Rehad 232. Tiga Jenis Dusta Yang Diperbolehkan

Rehad (Renungan Hadits) 232
Tiga Jenis Dusta Yang Diperbolehkan

عن أُمّ كُلْثُومٍ بِنْتَ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِي خَيْرًا  (رواه مسلم)
Dari Ummu Kultsum bin 'Uqbah bin Abu Mu'aith bahwasanya ia mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Bukanlah termasuk pendusta ; orang yang mendamaikan pihak-pihak yang sedang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan." (HR. Muslim, hadits no 4717)

Hikmah Hadits ;
1. Pada dasarnya dusta adalah haram, bahkan termasuk salah satu dosa besar sebagaimana digambarkan riwayat dari Abu Bakrah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Maukah aku beritahukan kepada kalian dosa besar yang paling besar?" Yaitu tiga perkara, (1) menyekutukan Allah, (2) mendurhakai kedua ibu bapak, dan (3) bersaksi palsu atau kata-kata palsu, " saat itu beliau sedang bersandar lalu duduk. Beliau terus mengulangi sabdanya sehingga kami berkata, 'Semoga beliau berhenti'." (HR. Muslim, hasits no 126).
2. Namun ada kondisi-kondisi tertentu dimana perkataan yang mengandung dusta masih diperbolehkan. Imam Az-Zuhri (perawi hadits di atas) mengemukakan ;
قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الْحَرْبُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا
lbnu Syihab Az-Zuhri berkata; 'Saya tidak pernah mendengar diperbolehkannya dusta yang diucapkan oleh manusia kecuali dalam tiga hal, yaitu; (1) dusta dalam peperangan, (2) dusta untuk mendamaikan pihak-pihak yang sedang bertikai, dan (3) dusta suami terhadap istri atau istri terhadap suami (untuk meraih kebahagiaan atau menghindari keburukan). (HR. Muslim no 4717).
3. Namun yang juga perlu menjadi catatan adalah bahwa dusta yang diperbolehkan dalam hadits diatas adalah dusta dalam arti permainan kata (tauriyah) yaitu menampakkan pada yang diajak bicara tidak sesuai kenyataan, namun sesungguhnya pernyataan yang diungkap itu adalah benar, bukan duata dalam arti dusta kebohongan secara mutlak. Di dalam kitab Syarah Muslim, Imam An Nawawi menyatakan, ”Maksud dusta suami kepada istri dan sebaliknya adalah dusta ketika menampakkan cinta kasih dan ketika berjanji pada perkara yang tidak wajib atau sejenisnya. Ada pun dusta di antara suami dengan maksud menipu untuk mendapatkan perkara yang bukan haknya, maka dusta seperti ini hukumnya haram berdasarkan ijma’ kaum muslim." Demikian juga dusta untuk mengislah (mendamaikan) dua pihak yang sedang bertikai, misalnya dengan mengatakan, "Si A yang kamu benci, sebenarnya sering mendoakanmu". Ungkapan tersebut dumaksudkan agar pihak yang bertikai dapat mereda emosinya dan saling bermaafan.
4. Maqashid atau filosofi dari diperbolehkannya dusta (tauriyah) seperti ini adalah menghindarkan dari mafsadat (kerusakan dan kehancuran), seperti permusuhan antara sesama kaum muslimin, atau perceraian anatara suami istri, atau merajalelanya kedzaliman. Karena jika hal tersebut terjadi, tentu mudharat dan dampaknya akan lebih besar. Oleh karena itulah dalam syariah menghilangkan kemungkaran harus lebih diprioritaskan bahkan dibandingkan dengan mendatangkan kemanfaataan ;
درء المفاسد مقدم من جلب المصالح
"Menghilangkan kemafsadatan harus lebih didahulukan dari pada mendatangkan kemaslahatan”


Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad (Renungan Hadits) 231
Da'wah Itu Bukanlah Memfonis, Namun Mengajak Dan Bertutur Kata Yang Manis

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah dia berkata; "Seorang sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, do'akanlah untuk orang-orang musyrik agar mereka celaka! ' Mendengar itu, Rasulullah Saw bersabda, 'Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.'" (HR. Muslim, hadits no 4704)

