Rehad 164. Pemimpin Yang Membenci dan Dibenci Umat

Rehad (Renungan Hadits) 164
Pemimpin Yang Membenci dan Dibenci Umat

عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ خَلَا بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي كَمَا اسْتَعْمَلْتَ فُلَانًا؟ فَقَالَ إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ (رواه مسلم)
Dari Usaid bin Khudlair ra, bahwa seorang laki-laki Anshar menemui Rasulullah Saw seraya berkata, "Tidakkah anda mengangkatku sebagaimana anda mengangkat fulan (sebagai amir)?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya sepeninggalanku kelak, kamu akan menjumpai (penguasa) yang mementingkan diri sendiri. Maka sabarlah hingga kalian berjumpa denganku di telaga." (HR. Muslim, hadits no. 3432)

Hikmah Hadits :
1. Bahwa ambisi terhadap jabatan demi kepentingan diri sendiri adalah tercela. Terlebih dengan bentuk datang kepada orang yang berpengaruh, lalu "meminta" untuk diberikan jabatan dan kedudukan, senagaimana digambarkan dalam hadits di atas. Berkeinginan terhadap suatu jabatan akan menjadi mulia ketika jabatan dan kedudukan tersebut digunakan dalam rangka ibadah kepada Allah Swt, dakwah di jalan Allah, memberikan perlindungan bagi umat dan atau untuk memberikan kemaslahatan yang lebih luas bagi masyarakat.
2. Bahwa fenomena akan munculnya kepemimpinan yang hanya mementingkan diri sendiri dan atau mementingkan kelompoknya, serta tidak punya keberpihakan sama sekali terhadap umat, adalah hal yang telah disampaikan oleh Nabi Saw akan terjadi sejak 14 abad yang silam. Alih-alih melundungi dan mengayomi umat, bahkan mereka pun tega untuk berkhianat terhadap umat dan negrinya. Menjual dan menggadaikan negrinya demi keuntungan dan kepentingan diri pribadi dan atau kelompoknya saja. Inilah hal yang disabdakan Nabi Saw sejak berabad silam, dan rasanya sekarang ini kita berada di zaman tersebut.
3. Dalam riwayat lainnya Nabi Saw bersabda, Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo'akan kalian dan kalian mendo'akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka." (HR. Muslim, hadits no 3447). Benar2 hadits ini menggambarkan kondisi kepemimpinan dewasa ini;  pemimpin yang membenci umat, mencaci umat, menfitnah umat, mengutuk umat dan umat Islam pun membencinya dan mengutuknya.
4. Maka pemimpin seperti ini harus dihadapi dengan sabar. Dan sabar dalam monteks ini maknanya adalah dengan mengatakan yang haq adalah haq, dan yang bathil adalah bathil. Karena sebaik2 jihad adalah perkataan yang haq dihadapan penguasa yang dzalim, sebagaimana sabda Nabi Saw, Sesungguhnya jihad yang paling agung adalah ungkapan yang adil (benar) yang disampaikan di hadapan penguasa yang zhalim." (HR. Tirmidzi no 2100, Abu Daud no 3781, Nasa'i no 4138, Ibnu Majah 4001, Imam Ahmad no 18076). Dan siapa yang konsisten dengan hal tersebut, maka Nabi Saw menjanjikan sebuah pahala yang besar, yaitu "haudh". Haudh adalah sebuah telaga di dalam surga, yang siapapun meminum air darinya maka ia tidak pernah merasakan dahaga selamanya...

