besi, yang selalu meniup api guna membakar besinya; udara panas dan percikan api selalu menjadi kesehariannya, yang terkadang hawa panasnya, aroma keringatnya yang tidak sedap serta bahkam percikan apinya dapat saja mengenai dan membakar kita. Maka, mari kita selektif dalam memilih teman dan sahabat, agar kita bisa mendapatkan kebaikannya seperti kebaikan minyak wangi yang harum dan mengharumkan kita serta mengantarkan kita pada keridhaan Allah Swt.

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad (Renungan Hadits) 235
Dan Setiap Senyuman Pun Akan Berbuah Pahala

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ (رواه مسلم)
Dari Abu Dzar ra berkata, bahwa Nabi Saw bersabda kepadaku, "Janganlah kamu menganggap remeh perbuatan baik sedikitpun, mrskipun hanya menampilkan wajah ceria kepada saudaramu (sesama muslim) ketika bertemu.' (HR. Muslim, hadits no 4760)

Hikmah Hadits ;
1. Bahwa perbuatan kebaikan (baca ; amal shaleh) itu sangat luas jangkauannya dan sangat variatif ragamnya. Dan tidak semua perbuatan kebaikan itu berat atau sulit untuk dilakukan. Bahkan kebanyakan amal shaleh itu justru sangat mudah dan amat ringan untuk dilamalkan, salah satunya adalah 'menampilkan wajah ceria, atau memberikan senyuman terhadap saudara sesama muslim, sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas. Dan ternyata sekedar memberikan senyuman saja, keutamannya adalah akan mendatangkan pahala seperti bersedekah. Subhanallah, betapa mulianya ajaran Rasulullah Saw.
2. Bahkan dalam riwayat lainnya, yaitu riwayat Imam Tirmudzi, Nabi Saw menggambarkannya dengan bahasa ( تبسمك ) yang artinya, "senyumanmu", yaitu riwayat berikut ;
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَة... (رواه الترمذي)
Sari Abu Dzarr ra berkata; Rasulullah Saw bersabda, "Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah bagimu.." (HR. Tirmidzi, hadits no 1879). Dan Nabi Saw pun dalam banyak riwayat digambarkan bahwa beliau selalu tersenyum. Dalam sebuah kesempatan, Abdullah bin Mas'ud ra berkata,
فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ
Sungguh aku melihat Rasulullah Saw tersenyum hingga gigi geraham beliau terlihat'.(HR. Muslim, hadits no 273). Dalam riwayat lainnya juga disebutkan, Dari Jarir bin Abdillah ra, berkata, “bahwa Rasulullah Saw tidak pernah melarangku untuk menemui beliau sejak aku masuk Islam, dan beliau tidak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum di hadapanku.' (HR. Muslim)
3. Ada hal yang perlu menjadi catatan kita terkait dengan masalah senyuman, yaitu ;
#1. Bahwa meskipun kita dianjurkan untuk selalu tersenyum, namun sesungguhnya kita juga dilarang untuk tertawa hingga terbahak-bahak. Dan Nabi Saw sendiri tidak pernah tertawa hingga terbahak-bahak. Dalam riwayat disebutkan ; Dari Aisyah isteri Nabi Saw, bahwa ia berkata, "Saya tidak pernah melihat Rasulullah Saw tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, karena biasanya beliau hanya tersenyum." (HR. Muslim, no 1497). Karena tertawa terbahak-bahak berpotensi matikan hati, sebagaimana sabda beliau,
وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْب
"Dan janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tertawa itu akan mematikan hati." (HR. Tirmidzi, hadits no 2227).
#2. Hendaknya setiap senyuman dilakukan adalah ikhlas semata-mata mengharap keridhaan Allah Swt dan mengamalkan sunnah Rasulullah Saw. Jangan sampai misalnya, kita tersenyum hanya untuk sekedar menebar pesona, atau untuk menggoda lawan jenis, atau hanya karena SOP dalam pekerjaan semata yang menuntut kita "harus" tersenyum terhadap customer misalnya. Namun senyuman hendaknya dari hati, ikhlas karena Allah dan mengamalkan sunnah Rasulullah Saw. Dan insya Allah, senyuman seperti inilah  yang akan berbuah pahala seperti bersedekah.

