Rehad (Renungan Hadits) 143
Dan Setiap Sumpah Dalam Muamalah Ternyata Tidak Mendatangkan Berkah

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْع،ِ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ (رواه مسلم)
Dari Abu Qatadah Al Anshari ra, bahwa beliau mendengar Rasulullah Saw bersabda: "Jauhilah oleh kalian banyak bersumpah dalam jual beli, karena ia dapat melariskan (dagangan) dan kemudian akan menghilangkan (keberkahan)." (HR. Muslim, hadita no. 3015)

Hikmah Hadits ;
1. Bahwa jual beli merupakan salah satu bentuk usaha yang halal dan bahkan kehalalannya telah ditetapkan dalam Al-Qur'an, yaitu dalam QS. Al-Baqarah : 275, "....dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.." Namun bukan berarti ketika hukumnya halal, seseorang boleh melakukan proses apa saja guna melariskan dagagannya. Karena disana ada adab dan etika yang harus diindahkan oleh setiap muslim. Dan diantara adab dan etika tersebut adalah "tidak banyak bersumpah" dalam jual beli. Dalam riwayat lain hanya disebutkan "bersumpah" saja tanpa menyebutkan kata "banyak" (katsrah).
2. Sumpah dalam jual beli memang dapat melariskan dagangan, karena bisa jadi akan semakin menimbulkan kepercayaan pembeli terhadap pedagang atau terhadap pelaku bisnis lainnya. Namun di sisi lainnya ia juga akan menghilangkan keberkahan dalam jual belinya tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Muslim di atas. Karena walaupun hukum asal bersumpah itu adalah boleh, namun rasanya "tidak pantas" bagi seorang muslim bersumpah menggunakan nama Allah Swt hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi dalam berdagang, atau sekedar mengharapkan kepercayaan orang lain, guna melariskan bisnisnya. Jumhur ulama mengatakan bahwa sumpah dalam jual beli hukumnya makruh bagi pedagang yang jujur, namun haram bagi pedagang yang tidak jujur.
3. Sumpah hendaknya digunakan dalam perkara2 yang besar, menyangkut kepentingan yang besar dan untuk hal2 yang besar pula, seperti dalam proses peradilan, dsb. Dan dalam riwayat lainnya, Allah bahkan memberikan ancaman terhadap pedagang atau pelaku bisnis yg banyak bersumpah dengan ancaman yang berat, "Tiga golongan manusia yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara pada hari kiamat, tidak melihat mereka, tidak mensucikan dosanya dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih." Abu Dzar berkata, "Rasulullah Saw membacanya tiga kali. Abu Dzar berkata, "Mereka gagal dan rugi, siapakah mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang melakukan isbal (memanjangkan pakaian), orang yang suka memberi dengan menyebut-nyebutkannya (karena riya'), dan orang yang membuat laku barang dagangannya dengan sumpah palsu." (HR. Bukhari)

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad (Renungan Hadits)  142
Dan Berbagai Kemuliaan Itupun Bertebaran Di Bulan Muharram

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra ia berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadlan adalah puasa pada bulan Allah Al-Muharram. Dan sebaik-baik shalat setelah shalat Fardlu, adalah shalat malam." (HR. Muslim, hadits no. 1982)

