Marhaban Ya Ramadhan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-baqarah : 183 – 184)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa puasa merupakan kewajiban bagi setiap orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, kaya maupun miskin yang telah masuk dalam kategori mukallaf, yaitu pria yang telah baligh ataupun wanita yang telah haid, sehat, berakal dan muqim (tidak musafir). Kewajiban berpuasa kepada orang yang beriman ini sangat jelas tersurat dalam QS. Al-Baqarah : 183 di atas, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa…”. Bahkan puasa Ramadhan bukan hanya sebuah kewajiban, melainkan merupakan rukun Islam yang ke empat, dimana siapapun yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, bisa dihukumi sebagai orang yang kafir atau ingkar dari agama Islam. Dalam sebuah hadits disebutkan :
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ - متفق عليه
Dari Abdullah bin Umar ra, dari ayahnya (Umar bin Khattab ra) bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Islam itu ditegakkan di atas lima perkara; mempersaksikan bahwasanya tiada ilah selain Allah SWT dan bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.” (Muttafaqun Alaih)

2. Bahwa puasa Ramadhan diwajibkan oleh Allah SWT pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriah. Ini berarti bahwa Rasulullah SAW berkesempatan untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sebanyak 9 kali. Dan sebelum adanya perintah untuk melaksankan ibadah puasa Ramadhan, Rasulullah SAW memerintahkan untuk berpuasa Asyura’. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan, “ketika sampai di Madinah, Rasulullah SAW mendapati orang Yahudi berpuasa pada Hari ‘Asyura, karena Allah telah menyelamatkan Nabi Musa pada hari itu. Nabi lalu bersabda, “Aku lebih berhak terhadap Nabi Musa.” Kemudian beliau berpuasa pada hari tersebut dan mengajak kaum muslimin untuk berpuasa juga”. Ketika diwajibkan puasa pada bulan Ramadhan, puasa ‘Asyura menjadi sunnah. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah, beliau mengatakan, “Bahwa Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa pada Hari ‘Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan. Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, maka bagi yang mau berpuasa asyura boleh berpuasa dan yang tidak mau boleh tidak berpuasa.” Dari Aisyah ra , beliau juga mengatakan, “Hari ‘Asyura adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy di masa Jahiliyah. Ketika Islam datang, Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa mau berpuasa, silahkan berpuasa; dan barang siapa tidak mau, silakan meninggalkannya.” (Hadits riwayat Muslim).

3. Demikian pentingnya puasa Ramadhan bagi setiap muslim, Allah SWT memberikan benefit dan pahala khusus bagi mereka yang berpuasa. Diantara bentuknya adalah bahwa Allah menyediakan satu pintu khusus di surga yang disebut dengan pintu Ar-Rayan, yang disediakan khusus bagi orang-orang yang berpuasa. Dalam sebuah riwayat disebutkan :
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لَا يَدْخُلُهُ إِلَّا الصَّائِمُونَ - رواه البخاري
Dari Sahal bin Saad ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Di surga ada delapan pintu. Salah satunya pintu surga disebut dengan Ar-Rayyan, yang tidak akan dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa" (HR Bukhari)

4. Bersih diri, bersih hati, bersih rizki dan bersih investasi, merupakan kunci meraih kemuliaan bulan Ramadhan. Karena ternyata tidak sedikit orang yang melewati bulan Ramadhan, namun tidak ada perubahan berarti dalam kehidupannya. Sebab, bagaimana mungkin seseorang akan meraih kemuliaan di bulan Ramadhan, apabila dirinya masih “kotor”, hatinya masih mendengki, rizkinya masih syubhat bahkan haram dan investasinya masih ribawi. Allah SWT tidak akan menerima amalan seorang hamba kecuali yang baik-baik saja. Dalam sebuah riwayat disebutkan :
)عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ - رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kepada kaum mu’minin sebagaimana yang Allah perintahkan kepada para Rasul utusan-Nya. Allah berfirman, ‘Wahai para Rasul, makanlah dari yang baik-baik dan berbuatlah amal shaleh, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” Allah SWT juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman makanlah dari yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepada kalian..” Kemudian Rasulullah SAW menceritakan tentang seorang laki-laki yang panjang perjalanannya, rambutnya masai dan pakaiannya lusuh kemudian ia menengadahkan tangannya ke atas seraya berdoa, ‘Ya Allah (terimalah ibadahku), Ya Allah (kabulkan permintaanku)’, sementara makanannya haram, pakaiannya haram, minumannya haram dan ia hidup dengan rizki yang haram. Maka bagiamakah orang yang seperti ini akan dikabulkan? (HR. Muslim)

