Rehad 059. Ciri Orang Beriman Adalah Membenci Kemungkaran

Rehad (Renungan Hadits) 59
Ciri Orang Beriman Adalah Membenci Kemungkaran

عن أبي سَعِيدٍ رضي الله عنه قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ (رواه مسلم)
Dari Abu Said ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaklah ia merubah dengan lisannya. Dan jika ia tidak mampu juga, maka hendaklah ia merubah dengan hatinya. Namun yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim, hadits no 70)

Hikmah Hadits ;
1. Orang yang beriman kepada Allah, dengan iman yang benar, murni dan tulus, ia tidak akan menyukai perbuatan mungkar dan kemaksiatan. Iman di dalam hatinya akan bergejolak dan membuncah menggerakkan akal fikiran dan anggota badannya untuk menentang kemungkaran tersebut.
2. Kategori iman yang paling tinggi adalah #1. keimanan seseorang yang mau merubah kemungkaran dan memaksiatan dengan tangannya. Maksud dengan tangannya adalah dengan kekuatan fisiknya, atau dengan kekuasaan dan wewenang yang dimilikinya, atau juga dengan pengaruhnya. Namun yang perlu dicatat adalah bahwa merubah kemungkaran dengan tangannya ini tidak selalu identik dengan kekerasan, anarkis atau perbuatan yang dapat menimbukkan kerugian material lebih besar. Akan tetapi tetap dilakukan dengan tatacara yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Intinya, merubah kemungkaran dengan tangannya adalah suatu keharusan dan menjadi konsekwensi iman, namun tidak dilakukan dengan cara kemungkaran pula.
3. Nah, jika ia tidak mampu menghilangkan kemungkaran dengan tangannya, maka lisannya lah yang harus merubahnya. Yaitu dengan cara memberikan nasehat yang baik, argumentasi yang baik, tutur kata yang baik, tidak mengeluarkan kata kasar dan atau kotor serta ungkapan yang dapat memberikan pengaruh yang baik.
4. Terakhir adalah hatinya, jika dalam kondisi tangannya tak mampu berbuat, atau lisannya tak mampu berucap terhadap kemungkaran yang terjadi, oleh karena satu dan lain hal atau kondisi, maka batasan terakhir imannya adalah hati yang mengingkari perbuatan mungkar atau maksiat tersebut. Inilah batas terakhir keimanan dalam diri seseorang, yaitu manakala hati masih mengingkari. Adapun jika hati sudah tidak mengingkari, bahkan justru menikmati, jangan-jangan ini pertanda bahwa sudah tiada iman yang teraisa di dalam hatinya, na'udzubillahi min dzalik...

Wallahu A'lam
By. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

0 Comments:

Post a Comment