Rehad 177. Ketika Seorang Muslim Melakukan Safar

Rehad (Renungan Hadits) 177
Ketika Seorang Muslim Melakukan Safar

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنْ الْعَذَاب،ِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ نَوْمَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَه،ُ فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ وَجْهِهِ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Safar (perjalanan) itu adalah setengah dari siksaan, sebab dengan safar tersebut seseorang terhalang dari tidurnya, makannya dan minumnya. Oleh karena itu jika urusan kalian telah selesai (dalam musafir), maka hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya." (HR. Muslim, hadits no 3554).

Hikmah Hadits ;
1. Bahwa secara bahasa, musafir adalah isim fa’il (pelaku) dari kata safar atau berpergian. Atau musafir adalah seseorang yang pergi dari satu titik, ke titik lainnya. Sedangkan secara istilah, musafir adalah seseorang yang keluar dari negerinya untuk menuju ke suatu tempat tertentu yang perjalanan itu menempuh jarak tertentu. Dalam beberapa kitab fiqh disebutkan beberapa persyaratan agar seseorang disebut melakukan safar (musafir), yaitu ; (1) Keluar dari negrinya (kota atau wilayahnya). (2).
Memiliki tujuan tertentu. (3) Memiliki jarak tertentu. Jumhur ulama mengatakan bahwa jarak tertentu yang dikatakan sebagai musafir adalah 4 burud. Dan 4 (sekitar 89 km menurut Maliki atau 81 km menurut Syafii). (4). Tidak dalam rangka maksiat kepada Allah SWT.
2. Bahwa safar (perjalanan) sebagaimana ketentuan di atas, adalah rangkaian perjalanan yang dilakukan oleh seseorang yang dapat menyebabkan tidak terpenuhinya secara baik hak-hak seseorang, seperti hak istirahat, hak makan, dan hak minum seseorang. Bahkan aktivitas lainnya pun dapat terganggu, seperti pekerjaan dan kewajiban-kewajiban lainnya. Itulah sebabnya Nabi Saw bersabda dalam hadits di atas bahwa safar diibaratkan seperti bagian dari siksaan, karena ketidaknyamanan yg akan dirasakan oleh para musafir. Dan oleh karenanya, apabila hajat (tujuan) dalam safar tersebut telah terpenuhi, maka Nabi Saw menganjurkan para musafir untuk segera kembali kepada keluarganya.
3. Maka oleh karenanya, Islam memberikan banyak keringanan kepada para musafir, diantaranya adalah diperbolehkannya hal-hal sebagai berikut ;
#1. Menjama' dan mengqashar shalat.
#2. Tidak wajib shalat jumat, melainkan cukup dgn melaksanakan shalat dzuhur.
#3. Diperbolehkan tidak berpuasa Ramadhan, dan menggantinya di hari yang lain.
#4. Dianjurkan untuk tidak berpuasa sunnah dalam safar.
#5. Mengusap khuf atau sepatu semala tiga hari tiga malam.

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

Rehad (Renungan Hadits) 176
Dan Mereka Yang Selalu Istiqamahpun Akan Selalu Hadir Diantara Umat

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ (رواه مسلم)
Dari Tsauban ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Senantiasa akan ada segolongan dari ummatku yang selalu istiqamah tegak membela kebenaran. Orang-orang yang merendahkan mereka tidak akan pernah membahayakan mereka, hingga hari Kiamat terjadi dan mereka tetap akan seperti itu." (HR. Muslim, hadits no 3544)