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad (Renungan Hadits) 163
Jabatan, Antara Ambisi Pribadi dan Sebuah Amanah

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلَانِ مِنْ بَنِي عَمِّي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِّرْنَا عَلَى بَعْضِ مَا وَلَّاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَل،َّ وَقَالَ الْآخَرُ مِثْلَ ذَلِكَ، فَقَالَ إِنَّا وَاللَّهِ لَا نُوَلِّي عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلَا أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ (رواه مسلم)
Dari Abu Musa dia berkata, "Saya dan dua orang anak pamanku menemui Nabi Saw, salah seorang dari keduanya lalu berkata, "Wahai Rasulullah, angkatlah (jadikanlah) kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah yang telah diberikan Allah Azza Wa Jalla kepadamu." Dan seorang lagi mengucapkan ungkapan yang sama, maka beliau bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan bagi orang yang meminta dan yang berambisi terhadapnya." (HR. Muslim, hadits no. 3402)

Hikmah Hadits ;
1. Bahwa jabatan pada hakekatnya merupakan  amanah dari Allah Swt yang dipikulkan ke atas pundak hamba-hamba-Nya. Dan bahwasanya setiap jabatan dan kedudukan kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Swt. Oleh karena itulah, ketika ada sahabat yang datang untuk meminta jabatan sebagai amir wilayah (kepala daerah), maka Nabi Saw justru tidak memberikannya kepada sahabat teraebut. Bahkan dalam hadits lainnya Nabi Saw berkata kepada Abu Dzar, "...bahwasanya jabatan itu adalah amanah, dan kelak di akhirat akan menjadi kehinaan dan pengesalan di hari kemudian." (HR. Muslim, no 2404).
2. Namun hal ini bukan berarti bahwa seorang muslim dilarang untuk mengejar jabatan dan kedudukan. Jika ada kemaslahatan bagi umat dengan jabatan tersebut, yang apabila dipegang oleh orang lain maka justru akan menimbulkan mudharat besar bagi umat, maka jabatan bahkan bisa jadi menjadi fardhu kifayah bagi umat Islam. Misalnya saja dalam konteks kepemimpinan di ibukota Jakarta sebagaimana yang terjadi saat ini, yang memang kenyataannya banyak sekali menimbulkan kemudharatan bagi umat Islam, bangsa dan negara. Maka "meraih" jabatan dan kedudukan dari pemimpin penista agana dan sewenang2 serta berbuat dzalim adalah menjadi fardhu kifayah bagi kaum muslimin di Indonesia khususnya di Ibukota DKI Jakarta.
3. Dikisahkan dalam Al-Qur'an bahwa Nabi Yusuf as pun pernah meminta jabatan dalam rangka untuk perbaikan Negri yang ketika itu belum ada yang mampu untuk menanggulanginya selain beliau. Karena negri Mesir ketika itu berpotensi mengalami kebangkrutan lantaran akan ada kemarau panjang yang menjadikam seluruh sawah dan ladang mereka tdk bisa menghasilkan. Al-Qur'an mengisahkan, "Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". (QS. 12 : 55) Namun yang perlu menjadi catatan adalah bahwa motivasi dari jabatan tersebut bukanlah ambisi pribadi, melainkan dalam rangka dakwah dan islah. Itupun ada 2 syarat untuk dapat "mengajukan diri" sebagai calon pemimpin sebagaimana dalam kisah Nabi Yusuf as (QS. 12 : 55) yaitu pandai menjaga (amanah) dan berpengetahuan (profesional).
4. Mudah2an Allah Swt akan memberikan anugrah kepada kita khususnya warga di DKI Jakarta seorang pemimpin yang shaleh, ramah, adil, amanah dan profesional serta memiliki keberpihakan yang kuat kepada umat. Sehingga insya Allah DKI Jakarta kelak di 2017 akan menjadi sebuah kawasan sebagaimana kawasan masyarakat Madani, yaitu kawasan yang "Maju Kotanya & Bahagia Warganya". Amiiiin Ya Rabbal Alamiin..