5. Maka hendaknya kita mulai puasa Ramadhan kita di tahun 1432 H ini dengan kebersihan diri, kebersihan hati, kebersihan rizki dan kebersihan investasi.
  • a. Kebersihan diri relatif mudah dan telah banyak dilakukan oleh kaum muslimin, seperti menyambut Ramadhan dengan melakukan mandi besar, membersihkan kotoran-kotoran yang melekat di badan, menggunting kuku, mencukur bulu kemaluan (istihdad), mencabut bulu pada ketiak, dsb. Dalam sebuah riwayat, Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Fitrah (kebersihan) itu ada lima; khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, menggunting kuku dan mencabut bulu di ketiak’ (HR. Bukhari)
  • b. Kebersihan hati dapat dilakukan dengan memperbanyak taubat kepada Allah SWT atas segala dosa dan khilaf, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. Tidak ada salahnya pula dengan saling meminta maaf kepada orang tua, saudara, handai tolan, tetangga, rekan kerja dsb, agar ketika memasuki bulan suci, hati kita pun telah suci pula.
  • c. Sedangkan kebersihan rizki artinya bahwa kita harus memastikan bahwa seluruh rizki yang dapatkan adalah rizki yang halal dan bersumber dari sumber-sumber yang halal pula. Kita harus memastikan bahwa setiap lembar uang yang kita terima, telah benar-benar kita yakini kehalalannya. Karena apabila rizki tidak halal, tentunya Allah SWT akan enggan menerima amal ibadah kita, sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas ‘Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan Allah tidak akan menerima kecuali dari yang baik-baik…’ (HR. Muslim)
  • d. Adapun kebersihan investasi, artinya bahwa di bulan Ramadhan yang suci ini, tidak seharusnya kaum muslimin masih berinteraksi dengan investasi, asuransi ataupun melakukan transaksi yang tidak sesuai dengan syar’i. Misalnya di bulan Ramadhan yang penuh ampunan, namun justru bermuamalah dengan riba di perbankan konvensional, berasuransi dengan asuransi konvensional, menggunakan kartu kredit konvensional, dsb. Penggunaan hal-hal haram seperti ini akan berdampak pada “tidak diterimanya” amalan dan doa kita, sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas; “…sementara makanannya haram, pakaiannya haram, minumannya haram dan ia hidup dengan rizki yang haram. Maka bagiamakah orang yang seperti ini akan dikabulkan? (HR. Muslim)

6. Oleh karenanya, patut bagi kita untuk berusaha semampu kita agar meraih kemuliaan di Ramadhan tahun ini. Karena bisa jadi, Ramadhan tahun 1432 H ini merupakan Ramadhan terakhir bagi kita. Tiada seorang pun di dunia ini yang mengetahui, apa yang akan terjadi esok hari? Dan bahkan tiada seorang pun yang tahu, di negeri mana ia nanti akan kembali (menghadap Allah SWT)? Allah SWT berfirman :
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman 34)

Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Ketika Keberkahan Hilang

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raf : 96)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :

1. Bahwa “keimanan” dan “ketakwaan” merupakan modal utama untuk mendatangkan keberkahan, baik keberkahan dalam skala individu (personal), maupun keberkahan dalam skala kolektif. Pengertian dan makna iman lebih menitikberatkan pada sisi “sesuatu yang tertanam di dalam diri setiap insan; berupa keyakinan kepada Allah, yakin akan karunia-Nya, yakin akan surga dan neraka-Nya, dsb, lalu kemudian diikrarkan dengan lisan, serta diamalkan oleh seluruh anggota badan”. Sedangkan takwa berasal dari kata “waqa” yang berarti menjaga dan memelihara. Para ulama mendifinisikan takwa dengan “menjauhkan diri dari kemurkaan, azab, teguran dan ancaman Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya serta menjauhi hal-hal yang dapat mengarahkannya pada larangan-larangan Allah SWT.”

2. Iman dan takwa merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Syekh Dr. Abdullah Nasih Ulwan (1996 : 6 – 7) mengemukakan : “taqwa lahir sebagai konsekwensi logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah; merasa takut terhadap murka dan adzab-Nya dan selalu berharap atas limpahan karunia dan maghfirah-Nya.” Dari sini dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa tidak mungkin ketaqwaan muncul tanpa adanya keimanan kepada Allah SWT. Pernah suatu ketika Umar bin Khattab ra bertanya kepada Ubai bin Ka’ab ra tentang taqwa. Ubai menjawab, ‘Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh duri?’ Umar menjawab, ‘ya!’. Ubai bertanya lagi, ‘Apa yang anda lakukan saat itu?’ Umar menjawab, ‘ Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati.’ Ubai berkata lagi, ‘Itulah taqwa.” Berpijak dari jawaban Ubai di atas, Sayid Qutub mengemukakan, ‘Itulah taqwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan… Jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, haparan semu atas segala sesuatu yang tidak bisa diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti… dan masih banyak duri-duri yang lainnya….”