Hikmah Hadits :
1. Bahwa bulan Muharram memiliki beberapa keistimewaan dan kemuliaan, diantaranya adalah sebagai berikut ;
#1) Bulan Muharram merupakan satu diantara bulan-bulan yang haram yaitu bulan2 yang dimuliakan dan disucikan. Karena di bulan2 tersebut berbagai bentuk perbuatan yang terlarang semakin ditekankan pelarangannya, seperti berperang, mengambil hak orang lain, mencederai kehormatan orang lain dsb. Dalam riwayat disebutkan, bahwa Nabi Saw bersabda, Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta satubulan yang terpisah yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Akhir dan Sya’ban.” (HR. Muslim)
#2). Bulan Muharram merupakan bulan yang secara penamaannya dinisbatkan kepada Allah Swt sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas, Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadlan adalah puasa pada bulan Allah Al-Muharram..."(HR. Muslim)
#3). Bulan Muharram, khususnya pada 10 Muharram, merupakan hari dimana Allah Swt menyelamatkan dari Bani Israil dari musuhnya, sehingga Nabi Musa as berpuasa pada hari tersebut. Dalam riwayat disebutkan, 'Ketika Rasulullah Saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka Beliau bertanya : “Hari apa ini?. Mereka menjawab, “Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Maka Rasulullah Saw bersabda, “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa di tahun yang akan datang.' (HR. Muslim)
#4). Bulan Muharram merupakan bulan dimana kaum muslimin melaksnakan puasa sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam riwayat, Dari Abdullah bin Umar ra bahwa kaum Jahiliyah dulu berpuasa Asyuro dan Rasulullah Saw serta kaum muslimin juga berpuasa sebelum diwajibkan puasa Ramadhan..' (HR. Muslim).
2. Maka pada bulan Muharram ini anjuran untuk melakukan amal shaleh sangat ditekankan dan sebaliknya perbuatan terlarang sangat ditekankan untuk dianjurkan. Karena pahala amal shaleh akan dilipatgandakan, sementara dosa dari perbuatan nista juga akan menjadi berlipatganda pula.

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad (Renungan Hadits) 141
Haramnya Ihtikar (Menimbun dan Memonopoli Suatu Barang)

عن سَعِيد بْن الْمُسَيَّبِ يُحَدِّثُ أَنَّ مَعْمَرًا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ احْتَكَرَ فَهُوَ خَاطِئٌ (رواه مسلم)
Dari Sa'id bin Musayyab ra menceritakan bahwa Ma'mar berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa melakukan ihtikar (menimbun barang), maka dia berdosa.' (HR. Muslim, hadits no. 3012)

Hikmah Hadits ;
1. Bahwa pada dasarnya setiap orang diperbolehkan untuk mengambil keuntungan dari hasil jual beli secara maksimal selama proses jual belinya dilakukan dengan baik, normal, tanpa rekayasa harga dan tanpa membuat kemudharatan bagi orang lain.
2. Bahwa ihtikar sebagaimana yang dilarang Nabi Saw dalam hadits di atas adalah salah satu bentuk rekayasa dalam jual beli demi meraup keuntungan pribadi yang besar tanpa memperdulikan kepentingan orang lain. Karena ihtikar secara bahasa bermakna membeli dan memborong. Sedangkan secara istilah, ihtikar adalah membeli atau memborong suatu barang tertentu di pasaran atau dari tempat produksinya, untuk kemudian disimpan dan ditimbun dalam suatu tempat dengan tujuan agar barang tersebut langka di pasaran, dan kemudian menjualnya kembali pada saat harganya telah tinggi, untuk mengambil keuntungan secara bathil.
3. Ihtikar dilarang karena dapat menimbulkan dharar (kemudharatan) bagi orang banyak, yaitu menyulitkan masyarakat dalam mencari barang kebutuhannya di pasar, dan bahkan mengakibatkan mereka harus mengeluarkan dana yang lebih besar dari yang seharusnya mereka keluarkan untuk membeli suatu barang tertentu. Disamping juga bahwa ihtikar menimbulkan iklim bisnis muamalah yang tidak sehat, yang berakibat pada saling menikam antara sesama pelaku bisnis atau terhadap para konsumennya serta mengandung unsur rekayasa yg tidak sahat dalam muamalah.
4. Maka ulama sepakat akan haramnya ihtikar, bahkan sebagian ulama memasukkannya ke dalam kategori dosa besar. Dalam riwayat lainnya dijelaskan bahwa pelaku ihtikar akan diancam dengan 3 ancaman, yaitu ;
#1). "Dicap" sebagai orang yang "khati', yaitu orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan dosa.(HR. Muslim)
#2). Di Akhirat kelak Allah akan mempersiapkan baginya tempat duduk yg besar yang terbuat dari bara api neraka. (HR. Ahmad)
#3). Allah Swt juga akan memberikan penyakit dan kerugian baginya di dunia. (HR. Ibnu Majah). Na'udzubillahi min dzalik, dan semoga kita semua terhindarkan dari keburukan rizki.

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag.

;;