Wallahu A'lam bis shawab
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad (Renungan Hadits) 162
Dan Doa Untuk Mendapatkan Kemenangan Adalah Bagian Dari Kemenangan Itu Sendiri

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْأَحْزَاب،ِ فَقَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيعَ الْحِسَابِ اهْزِمْ الْأَحْزَابَ اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ (رواه مسلم)
Dari Abdullah bin Abu Aufa ra berkata, "Bahwa Rasulullah Saw mendo'akan kehancuran bagi pasukan Ahzab (pasukan gabungan para musuh Islam diantaranya; kafir Quriasy, kaum munafikin, Yahudi, dan para sekutunya), beliau berdoa, "Ya Allah, Dzat yang menurunkan kitab, Dzat yang cepat dalam membuat perhitungan, hancurkanlah pasukan Ahzab. Ya Allah, hancurkanlah mereka dan cerai-beraikanlah mereka." (HR. Muslim, hadits no 3277)

Hikmah Hadits ;
1. Doa merupakan implementasi dari sebuah visi besar yang terdapat di dalam diri pribadi setiap orang yang beriman. Karena doa adalah refleksi dari luapan harapan yang membuncah yang tercetus dari dalam relung hati yang paling dalam guna meneguhkan langkah, cita, asa dan tujuan sebagai tumpuan dari sebuah harapan. Maka doa juga bisa menjadi tolak ukur obsesi seseorang dalam kehidupan, terkait arah mana yang akan ia tuju dan ke dermaga mana akan ia tambatkan.
2. Maka Nabi Saw mencontohkan bagaimana seharusnya setiap muslim menggantungkan obsesinya, yaitu "li takuna kalamatullahi hiyal 'ulya (untuk mengagungkan dan memuliakan serta memenangkan panji Allah Swt)." Karena obsesi termulia bagi setiap muslim adalah obsesi agar dakwah Islamiyah selalu tersebar ke seluruh penjuru dunia. Terlebih, dengan doa akan semakin memantapkan hati, menenangkan jiwa dan menentramkan raga, yang oleh karenanya akan menjadi faktor penunjang utama dalam kemenangan dalam sebuah perjuangan. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa doa menjadi bagian dari kemenangan itu sendiri.
3. Doa yang dilantunkan Nabi Saw sebagaimana dalam riwayat hadits di atas, adalah doa yang beliau lantunkan dalam peristiwa perang Ahzab, yaitu perang yang terjadi di tahun ke 5 H. Dimana kaum Kafir Quraisy menghimpun kekuatan2 besar dengan para suku2 besar lainnya, diantaranya dengan suku Bani Ghathafan, Bani Asad, Bani Sulaim, dan juga dimotori oleh kaum Yahudi Bani Qunaiqa', Bani Nadhir, dsb. Dan pada akhirnya hampir semua kekuatan di luar kekuatan Islam, berhimpun menjadi satu membentuk sebuah pasukan yang sangat besar yang secara keseluruhan berjumlah lebih dari 10.000 pasukan yang siap untuk mengepung, menyerang dan menghancurkan kekuatan Islam. Oleh karena itulah gabungan pasukan tsb disebut dengan ahzab yang berarti kelompok2 atau golongan2 yg besar.
4. Menghadapi pasukan yg sangat besar akan menyerang kota Madinah, tentu secara manusiawi membuat sebagian kaum muslimin menjadi takut dan khawatir, yang kemudian Nabi Saw mengambil usulan Salman Al-Farisi untuk membuat parit (Khandak), sabagai ikhtiar yang dilakukan guna menahan serangan pasukan besar tersebut, dengan tentu disertai doa dan permohonan kepada Allah Swt yang dimunajatkan dengan setulus hati dan seikhlas jiwa. Dan dengan izin Allah Swt, pasukan ahzab yang besar tersebut menjadi kocar kacir dengan angin kencang yg memporakporandakan mereka dan hati mereka menjadi takut dengan para malaikat yg Allah kirimkan menghembuskan ketekutan di dalam hati mereka. Dan akhirnya merekapun kembali pulang dengan tangan hampa tanpa mendapatkan satu kemenangan pun. Itu semua adalah berkat ikhtiar dan doa yang dilantunkan dari lubuk hati yg paling dalam. Maka, jangan pernah meninggalan doa demi kejayaan dan kemuliaan agama Islam.

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

;;