3. Apabila iman dan takwa terangkai menjadi satu kesatuan dalam diri seorang muslim, atau dalam jiwa suatu institusi atau suatu bangsa, maka Allah SWT akan membukakan pintu-pintu keberkahan-Nya terhadap mereka. Bentuk keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT diantaranya adalah seperti memiliki orientasi dan motivasi hanya untuk mencari ridha Allah SWT, taat dan patuh terhadap syariah dalam arti menjalani kehidupannya benar-benar sesuai dengan aturan dan hukum-hukum Allah SWT, atau dalam menjalankan bisnis (bila perusahaan) sesuai dengan ketetapan syariat dan fatwa para ulama, atau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara membuat undang-undang dan peraturan yang mengarahkan manusia untuk semakin dekat dan taat kepada Allah SWT. Apabila telah berjalan seperti itu, maka Allah SWT akan membukakan pintu-pintu keberkahan-Nya dari segala penjuru; dari langit yaitu segala sesuatu yang ada di langit dan Allah turunkan dari langit maupun bumi, yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam perut bumi.

4. Keberkahan memiliki makna yang sangat luas. Namun apabila disimpulkan, makna keberkahan akan bermuara pada dua makna besar, yaitu yang pertama tumbuh dan bertambah, kedua ; kebaikan yang berkesinambungan. Seseorang yang berkah hidupnya, insya Allah akan senantiasa tumbuh dan bertambah segala nikmat dari Allah SWT, baik nikmat lahir maupun nikmat bathin. Di samping itu, ia juga akan mendapatkan kebaikan yang berkesinambungan, seperti kesehatan, keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah, dicintai dan disayangi masyarakatnya, dihargai dan dihormati, didengarkan ucapan dan nasehatnya, dsb. Walaupun yang perlu digarisbawahi juga adalah bahwa kebaikan dan perkembangan tersebut tidak boleh hanya dipahami dalam wujud yang riil, yaitu jumlah harta yang senantiasa bertambah dan berlipat ganda. Kebaikan dan perkembangan harta, dapat saja terwujud dengan berlipat gandannya kegunaan harta tersebut, walaupun jumlahnya tidak bertambah banyak atau tidak berlipat ganda. Misalnya, mungkin saja seseorang yang hanya memiliki sedikit dari harta benda, akan tetapi karena harta itu penuh dengan keberkahan, maka ia terhindar dari berbagai mara bahaya, penyakit, dan tenteram hati dan kehidupannya.

5. Sebaliknya jika seseorang, suatu komunitas, sebuah organisasi, satu perusahaan atau suatu bangsa “mendustakan” ayat-ayat Allah SWT, maka Allah SWT akan menimpakan “siksa” yang diakibatkan oleh perbuatan mereka sendiri. Siksa, azab atau peringatan dari Allah SWT tersebut dapat berupa dicabutnya keberkahan. Seorang trainer dan konsultan management pernah mengungkapkan perihal adanya sebuah perusahaan besar yang memiliki karyawan besar, aset besar dan keuntungan besar. Namun anehnya apabila “ditotal” antara keuntungan dengan “pengeluaran”, ternyata tidak seimbang. Perusahaan tersebut memang memiliki keuntungan besar, namun mungkin karena “ketidakberkahannya” sehingga akhirnya justru merugi. Gedungnya mendapatkan musibah; terbakar, kendaraan-kendaraan beratnya banyak yang rusak, alat-alatnya ada yang dicuri, karyawannya banyak yang sakit sehingga perlu biaya pengobatan yang besar dsb. Sehingga jika diakumulasikan, ternyata keuntungan yang besar itu tidak seimbang dengan total kerugian yang dideritanya. Inilah buah dari ketidakberkahan, semoga Allah SWT menghindarkan kita semua dari hal tersebut.