Hikmah Hadits ;
1. Bahwa di tengah zaman yang diwarnai dengan hedonisme dan pragmatisme serta dihantam gelombang egoisme dan materialisme, ternyata di sana akan selalu ada sekelompok umat yang senantiasa istiqamah berdiri tegak membela kebenaran. Bagi mereka, haq adalah haq dan bathil adalah bathil, tanpa bias dan tanpa retorika serta tanpa pemutarbalikkan logika. Merekapun tiada gentar dan tiada pudar menghadapi fitnah, cacian, cercaan, hantaman serta celaan dari para pencela. Bagi mereka keridhaan Allah Swt adalah segalanya, puncak orientasinya dan obsesi terbesar dalam hidupnya.
2. Demikianlah kehendak Allah Swt yang akan selalu mengiringi dan mengawal perjalanan ummat Islam, hingga mengantarkan ummat ini kelak pada titik puncaknya, yaitu menjadi ummat yang mewarnai dunia dengan nilai-nilai keluhuran dan kemuliaan serta mengantarkan manusia pada tingkat kebaikan dan kebahagiaan hakiki dalam menapaki kehidupannya. Itulah esensi dari sabda Nabi Saw di atas, sekaligus menjadi penguat firman Allah Swt, "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur : 55)
3. Maka alangkah mulianya, suatu pribadi atau suatu kelompok yang kemudian turut andil dalam memperjuangkan kehormatan ummat, serta isitqmah berada di atas kebenaran, kendatipun cacian, cercaan, fitnah, hantaman, dan segala bentuk kesewenangan menerpa dan menghantamnya. Ia tetap berdiri lantang membawa panji dan bendera Al-Qur'an, hingga ummat ini mendapatkan kemuliaan. Ya Rab... jadikanlah kami semua termasuk ke dalam golongan yang demikian, hingga kelak kami bertemu dengan-Mu sedangkan kami senantiasa istiqamah berada di jalan-Mu...

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan Lc, M.Ag

Rehad (Renungan Hadits) 175
Dan Sekedar Menyingkirkan Duri Dari Jalan Pun, Membuahkan Ampunan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Suatu ketika ada seorang laki-laki yang sedang berjalan dan menemukan ranting berduri di tengah jalan. Lalu kemudian dia menyingkirkan ranting tersebut. Maka Allah Swt pun senang kepadanya lalu Allah mengampuni segala dosa-dosanya." (HR. Muslim, hadits no. 3538)

Hikmah Hadits ;
1. Bahwa setiap amalan yang dilakukan oleh seseorang, pasti akan mendapatkan balasan dari Allah Swt, sekecil apapun amalan tersebut. Allah Swt berfirman, "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar biji dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Az-Zalzalah : 7 - 8). Maka hendaknya setiap kita selalu berusaha melakukan segala amal kebaikan, sekecil apapun amalan tsb. Karena walaupun kecil pasti memiliki nilai yg mulia di sisi Allah Swt.
2. Seperti sabda Nabi Saw dalam hadits di atas, dimana ada seseorang yg sedang berjalan lalu ia menemukan ranting berduri yang melintang di tengah jalan. Lantas ia menyingkirkannya dengan maksud supaya tidak menghalangi atau mencelakai orang lain. Dan ternyata perbuatannya tersebut membuat Allah ridha tethadap dirinya dan iapun  mendapatkan ampunan dosa dari Allah Swt. Masya Allah.. betapa indahnya beramal dalam Islam. Kendatipun kecil dan ringan, ternyata bisa membuahkan keridhaan Allah dan menyebabkannya mendapatkan ampunan.
3. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa ada seorang wanita tua yg selalu membersihkan masjid dan memberikan wewangian sebelum tiba waktu shalat. Namun dalam beberapa hari Nabi Saw tidak melihatnya lalu beliau bertanya kepada sahabatnya, "dimanakah si ibu tsb?" Lalu mereka memberitahukannya bahwa ia sdh meninggal dunia, seolah mereka menganggap remeh ibu tsb. Maka Nabi Saw pun kecewa karena baru hari itu diberitahu perihal kematiannya. Lalu Nabi pergi ke kuburannya dan meshalatkannya. Masya Allah betapa suatu amalan kecil ternyata memiliki keutamaan yang sangat mulia.

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

;;