Rehad 129. Segala Bentuk Usaha Adalah Ibadah

Rehad (Renungan Hadits) 129
Segala Bentuk Usaha Adalah Ibadah

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَة،ٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَة،ٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَة،ٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ (رواه مسلم)
Dari Jabir ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Tidaklah seorang muslim yang menancapkan satu tanaman, kecuali setiap (hasil) tanaman yang dimakannya akan bernilai sedekah baginya; apa yang dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya; apa yang dimakan binatang liar menjadi sedekah baginya; apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya; dan juga tidaklah seseorang mengambil darinya, melainkan akan menjadi sedekah bagi dirinya." (HR. Muslim, hadits no. 2900)

Hikmah Hadits ;
1. Keutamaan berusaha dan bekerja dalam rangka memenuhi nafkah diri dan keluarga. Bahwa setiap usaha yang dilakukannya akan bernilai ibadah di mata Allah Swt. Jika ia seorang petani, maka setiap tanaman atau bibit atau biji yang ditanamnya akan terhitung sebagai amal perbuatan yang memiliki nilai ibadah yang mulia (baca ; sedekah) sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas.
2. Ulama berbeda pendapat terkait usaha apakah yang paling mulia di mata Allah Swt. (1) Sebagian berpendapat bahwa pertanian adalah yang paling mulia dengan dasar hadits di atas ditambah lagi bahwa petani benar2 mengharapkan hasil pertaniannya dari Allah Swt karena Allah lah yang menumbuhkan dan memberikan buah2an tsb. (2). Sebagian lainnya mengatakan bahwa berdagang merupakan bentuk yang paling mulia, lantaran Nabi Saw dahulunya adalah seorang pedagang, dan banyak sekali ayat-ayat Al-Qur'an yang memberikan permisalahan hubungan seorang hamba dengan Allah Swt sebagai hubungan tijarah (perdagangan).
3. Namun sesungguhnya dalam Islam, segala bentuk usaha, apakah pertanian, perdagangan, pegawai, profesional, atau apapun selama niatnya ikhlas karena Allah Swt, pekerjaan dan usaha yang dilakukannya halal tidak bertentangan dengan prinsip2 syariah, jujur dan amanah, serta menjaga akhlak dan etika bekerja sebagai seorang muslim/ah. Maka betapa bahagianya seorang muslim, karena setiap pekerjaannya mengantarkannya pada dua benefit dan kebaikan ; benefit duniawi dengan gaji, tunjangan, bonus dan faslitas yg ia dapatkan dan benefit ukhrawi dengan pahala dan ampunan dosa dari pekerjaannya. Nabi Saw bersabda, "Barang siapa yang di sore hari duduk melepaskan lelah dari pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan aore hari tersebut dosa-dosanya diampuni oleh Allah Swt." (HR. Thabrani)

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad 128. Tipu Menipu Dalam Jual Beli

Rehad (Renungan Hadits) 128
Tipu Menipu Dalam Jual Beli

عَنْ بْن عُمَرَ يَقُولُ ذَكَرَ رَجُلٌ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يُخْدَعُ فِي الْبُيُوع،ِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَايَعْتَ فَقُلْ لَا خِلَابَة،َ فَكَانَ إِذَا بَايَعَ يَقُولُ لَا خِيَابَةَ (رواه مسلم)
Dari Ibnu Umar ra berkata, Ada seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah Saw bahwa dirinya telah ditipu dalam dalam jual beli. Maka Nabi Saw bersabda, Jika kalian jual beli, maka katakanlah kepada penjual, Jangan ada tipu menipu. Maka setelah itu, apabila orang tersebut melakukan jual beli, ia selalu mengatakan, Jangan ada tipu menipu. (HR. Muslim, hadits no. 2826)