6. Dalam kehidupan, terdapat hikmah yang patut kita petik agar menjadi pelajaran bagi kita semua. Utz Jamil Az-Zaini dalam bukunya Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia (2008 : 40 – 43) menceritakan sebuah kisah yang perlu kita petik hikmahnya, “Pak Deden adalah direktur perusahaan ternama, hidupnya nyaman dan serba kecukupan. Berputra 3 orang dari seorang istri yang jelita. Namun di hari tuanya, Pak Deden merasa galau dengan masa depan putra-putrinya. Ia juga galau karena kehdupannya terasa hambar. Begitu banyak formalitas yang dihadapinya penuh intrik, basa-basi dan minim ketulusan. Selama lebih satu jam ngobrol dengan beliau, saya cenderung menjadi pendengar saja. Sampai pada satu titik obrolan, Pak Deden bertanya pada saya, “Mas, pernahkan Mas Jamil kenal atau bertemu dengan seseorang yang peduli dengan orang lain, yang hidupnya dipenuhi keberuntungan dan berkah?” Mendengar pertanyaan itu, terlintas di kepala satu sosok yang amat saya kenal. “Ada Pak, namanya Pak Didin,” jawab saya. Maka berceritalah saya tentang sosok Pak Didin kepada Pak Deden. “Pak Didin adalah seorang Ustadz. Dari segi usia, hampir sama dengan Pak Deden. Meski sudah lama mengenalnya tapi kesempatan 26 hari bersamanya saat naik haji, semakin menegaskan sosoknya. Pak Didin adalah figur yang sangat peduli dengan orang lain. Ia amat peduli dengan upaya mengentaskan kemiskinan dengan menggunakan dana zakat, infak dan shadaqah (ZIS). Keingingan terbesar beliau adalah mengangkat orang miskin (mustahik) menjadi pembayar zakat (muzaki). Dan untuk mewujudkan keingingannya tersebut, ia menghabiskan banyak waktu untuk menulis buku, melakukan studi, berkeliling Indonesia dan dunia menyadarkan umat tentang pentingnya pengentasan kemiskinan dengan menggunakan dana ZIS. Semua dilakukan tanpa pamrih. Saya yakin itu, karena ia dulu pernah saya tanya soal “tarif” ketika ia memberi ceramah. Ketika itu ia menjawab, “Untuk urusan menyebarkan kebaikan, menebar maslahat dan membagi ilmu, saya takkan pernah pasang tarif sampai kapanpun.” Hidup Pak Didin dipenuhi berkah. Istrinya pastilah istri yang shalehah. Anak-anak mereka berwajah bagus dan cerdas. Anak pertama mendapat beasiswa S3 di Malaysia. Anak kedua menerima beasiswa memperdalam ekonomi syariah di Inggris. Anak ketiga juga mendapat beasiswa besekolah di Pakistan. Sementara anak keempat tak kalah hebatnya, mendapat panggilan beasiswa dari Singapura. Saya dan orang yang pernah bersama belaiu iri melihat kehidupannya. Ilmu agamanya luas. Bacaan Al-Qur’annya fasih. Urusan dunianya lancar. Setiap tahun menunaikan ibadah hai karena menjadi pembimbing. Kerap mendapat undangan berbicara ke mancanegara untuk berbagi ilmu. Yang lebih menakjubkan walaupun menjadi tokoh nasional, kehidupannya tetap bersahaja, tenang, dan ramah bersahabat kepada siapapun. Belum selesai saya bercerita, Pak Deden sudah memotong, “Andai saya dulu bisa memilih. Saya lebih senang menjadi Pak Didin bukan Deden. Kehidupan dunia, bisa dia taklukkan dan insya Allah kebahagiaan akhirat pun sudah menunggunya.” Sambil berjabat tangan meninggalkan tempat, kami sepakat bahwa untuk menggapai keberuntungan dan berkah hidup kita barus banyak berbagi. Banyak menebar energi positif (epos) dan banyak berempati.”

7. Maka, untuk menghindarkan diri dari ketidakberkahan, kita perlu memupuk keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Kita perlu membenahi kembali motivasi dan orientasi serta obsesi dalam hidup; jangan semata-mata mengejar materi dan “profit” duniawi semata, yang terkadang untuk mengejarnya hingga “rela” dan “tega” mengabaikan dan melanggar syariah Allah, “mengabaikan” para ulama, menghalalkan segala cara, dsb. Sebab, apabila keberkahan telah hilang, maka tiada kebahagiaan yang akan didapatkan, kendatipun mungkin banyak memiliki harta dan uang. Sebaliknya tanpa keberkahan kehidupan akan menjadi tidak nyaman dan tidak tentram, dibenci dan dihindari semua orang, serta diliputi rasa ketakutan dan kekhawatiran. Na’udzubillah min dzalik..

Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Ketika Pintu Dunia Terbuka (2)

عَنْ كَعْبِ بْنِ عِيَاضٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ - رواه الترمذي
Dari Ka’ab bin Iyadh ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah. Dan fitnah umatku adalah fitnah harta.” (HR. Turmudzi, beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahih gharib, kami mengetahuinya dari hadits Mu’awiyah bin Shaleh)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :

1. Bahwa setiap umat akan memiliki ujian dan cobaannya masing-masing. Jika dahulu Bani Isra’il diuji dengan “fitnah wanita” hingga kebanyakan mereka terperdaya, maka umat Nabi Muhammad SAW akan diuji dengan “fitnah harta”, dan ternyata tidak sedikit dari kita yang terperdaya dengan fitnah harta seperti ini. Peringatan Rasulullah SAW seperti ini adalah untuk menjadi pelajaran bagi kita semua, agar tidak terjerumus pada kehancuran dan kehinaan. Dalam sebuah hadits disebutkan :
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ - رواه مسلم
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Ra, bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya dunia itu adalah manis rasanya dan hijau (enak dipandang mata). Dan sesungguhnya Allah SWT menjadikan kalian khalifah di dalamnya, maka Allah SWT akan melihat pada amal kalian. Maka bertakwalah kamu dari fitnah dunia dan bertakwalah kamu dari rayuan wanita, karena sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah dalam fitnah wanita.” (HR. Muslim)

2. Namun pada hakekatnya harta dan wanita (baca ; lawan jenis) adalah ujian dan cobaan bagi kita semua. Bahkan sebagian ulama mengatakan cobaan dan ujian itu tidak hanya terbatas pada harta dan wanita (baca ; lawan jenis), namun mencakup “5 Ta”, yaitu #1. Harta, #2. Tahta, #3. Wanita (lawan jenis), #4. Kata dan #5. Cinta. Kesemuanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban-Nya. #1. Harta, #2. Tahta dan #3. Wanita adalah sesuatu yang sudah jelas dan banyak diketahui oleh kebanyakan kita. Sedangkan “#4. Kata” adalah bermakna eksistensi, pujian, pengakuan dan penghargaan. Karena pada hakekatnya setiap orang ingin eksistensinya diakui, ingin mendapatkan pujian, ingin mendapatkan pengakuan dan penghargaan. Adapun “#5. Cinta” adalah bahwa setiap manusia selalu menginginkan “dicintai”, disayangi dan “dielu-elukan” oleh semua orang. Semua orang ingin dicintai, dan semua orang tidak ingin dibenci. Oleh karenanya, banyak manusia yang mengejar “5 Ta” ini. Namun untuk mencapai itu semua, terkadang manusia meraihnya dengan menghalalkan segala cara; korupsi, menipu, menebar fitnah, memutarbalikkan fakta, membuat makar dan skenario, bahkan mengadu domba. Sebagai orang yang beriman, hendaknya kita semua berusaha menghindarkan diri dari sifat seperti itu. Karena orang yang tamak dan sangat ambisius terhadap dunia, bisa jadi akan sangat berbahaya dan akan merusak agamanya. Dalam sebuah riwayat disebutkan :
عَنْ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ - رواه الترمذي وقَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Dari Ka’ab bin Malik ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah-tengah satu kawanan kambing tidaklah lebih jahat daripada seseorang yang berambisi terhadap harta dan jabatan. Ambisi itu akan merusak agamanya.” (HR. Turmudzi, ia berkata “Hadits ini Hasan Sahih”.)