Hikmah Hadits ;
1. Bahwa da'wah merupakan sebuah kewajiban fardhu 'ain bagi setiap muslim. Syekh Abdul Karim Zaidan dalam kitabnya Ushulud Da'wah menjelaskan secara panjang lebar berkenaan dengan hal tersebut, dimana salah satu argumentasi yang beliau paparkan adalah firman Allah Swt QS. Ali Imran : 104, bahwa ( منكم ) Abdul Karim dalam ayat tersebut adalah littabyin (berfungsi sebagai penjelas), bukan littab'idh (berfungsi sebagai kata yg menunjukkan sebagian), yang oleh karenanya tidak bisa difahami perintah berdakwah hanya utk sebagian saja sementara yg lainnya tidak, karena dakwah adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah. Kecuali jika difahami dalam arti keharusan adanya orang yang fokus membuat peta dakwah, strategi dan sarana dakwah, tahapan, target, perangkat dan segala hal yang dibutuhkan bagi para pendakwah, maka menyiapkan itu semua adalah fardhu kifayah. Adapun dakwahnya iti sendiri adalah fardhu ain.
2. Namun walaupun da'wah merupakan fardhu ain, tidak kemudian bagi seorang muslim bebas berkata apapun kepada siapapun dalam kondisi apapun, terlebih berkata yg di dalamnya terdapat "fonis" yang negatif bagi orang lain, atau doa yang di dalamnya mengutuk, melaknat atau mencelakai orang lain. Karena substansi dakwah adalah mengajak dan menyeru, agar manusia dapat kembali dan lebih dekat dengan Allah Swt. Sehingga tutur kata yang baik dan bijak, doa yang tulus dan ikhlas serta harapan turunnya hidayah Allah terhadap orang yg didakwahi, seharusnya menjadi obsesi terbesarnya dalam dakwah. Bukan malah "menyalahkan" orang lain, membid'ahkan kelompok lain, "memfonis" masuk neraka madzhab lain, dan menganggap bahwa hanya dirinya dan kelompoknya serta Ustadz-ustadznya saja yg ahli surga, sementara selain mereka adalah neraka semua.
3. Lihatlah betapa bijaknya dakwah Nabi Saw sebagaimana digambatkan dalam riwayat dari Abu Umamah berkata; Sesungguhnya seorang pemuda mendatangi Nabi Saw lalu berkata, Wahai Rasulullah Izinkan aku untuk berzina. Orang-orang mendatanginya lalu melarangnya, mereka berkata; Jangan, jangan. Rasulullah Saw bersabda; "Mendekatlah." Ia pun mendekat lalu duduk kemudian Rasulullah Saw bersabda; "Apa kamu suka jika ibumu berzina?" pemuda itu menjawab; Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku sebagai penebus tuan. Nabi Saw bersabda, orang-orang juga tidak menyukai ibu-ibu mereka berzina." Rasulullah Saw bersabda; "Apa kamu suka jika putrimu berzina?" Tidak, demi Allah wahai Rasulullah semoga Allah menjadikanku sebagai penebus Tuan. Nabi Saw bersabda, orang-orang juga tidak menyukai jika putri mereka berzina." Rasulullah Saw bersabda; "Apa kamu suka jika bibimu berzina? Tidak, demi Allah wahai Rasulullah semoga Allah menjadikanku sebagai penebus Tuan. Nabi Saw bersabda; Orang-orang juga tidak menyukai jika bibi mereka berzina." Kemudian Rasulullah Saw meletakkan tangan beliau pada pemuda itu dan berdoa; "Ya Allah! Ampunilah dosanya, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya." Setelah itu pemuda itu tidak pernah berniat lagi utk berbuat zina.' (HR. Ahmad, hadits no 21185). Maka hendaknya rahmat lebih dikedepankan dalam dakwah, bukan justru laknat. Karena kita adalah du'at (para da'i) bukan qudhat (para pemfonis).

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad (Renungan Hadits) 230
Ketika Kelemahlembutan Terlepas Dari Pribadi Seorang Muslim

عَنْ جَرِيرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ (رواه مسلم)
Dari Jarir ra bahwa  Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Barang siapa yang dijauhkan dari sifat lemah lembut (kasih sayang), maka berarti ia telah dijauhkan dari kebaikan.'" (HR. Muslim, hadits no 4694)

Hikmah Hadits ;
1. Sikap kasih sayang dan kelemahlembutan merupakan salah satu sifat utama Nabi Saw sekaligus menjadi karakteristik dakwah beliau, serta seharusnya menjadi ciri utama umat Nabi Muhammad Saw. Allah Swt berfirman, "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. 3 : 159).
2. Selain keutamaan di atas, kasih sayang dan kemelah lembutan memiliki beberapa keutamaan lainnya, diantaranya adalah sbb ;
#1. Kelemahlembutan merupakan sifat yang dicintai Allah Swt. Hal ini sebagaimana hadits berikut :
 يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ
Wahai, 'Aisyah. Sesungguhnya Allah Swt, mencintai kelrmahlembutan dalam segala urusan.' (HR. Muslim, no 4027)
#2. Kelemahlembutan akan mendatangkan kebaikan yang tidak akan pernah bisa didatangkan oleh sifat apapun kecuali sifat kelemahlembutan saja.
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah akan memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya." (HR. Muslim, no 4697)
#3. Kelemahlembutan akan menjadi penghias akhlak seseorang, siapapun, dimanapun dan kapanpun. Nabi Saw bersabda
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَه
"Sesungguhnya kasih sayang itu tidak akan berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika kasih sayang itu dicabut dari sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi buruk." (HR. Muslim, no 4698)
#4. Kelemahlembutan menjadi penyebab datangnya kebaikan bagi sebuah keluarga. Nabi Saw bersabda ;
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمْ الرِّفْقَ
"Jika Allah menginginkan sebuah kebaikan untuk pemilik rumah maka Allah akan memasukkan kasih sayang atas mereka. (HR. Ahmad, no 23290).
3. Sebaliknya, jika kelemahlembutan sudah "hilang" dari dalam diri pribadi seseorang, maka berarti Allah Swt telah mencabut segala bentuk kebaikan yang terdapat dalam dirinya. Dan jika kebaikan telah dicabut oleh Allah dalam diri seseorang, maka berarti tiada yang tersisa kecuali hanya keburukan semata, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, na'udzu billah min dzalik. Semoga Allah Swt senantiasa menghiaskan sifat kelemahlembutan dalam diri pribadi kita, serta menjauhkan kita dari sifat keras dan kasar, dalam perkataan dan perbuatan kita semua..... Amiin Ya Rabbal Alamiiin.

Wallahu A'lam
By Rikza Maulan, Lc, M.Ag

;;