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad 234. Jangan Tertipu Pesona Tampilan Lahiriyah

Rehad (Renungan Hadits) 234
Jangan Tertipu Pesona Tampilan Lahiriyah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالْأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Berapa banyak orang yang rambutnya kusut, tampak dihinakan dan di usir oleh orang-orang, namun apabila dia berdo'a kepada Allah, pasti Allah akan mengambulkannya." (HR. Muslim, hadits no 4754)

Hikmah Hadits ;
1. Anjuran utk tidak memandang seseorang dari tampilan lahiriyahnya saja. Karena betapa banyak orang yang tampilan lahiriyahnya mempesona, kata-katanya seolah membangkitkan asa, visi dan pengetahuannya seakan menghentak dada, goresan penanya menyihir mata, namun ternyata bathiniyahnya porak poranda. Sebaliknya betapa banyak orang yang tampilan lahiriyahnya sangat sederhana, namun ternyata hatinya penuh iman dan taqwa, yang apabila ia berdoa, Allah Swt pasti mengijabah segala doanya. Dalam riwayat disebutkan, dari Sahl ra berkata, Ada seorang laki-laki lewat di hadapan Rasulullah Saw, maka beliau pun bertanya kepada para sahabat, "Bagaimana pendapat kalian mengenai orang ini?" Mereka menjawab, "Ia begitu berwibawa. Bila ia meminang pasti diterima, dan bila memberi perlindungan pasti akan dipenuhi, dan bila ia berbicara, niscaya akan didengarkan." Beliau kemudian terdiam, kemudian lewatlah seorang laki-laki dari fuqara` kaum muslimin, dan beliau pun bertanya lagi, "Lalu bagaimanakah pendapat kalian terhadap orang ini?" mereka menjawab, "Ia pantas bila meminang untuk ditolak, jika memberi perlindungan tak akan digubris, dan bila berbicara niscaya ia tidak didengarkan." Maka Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya orang ini lebih baik daripada seluruh kekayaan dunia yang seperti ini. (HR. Bukhari, hadits no 4701)
2. Karena Allah Swt Maha Adil dan Maha Bijaksana, Allah tidak memandang seseorang dari pintarnya ia bermain kata, atau dari pesona tampilan fisiknya, atau dari harta dalam aset kekayaannya. Namun Allah Swt hanya memandang seseorang dari kemuliaan hatinya yang terhiasi dengan iman dan taqwa. Nabi Saw bersabda,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim, no 4651)
3. Maka betapa bahagianya seseorang yang hidupnya sederhana, tutur katanya juga sederhana, ilmunya juga mungkin sederhana, namun ia memiliki tingkat keikhlasan yang sangat luar biasa, sehingga amal shalenya jauh melebihi tampilan fisiknya, keindahan hatinya jauh mengungguli keindahan wajahnya dan sentuhan kalimat dalam hatinya jauh menandungi kata-kata yang keluar dari lisannya. Orang yang seperti inilah bisa jadi merupakan orang-orang yg dicintai Allah Swt, yang meskipun tidak banyak dikenal oleh penduduk bumi, namun ia sangat di kenal oleh penduduk langit, yaitu oleh para malaikat yang suci dan mulia. Nabi Saw bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْأَبْرَارَ الْأَتْقِيَاءَ الْأَخْفِيَاءَ الَّذِينَ إِذَا غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا وَإِنْ حَضَرُوا لَمْ يُدْعَوْا وَلَمْ يُعْرَفُوا قُلُوبُهُمْ مَصَابِيحُ الْهُدَى يَخْرُجُونَ مِنْ كُلِّ غَبْرَاءَ مُظْلِمَةٍ
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang baik lagi bertakwa dan tidak dikenal, yaitu orang-orang yang apabila menghilang maka mereka tidak dicari-cari, dan jika mereka hadir maka mereka tidak di kenal, hati mereka ibarat lentera-lentera petunjuk yang muncul dari setiap bumi yang gelap." (HR. Ibnu Majah, no 3979). Ya Allah jadikanlah hati-hati kami menjadi hati yang yang memiliki pesona iman dan taqwa, yang keindahannya dapat memikat para Malaikat dan menjadi penyebab datangnya rahmat dan pembawa syafaat... Amiin Ya Rabbal Alamiiin.

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

;;