3. Bahwa meraih dunia dengan cara yang tidak benar (baca ; bathil) adalah dilarang syariah, dan pelakunya akan mendapatkan “siksa” baik di dunia terlebih-lebih di akhirat. Terdapat kisah menarik yang bisa dipetik dan diambil pelajaran, perihal seorang “pejabat” di sebuah perusahaan ternama yang melakukan korupsi, dan Allah SWT membalasnya di dunia sebelum tentunya ia akan di siksa di akhirat kelak. Dikisahkan oleh seorang Ustadz yang juga sebagai seorang trainer, yaitu Utz. Jamil Azzaini, “Kisah ini berawal dari kehadiran saya memenuhi undangan perusahaan ternama untuk memberikan "pencerahan". Dalam kesempatan itu saya menyampaikan materi berkaitan dengan Hukum Kekekalan Energi. Saya katakan bahwa hukum itu dan semua agama menyatakan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas setimpal kepada kita di dunia. Bila kita mengeluarkan energi positif atau kebaikan, kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita mengeluarkan enegri negatif atau keburukan, yang akan kita dapat adalah keburukan pula. Korupsi adalah perbuatan negatif. Di dunia para pelakunya pasti akan mendapatkan balasan berupakan keburukan pula. Keburukan dapat berupa musibah, penyakit, kehilangan harta benda, ketidakharmonisan rumah tangga, mendekam di penjara, tercoreng nama baiknya, kegelisahan, dan hal-hal negatif lainnya." jelas saya. Ketika sesi tanya jawab, salah seorang pimpinan di perusahaan itu mengkritik pedas pernyataan saya tadi. Walau saya sudah jelaskan dengan argumen-argumen ilmiah dan contoh-contoh dalam kehidupan, dia tetap tak yakin. Sampai kami berpisah, kami masih pada pendapat masing-masing. Tujuh bulan berlalu, sang pimpinan perusahaan itu tiba-tiba menelpon saya. "Pak Jamil, saya ingin bertemu Anda," pintanya. Karena penasaran, undangan dari beliu saya prioritaskan. Singkat kata, pada waktu dan tempat yang telah disepakati, kami bertemu. Rupanya beliau tiba lebih dulu. Dia tiba-tiba saja menyambut saya dengan pelukan erat. Cukup lama beliau memeluk saya. "Maafkan saya Pak Jamil. Maafkan saya," ucapnya sambil terisak dan terus memeluk saya. Karena masih bingung dengan kejadian ini, saya diam saja. Setelah kami duduk, beliau membuka percakapan. "Saya sekarang yakin dengan apa yang Pak Jamil dulu katakan. Kalau kita mengeluarkan energi positif, kita akan mendapat kebaikan. Jika kita mengeluarkan energi negatif, pasti kita akan mendapat keburukan," ujarnya. "Bagaiamana ceritanya, kok Bapak jadi yakin?" tanya saya penasaran. "Selama saya menjadi pimpinan di perusahaan itu, saya menerima uang yang bukan menjadi hak saya. Semuanya saya catat. Jumlahnya lima ratus dua puluh enam juta rupiah," katanya. Sembari menarik nafas panjang beliau melanjutkan bercerita. Kali ini tentang anaknya. "Anak saya bersekolah di Australia. Karena pengaruh pergaulan, dia terkena narkoba. Sudah saya obati dan sembuh. Namun, ketika liburan dia pergi ke Amerika dan Kanada. Tidak disangka, di sana dia bertemu temannya sesama pengguna narkoba ketika mereka berada di Australia. Anak saya sebenarnya menolak menggunakan narkoba lagi. Namun, dia dipaksa dan akhirnya anak saya kambuh lagi, bahkan semakin parah, Pak." Selama bercerita, beliau berkali-kali mengusap pipinya yang basah oleh air mata yang terus mengalir tak henti-henti. "Pak Jamil tahu berapa biaya pengotaban narkoba dan penyakit anak saya?' Tanpa menunggu jawaba saya, lelaki separuh baya itu berkara lirih, "Biayanya lima ratus dua puluh enam juta rupiah. Sama persis dengan uang kotor yang saya terima, Pak!" Beliau tertunduk dan menggeleng-gelengkan kepala disertai isak tangis yang makin keras. "Uang korupsi itu telah merusak anak saya, Pak. Saya menyesal. Saya bukan orang tua baik. Saya telah merusak anak saya, Pak!" Saya peluk erat lelaki itu. Saya biarkan airmatanya tumpah. Sesenggukannya berubah menjadi tangis sungguhan. Dengan terbata dia berkata, "Tak ada kata terlambat untuk bertaubat kan, Pak? Mengapa untuk sadar, saya harus menunggu anak saya menjadi korban? Saya telah merusak anak saya Pak... saya telah merusak anak saya..." (Dikutip dari buku Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia, Jamil Azzaini hal 133 – 136).

4. Bahwa hakekat kehidupan dunia adalah ibarat tanaman atau ladang yang menghijau dan mengagumkan para petani, namun akhirnya semua akan menguning dan menjadi sirna. Perumpamaan ini Allah SWT firmankan dalam Al-Qur’an :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid : 29)

5. Nah, oleh karenanya hendaknya kita semua tidak silau dengan kehidupan dunia yang terkadang menggoda dan mempesona. Apabila kita hendak meraih kehidupan dunia, maka raihlah karnuia Allah di dunia ini, baik itu harta, tahta, wanita (lawan jenis), kata dan juga cinta dengan cara dan jalan yang baik dan halal, agar benar-benar kita semua kelak akan mendapatkan jannah dan ridha-Nya. Dan jangan sampai, hanya karena mengejar fatamorgana dunia yang fana dan sementara ini, kita menempuh cara yang kotor dan tidak benar yang bahkan dapat mengakibatkan kita semua bisa terjerembab pada murka dan azab-Nya. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai obsesi terbesar dalam hidup kami dan tujuan utama dalam langkah kami…

Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Ketika Pintu Dunia Terbuka

عَنْ عَمْرَو بْنِ عَوْفٍ اْلأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ - رواه البخاري
Dari Amru bin Auf Al-Anshari ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan terjadi pada kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah dibukakannya pintu-pintu dunia kepada kalian sebagaimana dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba terhadapnya sebagaimana mereka berlomba-lomba terhadap dunia, kemudia kalian akan dihancurkan, sebagaimana dahulu mereka dihancurkan.” (HR. Bukhari)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :

1. Bahwa seharusnya setiap muslim berjuang fi sabilillah hanya mengharap keridhaan Allah SWT. Dan tidak seyogianya seorang muslim hanya untuk mencari kehidupan dunia semata. Rasulullah SAW memberikan contoh keteguhan memegang prinsip dalam da’wah, tidak luntur idealismenya dengan harta, tahta, wanita, kata dan cinta. Ketika para pembesar Quraisy datang ke paman beliau Abu Thalib, meminta agar keponakannya yaitu Nabi Muhammad SAW meninggalkan da’wahnya dengan konpensasi harta yang banyak, yang akan menjadikannya orang terkaya di Mekah. Atau istri yang cantik, yang akan menjadikannya orang yang paling cantik istrinya di Mekah. Atau bahkan akan di angkat menjadi “Raja”, sehingga menjadikannya penguasa di Mekah. Namun dengan tegas, Rasulullah SAW mengatakan "Wahai Paman, Demi Allah, kalau pun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah), sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa, pastilah tidak akan aku meninggalkannya.”

2. Bahwa riwayat yang mengatakan bahwa “hampir-hampir kefakiran itu akan membawa pada kekufuran” adalah dha’if menurut para ulama. Riwayat tersebut nashnya adalah sebagai berikut:
كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا
Hampir-hampir kafakiran itu akan mengantarkan pada kekufuran
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, juga oleh Imam Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, juga oleh Imam At-Thabari dalam Al-Mu’jam Al-Ausathnya. Namun riwayat tersebut didha’ifkan oleh banyak ulama, diantaranya oleh Syekh Al-Bani dalam Silsilah Al-Ahadits Ad-Dha’ifah dan juga oleh para Imam-Imam hadits lainnya. Karena merupakan hadits dha’if, bahkan termasuk dalam kategori dha’if yang berat, maka riwayat di atas tidak dapat dijadikan sandaran amal. Wallahu A’lam.

3. Kendatipun demikian, bukan berarti bahwa kita harus pasrah dan membiarkan umat Islam hidup dalam kefakiran. Umat Islam harus berusaha dengan giat untuk menjadi orang-orang yang berdaya dan memiliki kekuatan ekonomi yang baik. Bukankah Al-Qur’an dan Sunnah memerintahkan kita untuk menjadi orang-orang yang berdaya dan menjadi muzakki (orang yang mengeluarkan zakat)? Rasulullah SAW bahkan mengajarkan sebuah doa, agar kita semua terhindar dari kekufuran dan juga kefakiran. Berikut adalah doa yang dianjurkan
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, sesungguhnya tiada tuhan selain Engkau.

4. Bahwa “dunia” merupakan godaan yang dapat saja membutakan setiap orang. Maka hendaknya setiap kita berusaha untuk tidak terbutakan dan tidak tergoda oleh kemilaunya dunia. Allah SWT mengingatkan kita semua :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ ﴿٥﴾ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴿٦﴾
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir : 5 - 6)