Hikmah Hadits ;
1. Orientasi manusia dalam melakukan transaksi jual beli umumnya adalah mencari keuntungan. Dan terkadang untuk mengejar keuntungan duniawi, tidak jarang manusia gelap mata sehingga tega melakukan tipu menipu, termasuk yang dialami oleh seorang sahabat ketika ia tertipu dalam jual beli, yang kemudian ia mengadu kepada Rasulullah Saw sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas, lalu Nabi Saw menasehatinya agar jika ia bertransaksi hendaknya ia mengatakan kepada penjual, 'Jangan ada tipu menipu'.
2. Tipu menipu dalam transaksi umumnya dapat terjadi pada beberapa hal ;
#1. Pada kualitas barang, yaitu seperti menjual barang kualitas rendah dengan iklan dan promosi bahwa barang tsb berkualitas tinggi, atau juga seperti menyembunyikan cacat barang yg diperjualbelikan, dsb.
#2. Pada kuantitas barang, yaitu dengan mengurangi takaran dan timbangan barang yg diperjualbelikan, sehingga merugikan pembeli.
#3. Pada harga barang, yaitu dengan meninggikan harga barang jauh di atas harga pasaran, atau seperti memberikan diskon besar, padahal harganya sudah ditinggikan terlebih dahulu supaya mengelabui pembeli.
#4. Pada proses jual beli, seperti menjebak calon pembeli yang semula tidak ingin membeli, hingga akhirnya 'terpaksa' membeli barang tersebut, atau seperti jual beli barang fiktif (bodong), jual beli barang sengketa, dsb yg mengakibatkan pembeli tdk bisa menguasai barang tersebut..
3. Bahwa menipu dalam jual beli, hukumnya adalah haram dan pelakunya berdosa serta tentu menghilangkan keberkahan dalam jual belinya. Bahkan dalam sebuah hadits diriwayatkan ketika melewati pedagang makanan, Nabi Saw memasukkan tangan beliau ke tumpukan makanan yg dijual oleh pedagang, namun beliau mendapati tangan beliau basah di dalam, padahal di permukaan makanan tsb kering. Lalu Nabi Saw bersabda kepada pedagang tsb, 'Apa ini wahai pedagang?  Sesungguhnya orang yang berbuat curang kepada kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.' (HR. Muslim)

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad 127. Promosi dan Jual Beli Di Dalam Masjid

Renungan Hadits 127
Promosi dan Jual Beli Di Dalam Masjid

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِد،ِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَك (رواه الترمذي)
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Jika kalian melihat orang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah; Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada daganganmu." (HR. Tirmidzi, hadits no. 1242)

Hikmah Hadits
1. Bahwa pada dasarnya, jual beli merupakan muamalah yang mubah dan halal, bahkan kehalalannya diredaksikan dalam Al-Qur'an; "..dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.."(QS. Al-Baqarah : 275).. Namun dalam jual beli, terdapat hukum dan aturan yang harus dipatuhi dan ditaati oleh setiap muslim. Dan diantara aturan tersebut adalah larangan jual beli di dalam masjid, sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas.
2. Berdasarkan hadits-hadits di atas, jumhur ulama mengatakan, bahwa hukum jual beli di dalam masjid adalah haram. Jika dilakukan, maka pelakunya dan orang yang terlibat di dalamnya berdosa. Karena masjid merupakan tempat yang suci dan digunakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Maka tidak patut mencari keuntungan duniawi atau mengejar materi di dalam masjid. Keharaman jual beli di dalam masjid termasuk juga pada keharaman melakukan proses promosinya. Karena promosi merupakan bagian dari proses jual beli.
3. Terkadang terdapat beberapa kasus yang terjadi dan sebenarnya tidak boleh dilakukan di dalam masjid, diantaranya adalah sbb ;
#1. Menjual buku dengan cover bedah buku di dalam masjid. Lalu terdapat ajakan utk membeli buku tsb dgn menyebutkan harga bukunya. Bedah buku di Masjid pada dasarnya boleh, namun menawarkan dan mempromosikannya yg tdk boleh.
#2. Ceramah ttg fiqh qurban di dalam masjid, disertai dgn tips dan tatacara memilih hewan kurban yg syar'i, lalu disertai dgn promosi jualan hewan qurban di dalam masjid, karena mungkin penceramahnya adalah pedagang hewan kurban. Ceramah ttg cara memilih hewan kurban tentu boleh, menawarkan dan mempromosikannya yg tidak boleh.
#3. Ceramah ekonomi syariah di dalam masjid, lalu si penceramah menawarkan "produk2 perusahaannya" kepada para jamaah di dalam masjid. Ceramah ekonomi syariahnya boleh, namun menawarkan produk perusahaannya yg tidak boleh.
#4. Ceramah ttg manasik haji dan umrah di dalam masjid, namun disertai dengan ajakan kepada jamaah masjid utk ikut haji atau umrah bersamanya dengan paket dan harga sekian. Ceramah ttg manasik haji dan umrah di masjid tentu boleh, namun menawarkan paket haji umrahnya yg tidak boleh.
4. Selain hal2 di atas tentu masih banyak bentuk2 lainnya yg terkadang tanpa sadar kita lakukan  di dalam masjid, yang hendaknya kita hindarkan sebisa mungkin. Jika tidak maka bisa jadi kita berdosa krn melanggar larangan Allah Swt, bahkan Nabi Saw bersabda, semoga Allah tidak memberi keuntungan pada perdaganganmu." Na"udzu billahi min dzalik.

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

;;