5. Sejarah mencatat, betapa banyaknya orang tergoda dengan dunia yang kemudian relah menggadaikan “idealismenya”. Diantara contohnya adalah bagaimana silaunya orang Yahudi terhadap dunia, namun ternyata dunia justru menghinakan mereka. Dalam sebuah riwayat dari Wahab bin Munabbih dikisahkan, “Suatu ketika Nabi Isa as bermaksud musafir ke suatu tempat. Pada saat tersebut, terdapat seorang Yahudi yang juga ingin musafir ke tempat tujuan yang sama dengan Nabi Isa as, lalu ia memohon kepada nabi Isa, agar dirinya dapat pergi musafir bersama nabi Isa. Pada waktu tersebut Nabi Isa membawa bekal satu potong roti, dan Yahudi tadi membawa bekal dua potong roti. Nabi Isa mengatakan, “Engkau boleh musafir bersama dengan saya jika bekalmu dan bekalku digabung menjadi satu lalu dibagi dua.” Yahudi menimpali, “setuju”. Namun ketika ia mengetahui bahwa Nabi Isa hanya membawa bekal satu potong roti, ia menyesal. Di tengah perjalanan ketika Nabi Isa sedang shalat, diam-diam si Yahudi memakan satu dari dua potong roti yang dimilikinya. Dan seusai melaksanakan shalat Nabi Isa membuka perbekalannya bersama Yahudi, lalu Nabi Isa bertanya, “Mana roti yang satu potong lagi?” Yahudi mengatakan, “Saya tidak punya bekal selain satu potong roti ini.” Kemudian Nabi Isa memakan satu potong roti dan Yahudi memakan satu potong roti, lalu mereka melanjutkan perjalanan. Tibalah mereka di sebuah tempat, dimana terdapat sebuah pohon yang cukup rindang. Nabi Isa mengajak untuk beristirahat hingga esok hari. Keesokan harinya, mereka menemukan seorang laki-laki tua yang buta. Nabi Isa berkata pada laki-laki tua ini, “Kalau Allah menyembuhkan penyakitmu melalui perantaraanku apakah engkau akan bersyukur kepada Allah?” Ia menjawab, “tentu”. Lalu Nabi Isa menyentuh kedua matanya dan berdoa kepada Allah, dan dengan izin Allah lelaki tua tersebut dapat melihat kembali. Pada saat itu Nabi Isa berkata kepada Yahudi, “Dengan apa yang engkau lihat tadi, orang yang buta dapat melihat kembali dengan izin Allah melalui perantaraanku, dimanakah roti yang ketiga? Yahudi mengatakan, “Demi Allah, aku tadi hanya punya satu potong roti.” Merekapun melanjutkan perjalanan. Kemudian nabi Isa melihat seekor rusa sedang makan rumput. Dipanggillah rusa tersebut oleh Nabi Isa, lalu disembelih, dan mereka memakannya. Seusai makan Nabi Isa berkata, “Dengan izin Allah, bangkitlah engkau wahai Rusa”. Rusa itupun bangkit seperti sedia kala seolah tidak pernah disembelih sebelumnya. Lalu Nabi Isa berkata pada Yahudi ini, “Dengan apa yang telah engkau lihat, rusa yang disembelih dan dimakan dagingnya dapat hidup kembali, dimanakah roti yang ketiga?” Yahudi berkata, “Demi Allah, aku hanya memakan satu potong roti.” Mereka kembali berjalan, hingga tiba di sebuah sungai yang cukup besar. Nabi Isa memerintahkan Yahudi ini untuk memegang tangannya, lalu mereka berdua berjalan di atas air hingga melewati sungai tersebut. Yahudi berucap, “Subhanallah”. Nabi Isa berkata, “Dengan apa yang telah engkau lihat bahwa kita bisa berjalan di atas air, jujurlah padaku dimanakah roti yang ketiga?”. Yahudi berkata, “Demi Allah tidak ada roti padaku, kecuali satu potong roti yang kemarin kita makan bersama.” Nabi Isa terdiam, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Tibalah mereka di sebuah desa besar yang telah hancur berantakan yang tidak berpenghuni. Di tengah-tengah desa tersebut mereka menemukan tiga bongkah emas yang sangat besar. Kemudian Nabi Isa berkata, “Satu bongkah emas ini untukku, satunya lagi untukmu, dan satu bongkah lagi untuk pemilik roti yang ketiga”. Lalu dengan malu-malu, Yahudi berkata, “Nabi Isa, sebenarnya akulah pemilik roti yang ketiga. Aku memakannya ketika anda sedang shalat.” Nabi Isa berkata, “Emas ini menjadi milikmu semuanya, namun kita berpisah di sini. Tinggallah Yahudi di desa tersebut bersama tiga bongkah besar emasnya, sementara ia tidak memiliki apapun untuk mengangkut emasnya tersebut. Tiba-tibalah lewatlah ke dusun tersebut tiga orang Yahudi lainnya. Dan melihat ada tiga bongkah emas, merekapun membunuh Yahudi ini, dan mengambil alih emasnya dengan perjanjian dibagi rata. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan pergi ke desa terdekat untuk membeli makanan dan mengambil gerobak untuk membawa emas ini.” Sementara yang menunggu emas ini berkata kepada temannya, “Kalau nanti dia sudah datang membawa makanan dan gerobak, kita bunuh saja dia, lalu emasnya kita bagi dua.” Temannya menjawab, “Setuju”. Yahudi yang mengambil gerobak dan membeli makanan ternyata meracuni makanan tersebut, dengan tujuan agar dapat memiliki emasnya keseluruhan seorang diri. Ketika tiba, ia pun dibunuh oleh kedua temannya. Dan ketika mereka berdua memakan makananannya, mereka berdua pun tewas akibat makanan tersebut telah diberi racun. Mereka bertiga mati bergelimpangan di antara tiga bongkah emas yang masih utuh seperti sedia kala. Tidak lama kemudian, Nabi Isa kembali melewati tempat tersebut bersama para Hawariyin dan melihat empat mayat Yahudi mati bergelimpangan dengan kondisi menyedihkan di antara tiga bongkah emasnya. Nabi Isa berkata, “Seperti inilah dunia memperlakukan para “pengerjarnya”, maka hati-hatilah kalian terhadap dunia.” (Dari Kitab Mi’atu Qishah waqishah, Muhammad Amin Al-Jundi, hal. 15 – 16)

Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

;;